Opini Publik : Sebuah Pengantar

Opini publik berasal dari  dua kata berbahasa latin, yakni opinari dan publicus. Opinari berarti berpikir atau menduga. Kata opinion sendiri mengandung akar kata onis yang berarti harapan. Kata opinion sendiri dalam bahasa inggris berhubungan erat dengan kata option dan hope, yang berasal dari bahasa latin. optio yang artinya pilihan atau harapan. Sedangkan publicus mempunyai arti, “milik masyarakat luas”. Dengan demikian, hubungan antara kedua kata itu, opini publik, menyangkut hal seperti dugaan, perkiraan, harapan dan pilihan yang dilakukan orang banyak. (Kasali, 1994 : 16)

Opini publik (public opinion) telah menjadi subyek pembahasan penting pada beberapa disiplin ilmu yang memang saling berkait, seperti politik, psikologi, sosiologi, dan komunikasi. Ada disiplin ilmu yang memandang opini publik terutama sebagai suatu sarana pernyataan aspirasi politik masyarakat, ada pula yang melihatnya dari sudut motivasi psikis yang melatarbelakangi opini yang dimaksud, dan ada yang menelitinya dan segi hubungan timbal balik dengan media massa. Dalam kehidupan politik dan kemasyarakatan dalam arti yang luas, opini publik senantiasa menjadi aspek penting dan istimewa bagi pembuat dan pelaksana kebijakan.

Sebagai pembuat kebijakan, suatu lembaga (pemerintah/perusahaan) sering menuai kecaman dari pihak yang menolak kebijakannya. Misalnya, salah satu kebijakan yang mendapat penolakan publik adalah kebijakan kenaikan harga. Terjadi demonstrasi besar-besaran yang tak hanya dilakukan oleh para mahasiswa, bahkan juga ibu-ibu rumah tangga yang memprotes kenaikan harga karena dirasakan menambah berat beban dan biaya kehidupan sehari-hari. Di lain pihak juga muncul para pendukung pemerintah (misal,  Megawati saat itu) yang siap menerima kebijakannya dan berjuang mempertahankan sang pimpinan di kursi kepresidenan.

Ilustrasi di atas menunjukkan adanya opini publik terhadap suatu permasalahan atau fenomena sosial. Terdapat opini baik yang bersifat pro maupun kontra. Berkaitan dengan opini publik, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa opini publik berarti pendapat umum, karena “publik” diartikan sebagai “umum”. Padahal istilah “publik” tidak tepat bila diartikan “umum”, seperti halnya Public Relations yang dipadankan dengan istilah Hubungan Masyarakat, karena “Public” bukanlah “Masyarakat”. Oleh karena itu sebelum membahas mengenai pengertian opini publik harus dikaji terlebih dahulu yang dimaksud dengan “OPINI” dan “PUBLIK”.

1. Pengertian Opini

Opinion atau opini dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pendapat, yakni pandangan seseorang mengenai sesuatu. Jadi, pendapat itu bersifat subjektif. Dengan demikian pendapat merupakan evaluasi atau penilian, bukan fakta. Karena bukan fakta, maka pendapat dapat dengan mudah berubah atau diubah, tergantung pada situasi sosial yang berlaku.

Opini adalah ekspresi sikap. Dengan demikian opini itu adalah sebuah aktualisasi. Jadi sikap masih berada dalam diri orang dan belum dimunculkan, sedangkan opini sudah lebih dari itu, dimunculkan dan jika dibuktikan akan bisa diindera oleh manusia (ekspresi). Seseorang yang sedang mengeluarkan sebuah opini bisa dilihat dari komunikasi verbal dan komunikasi non verbalnya. Lain dengan sikap. Diam adalah sikap. Tetapi diam tidak bisa diindera secara utuh dan masih ada dalam diri seseorang (Nurudin, 2001 : 52)

Menurut M.O.Palapah, pengertian dari opini adalah, “Pandangan seseorang mengenai sesuatu”. (Yulianita, 1996 : 17). Sedangkan menurut Cutlip dan Center, opini adalah, “Kecenderungan untuk memberikan respons terhadap suatu masalah atau situasi tertentu”. (Sastropoetro, 1987)

Respons di atas berarti sesuatu yang sudah diberikan/dikemukakan/disampaikan dari diri seseorang. Opini hanya bisa diwujudkan kalau ada suatu masalah yang “merangsang” seseorang untuk menanggapinya. Masalah tersebut bisa juga berarti situasi yang melekat atau menimpa dirinya. Misalnya, situasi tertekan, situasi marah, dan tenang akan berbeda dalam aktualisasi opininya. (Nurudin, 2001 : 52). Menurut Converse (1964), opini ada yang bersifat stabil, ada pula yang berfluktuasi. Namun, opini lebih mudah berubah dibandingkan attitude (sikap) yang lebih stabil.

Opini dapat dinyatakan secara aktif maupun secara pasif. Opini dapat dinyatakan secara verbal, terbuka dengan kata-kata yang dapat ditafsir secara jelas, ataupun melalui pilihan-pilihan kata yang sangat halus dan tidak secara langsung dapat diartikan (konotatif). Opini dapat pula dinyatakan melalui perilaku, bahasa tubuh, raut muka, simbol-simbol tertulis, pakaian yang dikenakan, dan oleh tanda-tanda yang tak terbilang jumlahnya, melalui referensi, nilai-nilai, pandangan, sikap dan kesetiaan. (Kasali, 1994 : 19)

Pada lapisan teratas, para psikolog mencatat yang disebut overt opinion, yakni opini yang dinyatakan secara verbal. Menurut Vincent Price, overt opinion merupakan “sentral data yang dikumpulkan oleh para peneliti dalam survai mengenai opini yang dilakukan melalui wawancara”. Selain itu opini dapat dinyatakan melalui diskusi informal, misalnya melalui surat-surat kepada redaksi surat kabar secara tertutup, partisipasi pada suatu demonstrasi atau pernyataan pendapat, melalui pemogokan karyawan, dan sebagainya. Opini ini disebut Vincent sebagai covert opinion atau opini yang dinyatakan secara konotatif.

Memahami opini seseorang, apalagi opini publik bukanlah sesuatu yang sederhana. Opini sendiri mempunyai kaitan yang erat dengan pendirian (attitude). Menurut Abelson opini mempunyai unsur sebagai molekul opini, yakni :

-     Belief (kepercayaan tentang sesuatu)

-     Attitude (apa yang sebenarnya dirasakan seseorang)

-     Perception (persepsi)

Bila attitude dimaksudkan sebagai apa yang sebenarnya dirasakan oleh seseorang individu, opini lebih dimaksudkan sebagai apa yang dinyatakan oleh seseorang melalui pertanyaan.

Nimmo (Nasution, 1990:91) mengemukakan bahwa, “Opini adalah suatu respon yang aktif terhadap suatu stimulus, suatu respon yang dikonstruksikan melalui interpretasi pribadi yang berkembang dari dan menyumbang pada imej.” Segala opini mencerminkan suatu organisasi yang kompleks dan tiga komponen, yakni keyakinan, nilai-nilai, dan ekspektasi.

  • Keyakinan berkaitan dengan persepsi, yang artinya terkait erat dengan aspek kognitif. Keyakinan merupakan aspek dari imej pribadi dan interpretasi-interpretasi dimana hal-hal tersebut menyangkut Credulity atau percaya atau tidaknya orang mengenai sesuatu, Credulity beragam dalam intensitasnya, dari keyakinan yang tak tergoyahkan hingga ketidakpercayaan secara total. Tingkat kepercayaan, bagi seseorang memiliki keragaman.
  • Nilai-nilai berkaitan erat dengan perasaaan atau aspek afektif. Nilai-nilai adalah isi dari imej pribadi yang membantu seseorang dalam mengevalusi dirinya ataupun lingkungannya. Nilai-nilai memiliki keragaman arah, misalnya suka dan tidak suka, intensitas, seperti kokoh, moderat dan lemah. Lasswell dan Kaplan (1950) mengelompokan dua jenis nilai :
  1. Nilai-nilai kesejahteraan (Walfare Values) bersumber dari kebutuhan para pendukung seperti dalam memenuhi kesejahteraan hidup, dan kemakmuran.
  2. Nilai-nilai deferensi (Deference Values) yang berkaitan dengan respek (respon), reputasi atau penilaian dari sisi moral, serta kebutuhan  kekuasaan yang dianut oleh pendukung.

Manusia membuat estimasi baik secara sadar ataupun tidak sadar mengenai apa yang akan diperbuat, berdasarkan keyakinannya, untuk merealisasikan nilai-nilai yang dipegangnya. Manusia merumuskan ekspektasinya (harapan) mengenai tindakan yang akan dilakukan berdasarkan pengalaman masa lalu. Ekspektasi berkaitan dengan aspek konatif, atau kecenderungan, aspek dari imej pribadi dan proses-proses interpretatif, yang biasa diartikan sebagai impuls, keinginan dan usaha keras.

2. Pengertian  Publik

Publik adalah “kumpulan” orang-orang memiliki minat dan kepentingan yang (interest) sama terhadap sesuatu issu atau masalah. Publik juga dapat dibedakan dengan kerumunan (crowd). Publik bersifat lebih rasional sedangkan kerumunan lebih bersifat emosional (Ogburn dan Nimkoff dalam Nasution, 1990:94). Publik ditandai oleh adanya sesuatu issu yang dihadapi dan dibincangkan oleh sekelompok orang dan memunculkan opini mengenai issu tersebut. Publik menganggap issu tersebut penting atau kontroversial sehingga terjadi proses diskusi di dalamnya.

Selanjutnya publik masih dapat dibedakan dengan general public dan special public. Misalnya saja dalam rnenghadapi suatu issu rnengenai olahraga terdapat publik olahraga secara urnum, dan yang ada yang memandangnya secara khusus menurut cabang olahraga yang spesifik. Dengan dernikian ada publik olahraga (umum) di samping publik badminton, sepakbola, dan sebagainya (khusus). Dapat dibedakan pula antara general public opinion atau pendapat publik awam dengan elite public opinion, yaitu golongan elit yang karena pendidikan atau posisi.mereka mempunyai keterkaitan dengan suatu issu tertentu. Dengan demikian opini publik tidak dapat begitu saja diartikan sebagai pendapat umum. Publik tidak berarti umüm, namun ditentukan dengan adanya kesamaan minat dan kepentingan terhadap suatu hal.

Publik berbeda dengan crowd. Publik bisa berada dimanapun sedangkan crowd biasanya berada di suatu tempat, terkonsentrasi, berkumpul/berkerumun. Crowd dapat kita temukan, misalnya di jalanan. Terdapat sekelompok orang yang berkumpul, bergerombol, melihat-lihat apa yang ditawarkan seorang tukang obat. Itu adalah crowd. Tidak demikian dengan publik. Untuk lebih jelas, pengertian publik dapat ditinjau dari beberapa aspek (Yulianita, 1996:2-4), yaitu pengertian publik secara kuantitatif, geografis, psikologis dan sosiologis.

a) Pengertian Publik secara Kuantitatif

Secara kuantitatif publik ditandai dengan jumlah dari publik itu. Dengan demikian yang disebut publik itu lebih dari satu orang yang mempunyai minat yang sama mengenai suatu masalah sosial. Misalnya, ada dua orang (yang memperhatikan atau memiliki minat dan berkepentingan  terhadap isu/masalah) yang menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan pembelian pesawat Sukhoi. Minimal dua orang saja adalah publik.

b) Pengertian Publik secara Geografis

Publik diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat tertentu. Dengan demikian ditandai dengan wilayah dimana publik berada/bertempat tinggal, serta mempunyai minat yang sama mengenai suatu permasalahan sosial. Misalnya, publik yang terdiri dari warga dan pedagang di Bali memiliki kesamaan minat terhadap kasus peledakan Bom di Bali. Publik di Bandung/Jawa Barat memiliki keinginan untuk mengikuti proses pencalonan dan pemilihan Gubernur Jawa Barat. Publik di Aceh sangat berminat terhadap masalah Operasi Militer di Aceh.

c) Pengertian Publik secara Psikologis

Secara psikologis, publik diartikan sebagai orang-orang yang menaruh perhatian yang sama terhadap suatu masalah yang sama, tanpa ada sangkut pautnya dengan tempat mereka berada. Dengan demikian, walaupun secara fisik mereka tidak terlihat menyatu dalam sebuah kelompok, namun secara psikologis mereka disatukan dengan kepentingan yang sama. Publik yang dimaksud bukan didasarkan pada sejumlah orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat yang sama (publik secara geografis).

Misal, kasus peledakan Bom di Bali ternyata bukan hanya diperhatikan oleh para pedagang di Bali, tetapi publik di seluruh dunia. Contoh lain, orang-orang Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Palestina, dan di belahan dunia lainnya yang menaruh perhatian dan mengikuti peristiwa agresi Amerika ke Irak. Mereka disatukan oleh adanya kesamaan perhatian meskipun tempat mereka berbeda. Satu contoh lagi, publik di berbagai wilayah Indonesia “disatukan” secara psikologis karena sangat intens mengikuti perseteruan antara Rhoma Irama dan Inul Daratista, biaya pendidikan PTN (jalur khusus) yang begitu mahal, dll.

d) Pengertian Publik secara Sosiologis

Secara sosiologis publik ditandai dengan adanya kelompok individu yang mempunyai minat/keinginan yang sama, berkehendak untuk memecahkan masalah secara bersama-sama, serta mencapai tujuan secara bersama pula. Misalnya, terdapat publik yang menginginkan kasus pencarian harta karun di Bogor oleh Menteri Agama Said Agil Al-Munawar diselesaikan di pengadilan secara tuntas. Mereka beropini bila pencarian harta itu telah merusak situs sejarah di Bogor, dan itu melanggar hukum . Mereka membicarakan masalah itu bersama untuk mencapai tujuan yang sama, yakni keadilan dan kepastian hukum.

About these ads

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Tulisan ini dipublikasikan di Opini Publik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Opini Publik : Sebuah Pengantar

  1. Farida Nurmalia berkata:

    assalamualaikum,bapaak makasih banyak sangat membantu ;)

  2. novita berkata:

    bapak fuad, terimakasih banyak sangat membantu tugas saya :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s