Ecommerce dan Peluang Implementasi di Indonesia

Di era global, kompetisi dalam dunia ekonomi akan semakin ketat. Meski telah menuai kesuksesan, perusahaan tidak dapat berpangku tangan. Jika hanya mengandalkan cara-cara kuno, mereka akan kehilangan peluang untuk mengembangkan bisnis. Jika mencari terobosan tanpa pertimbangan matang pun, perusahaan dapat mengalami kerugian. Namun, apa salahnya untuk mencoba inovasi baru atau mengadopsi bentuk lain dari bisnis yang telah lama ada.

Pada abad 20, sebuah usaha kecil sangat sulit berkompetisi dengan perusahaan raksasa. Namun, pada abad ini, e-commerce telah mendukung eksistensi perusahaan kecil. Memang, dengan dengan nama yang telah dikenal dan loyalitas konsumennya, perusahaan besar tetap mendapatkan profit, tetapi kini, level usaha kecil dapat unjuk gigi melalui internet.

Di antara berbagai istilah yang menggunakan awalan “e” (electronic), seperti e-book, e-zine, e-pr, salah satu yang paling popular adalah e-commerce. Mengapa? Karena kemunculan internet telah mengubah wajah ekonomi konvensional menjadi new economy (perekonomian digital). Artinya, aktifitas ekonomi seperti jual beli produk dan jasa tidak dilakukan secara langsung tatap muka, tetapi dilakukan secara online, via internet. Transaksi dilakukan bisa jadi tanpa pernah sang penjual dan pembeli bertemu sekalipun.

Pada dasarnya, bagi pihak konsumen, e-commerce dapat membuat waktu berbelanja menjadi singkat. Tidak ada lagi berlama-lama mengelilingi pusat pertokoan untuk mencari barang yang diinginkan. Selain itu, harga barang-barang yang dijual biasanya lebih murah dibandingkan dengan harga di toko, karena jalur distribusi dari produsen barang ke pihak penjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional. Walaupun tidak membeli secara online, konsumen dapat memperoleh banyak informasi penting yang diperlukan untuk memilih sampai memutuskan suatu produk yang akan dibeli. Bagi penjual, hanya dengan “diam”, dapat menuai keuntungan yang cukup besar dari transaksi yang dilakukan konsumen.

Satu contoh sukses ialah Jeff Bezos. Tahun 1994, ia berumur 30-an dan menjadi wakil direktur sebuah [erusahaan pengelola keuangan di Wall Street. Tahun berikutnya, ia dirika Amazon.com, toko buku online paling sukses hingga saat ini. Situs kepunyaan Bill Gates, MSNBC Online menyebutnya legenda internet. Mengapa? Ia menjual satu produk, yaitu buku. Omzetnya membubung 31 kali lipat dari tahun 1995 ke 1996, atau dari 511 ribu dolar menjdi 15,7 juta dolar. Pada 1998, penjualannya 600 juta dolar. Tahun 2000, Amazon.com memiliki 8,4 juta pelanggan terdaftar. Bezos dan isteri merintis usaha hanya bermodalkan garasi di rumah sewaan, empat pegawai, laptop dan ponsel (dalam Widjanarko, 2000).

Amazon.com memungkinkan konsumen untuk membeli buku dengan mudah dengan berbagai fasilitasnya. Amazon.com dapat menawarkan harga buku yang lebih murah sampai dengan 50% atau bahkan kadang lebih. Hal ini karena mereka tidak perlu menyewa showroom seperti toko buku konvensional. Namun, mereka juga melakukan efisiensi yang sangat besar dengan mengurangi stok buku. Jadi mayoritas buku yang ada di website mereka sebenarnya tidak ready-stock. Tetapi sistem mereka memungkinkan mereka untuk memesan buku-buku tersebut dengan cepat. Caranya :

  •  Konsumen menggunakan mesin pencari untuk memudahkan pencarian buku
  •  Konsumen me-review dan informasi rating dari buku yang bersangkutan
  •  Hanya perlu melakukan satu kali klik di mouse untuk membeli buku.

Tak heran, setelah go public, saham Amazon.com terus meroket. (dalam Briggs dan Burke, 2006 : 400).

Selanjutnya, Dominick (2005 : 307) menyatakan pada awal 1990-an, ecommerce belum menunjukkan eksistensinya, namun tahun-tahun selanjutnya transaksi e-commerce mengalami peningkatan. Konsumen banyak mencari produk dan jasa yang dapat dipenuhi melalui e-commerce, di antaranya adalah travel, perangkat komputer (keras dan lunak), pakaian, buku dan musik.

Berdasarkan riset International Data Corporation (IDT), proyeksi transaksi e-commerce tahun 2001 sebesar 220 milyar dolar, selanjutnya menurut Giga Information Group, antara 580 hingga 970 milyar dolar pada 2002 (Kienn, 2001). Di Indonesia sendiri, tahun 2000 mencapai 100 juta dolar. Melihat jumlah rata-rata transaksi setiap tahun, omzet, keuntungan, pengalaman sukses, tampaknya sangat mudah menggeluti bisnis online ini. Namun, jangan lupa, setelah perusahaan berlomba-lomba menjadikan e-commerce sebagai kendaraan bisnis, ternyata banyak perusahaan dotcom yang bertumbangan, gulung tikar. Berarti, diperlukan konsentrasi yang cukup extra dalam menggeluti bisnis ini.

Sebagai contoh nyata yang pernah terjadi tahun 200-an, yakni “perseteruan” antara Detik.com dengan Astaga.com. Persaingan antara portal website sempat menghangat. Banyak yang berusaha menjadi pemain utama, namun detik.com yang mencuat di tempat pertama. Sebagai pemain lama (versi cetak dibreidel Menteri Penerangan, H. Harmoko), Detik.com terangkat karena menampilkan berita-berita reformasi yang berbeda dengan media cetak lain dan kontinuitas updating information. Ini menarik bagi jutaan pengunjung. Detik.com kini sudah berkembang dari sekedar news website menjadi portal website dengan menampilkan berbagai feature seperti pusat data (arsip), email gratis, komunitas internet, website yang membahas mengenai perempuan, astrologi, buku, agama, wisata, selebriti dan musik.Sayangnya, dengan bermodalkan US$ 7.5 juta, awak Astaga.com tidak berhasil menelikung posisi detik.com. Dari hasil polling tahun 2002, astaga.com hanya menempati urutan empat. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis e-commerce memang tidak semudah membalikkan tangan.

Untuk itu, dalam penulisan makalah ini akan diungkap beberapa hal sebagai berikut, yaitu bagaimana batasan bisnis e-commerce, analisis SWOT e-commerce di Indonesia dan Mitos yang harus dihindari pebisnis.

Batasan mengenai E-commerce

Secara umum, menurut Goldman Sach (Ustadiyanto, 2001), model bisnis melalui internet terbagi menjadi enam macam, antara lain.

  1. Connectivity. Model bisnis yang menyandarkan basis layanan akses internet kepada pelanggannya seperti yang dijalankan oleh ISP (Internet Service Provider). Contoh: Indosat.net, Wasantara.net, CBN, Rad.net, Link.net, Indo.net, IPNET, dan masih banyak lagi.
  2. Context, yakni model bisnis yang memberikan layanan berupa informasi dan hiburan; seperti Kompas Cybermedia, Detik.com, Astaga.com, Lippostar.com dan lain sebagainya.
  3. Content, adalah model bisnis yang memberikan layanan dengan basis isi berupa teks atau gambar sebagai inti bisnisnya. Seperti marketbiz.net, bizweb2000.com
  4. Communication adalah layanan komunikasi berbasis internet dengan menggunakan media interaktif seperti media web chat maupun voice chat, web phone dan lain sebagainya.
  5. Community adalah model bisnis yang membangun komunitas digital dengan media message board, web chat, maupun penyedia web mail.
  6. Commerce adalah melakukan aktivitas bisnis berbasis internet seperti Sanur Online, maupun Gadogado.net, Amazon.com, dll. Namun, e-commerce lebih terkait dengan proses membeli, menjual, memasarkan dan melayani suatu barang, jasa dan informasi melalui beragam jenis jaringan komputer seperti Internet (James A. O’Brien, Management Information Systems, 1999).

E-commerce (electronic commerce) merupakan metode untuk menjual produk secara online melalui fasilitas internet. Transaksi bisa terjadi antar pengusaha atau langsung dengan konsumen. Untuk melakukan “show, order, get, and deliver”, diperlukan sebuah website. E-commerce akan “memangkas” semua biaya marketing dan semua biaya trading yang biasa dilakukan.

E-Commerce itu sendiri pada dasarnya terbagi atas dua jenis, yaitu aktifitas business to business (B2B) dan business to consumer (B2C). Fokus B2B adalah perdagangan antar perusahaan, sedangkan B2C memfokuskan diri pada perdagangan antara sebuah perusahaan dengan konsumen akhir. Salah satu contoh perusahaan di Indonesia yang menerapkan konsep B2B adalah situs http://www.dagang2000.com milik PT Indosat Adimarga dan http://www.indonesianexport.com milik PT e-Commerce Nusantara. Sedangkan yang menerapkan konsep B2C antara lain adalah toko buku online http://www.sanur.co.id dan situs ritel http://www.radioclick.com.Konsumen juga dapat menjual produk yang pernah ia gunakan untuk dijual kembali, istilahnyadalah Consumer to Consumer (C2C).

Berikut ini adalah beberapa contoh dari ecommerce :

  • Business to Business. Apabila bisnis dilakukan antara perusahaan dengan supplier, pihak yang menyuplai produk

  • Business to Consumer

  • Consumer to Consumer

Analisis SWOT e-commerce di Indonesia

Information and Communication Technology (ICT) Centre mengkaji situasi di Indonesia berkaitan dengan e-commerce, yakni

STRENGTHS

  1. Kenyamanan membeli via Internet Dari depan komputer di rumah sendiri, kantor atau warnet. Ini menghemat waktu dan usaha, pembayaran mudah, Apalagi generasi muda Indonesia masa kini mulai tidak segan-segan lagi untuk memesan barang-barang via Internet.
  2. Harga yang kompetitif Ini disebabkan perusahaan-perusahaan e-commerce tidak perlu menanam uang untuk stok dan menyewa showroom dan efisiensi-efisiensi lainnya
  3. Populasi Indonesia Indonesia dengan populasi penduduk ratusan juta adalah potensi yang luar biasa besar, jika daya belinya sudah meningkat.
  4. Infrastruktur Internet. Infrastruktur Internet Indonesia mungkin bukan yang terbaik, namun termasuk cukup merata – terutama berkat Wasantara.Net. Dan di pusat-pusat ekonomi (Jakarta, dan lain-lain) banyak pilihan ISP (Internet Service Provider) dan WarNet (Warung Internet) sehingga mudah untuk mengakses Internet.
  5. SDM yang sedang berkembang Generasi muda Indonesia potensinya cukup menjanjikan. Monitoring di berbagai forum di Internet menunjukkan peningkatan prosentase generasi muda yang ahli dalam hal teknis komputer – yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk menunjang sektor e-commerce.

WEAKNESSES

1. Daya beli Masih sangat lemah, kecuali untuk sebagian kecil dari masyarakat Mungkin economic recovery terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang

2. Sosialisasi credit card. Dari berbagai pemberitaan di Kompas dan Sindo, pemilikan dan penggunaan credit card di Indonesia sudah mulai menunjukkan gejala peningkatan. Memang masih menunjukkan simbol status (baca: selain prestise, juga sebagai pengutang). Tetapi banyak pengguna credit crdyang bermasalh. Ini dapat sangat menyulitkan perkembangan eCommerce di Indonesia.

3. Sosialisasi Internet Internet walaupun perkembangannya meningkat di Indonesia, namun masih jauh dari menjadi gaya hidup mayoritas penduduk Indonesia. Perkiraan resmi dari Asosiasi Penyedia Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengenai jumlah pelanggan dan pemakai internet selama ini dan perkiraan sampai akhir tahun 2006 adalah sesuai dengan tabel berikut ini:


OPPORTUNITIES

1. Stealing the start, yakni e-commerce baru saja mulai menanjak di Indonesia

2. Membuka peluang bisnis dari luar negeri, berarti barang-barang kita termasuk murah untuk mereka. E-commerce memungkinkan mereka untuk membelinya dengan mudah.

3. Banyaknya pendatang baru di Internet membuat website-website portal sibuk untuk merekrut mereka untuk menjadi customernya.

4. Sektor bisnis yang sedang berkembang dengan sangat pesat. Perputaran uang di sektor ini akan mencapai trilyunan dolar AS.

THREATS

1. Situasi ekonomi & politik di Indonesia yang tidak stabil dapat membuat website e-commerce yang sudah ada dan yang baru akan berkembang bisa surut kembali.

2. Adanya carder, yakni orang yang melakukan cracking, yakni pembobolan terhadap kartu kredit untuk mencuri nomor kartu orang lain dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Biasanya yang menjadi korbannya adalah mereka yang memiliki cartu credit dalam jumlah besar. Menurut hasil riset, pada tahun 2002, Indonesia menempati urutan kedua setelah Ukraina dalam kejahatan carding. Saat ini memang mulai menurun, tetapi masih ada carder yang menggunakan kartu kredit orang lain untuk mendownload file seperti musik dan film. Aktifitas Internet yang merugikan seperti Spam, Abuse dan Fraud.

3. Budaya ikut-ikutan langsung terjun ke arena tanpa perhitungan dan persiapan yang matang, kembali dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat kepada ecommerce.

Mitos yang Harus Dihindari

Dalam menjalankan bisnis e-commerce, Bob Julius Onggo mengungkapkan beberapa mitos yang harus dihindari, yakni :

  1. Dalam e-commerce dapat menjual semua produk dan jasa Ini adalah gagasan yang menyesatkan, karena kita tidak dapat menjual apa saja melalui internet tanpa mengetahui segmen pasar. Jadi, ceruk pasar bukanlah semua orang. Bila semua orang dianggap sebagai ceruk pasar dari perusahaan, maka sebenarnya ceruk pasar tersebut belum diketahui. Segmennya adalah sebuah kelompok orang/pasar dengan “area of interest” yang sempit/khusus di tengah-tengah lautan pasar yang luas. Atau, dengan kata lain pemasaran kepada ceruk pasar tertentu berbeda dengan pemasaran secara masal ke siapa saja tanpa memilih sebuah target pasar tertentu. Barangkali ini pula yang pernah terjadi pada Amazon.com yang mengakuisisi beberapa perusahaan online untuk melebarkan sayap. Amazon tidak lagi fokus pada penjualan buku secara online, namun produk lain selain buku tersebut tidak terlalu mendapatkan apresiasi dari netter. Contoh ilustrasi yang sederhana dalam hal ini adalah, seperti seekor ikan kecil di kolam yang besar, hampir pasti akan dimakan oleh ikan yang lebih besar. Tetapi, jika anda adalah seekor ikan besar di kolam kecil, hidup anda akan jauh lebih nyaman, tanpa takut ada ikan yang lebih besar di kolam tersebut yang akan memakannya (kecuali bila ikan kecil itu adalah piranha di sungai Amazon)
  2. Internet Bakal Merubah Perilaku Konsumen dalam Hal Membeli Teknologi tidak dapat mengubah ciri dan sifat dasar manusia yaitu keinginan atau emosi yg merupakan faktor utama dalam hal membeli, namun Internet membuat pemasar dan pelaku bisnis untuk memodifikasi caranya menjangkau dan memasarkan bisnis Anda kepada calon pembeli. Karakter dan sifat suatu pelanggan di era pra-internet maupun di era internet sama yaitu asalkan pemasar dapat menanamkan kepercayaan kepada konsumen dan mereka dapat menjadi pelanggan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah pelumas yang paling esensial untuk bisnis digital; Tanpa membangun kepercayan di sekitar calon pelanggan, bisnis digital akan kandas. Kepercayaan juga dibangun lewat komunikasi secara berkala atau follow-up. Tanpa itu, sulit sekali pelku e-commerce menjual produk lewat internet. Sama halnya dalam dunia penjualan konvensional, transaksi umumnya dapat terjadi karena hasil follow-up. Karena internet tidak mengubah sifat bawaan alami ini, maka pebisnis pun perlu membuat suatu sistem yang dapat melakukan follow-up secara kontinue.
  3. Bisnis Online Akan lebih Mudah Membuat Pebisnis Cepat Kaya Sebenarnya bisnis offline dan online sama-sama tidak mudah, diperlukan kerja keras, cekatan, dan kecerdikan. Tidaklah mudah untuk membangun ekonomi offline apalagi membangun ekonomi baru. Sebelum membangun bisnis secara offline, kita harus menganalisis secara cermat produk kita dengn kompetitor kalangan pebisnis online jangan berpikir bahwa dengan membuat situs web yang canggih, pengunjung langsung membeli barang atau jasa. Tetap saja pemasar perlu membangun kepercayaan.
  4. Situs web korporat hanyalh sebagai alat promosi Situs web korporat tetap harus dianggap sebagai sebuah kantor atau perusahaan online sebagaimana halnya perusahaan offline yang memiliki tim penjualan dan pemasaran. Jadi kantor online harus memiliki e-salesman maupun e-marketer yg keduanya harus dapat menarik, membina hubungan dengan para calon customer. Barangkali, disinilah kelalaian para pebisnis online yang tidak memanfaatkan teknologi internet untuk menarik, membina dan memupuk kepercayaan dan hubungan dengan para calon pelanggan. Jadi bila situs korporat dianggap sebagai alat promosi, maka tidak ubahnya seperti iklan, seperti iklan di media massa yang tidak dapat membina komunikasi interaktif dengan calon pelanggan. Karena itu diperlukan sistem esalesman.com dan eMarketer.com di dalam situs bisnis online, sehingga dgn demikian situs e-commerce berfungsi lebih dari sekadar alat promosi.
  5. Jangan Terlalu Banyak Tulisan Kebanyakan pengunjung internet malas untuk membaca tulisan sebuah produk. Sebenarnya, asalkan tulisan itu dapat menggugah emosi atau menunjang terpuasknnya rasa ingin tahu konsumen hal itu tidak benar. Jadi intinya yang penting, bukan banyaknya tulisan, namun seberapa besar teknik penulisan tersebut mempengaruhi secara emosional terhadap calon pelanggan.

Daftar Pustaka

Briggs, Assa & Peter Burke, Sejarah Sosial Media, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006.

Dominick, Joseph R., The Dynamics of Mass Communications, 8Th Edition, Mc Graw Hill, 2005

Kienan, Brenda, Small Business Solutions E-Commerce, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

Long, Larry & Nancy Longh, Computers Information Technology in Perspective, 12th Edition, Pearson Education LTD, 2005

Ustadiyanto, Riyeke, Framework e-Commerce, Andi, Yogyakarta, 2001

Widjanarko, Putut, Elegi Gutenberg, Mizan, Bandung, 2000

 

(* Makalah pernah dipresentasikan penulis dalam Seminar Ilmiah Komunikasi FIKOM UNISBA tahun 2006)

About these ads

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Tulisan ini dipublikasikan di Teknologi Komunikasi. Tandai permalink.

9 Balasan ke Ecommerce dan Peluang Implementasi di Indonesia

  1. Mas Dharmawan berkata:

    Informasi yang informatif, terima kasih

  2. Agies berkata:

    Terimakasih atas informasinya sebagai bahan referensi untuk paper saya…

  3. Eny berkata:

    Pak………… ijin ambil artikel Bapak untuk dijadikan referensi dalam tugas saya ya pak?
    Thanks sebelumnya.

  4. Ping-balik: PENERAPAN DAN IMPLEMENTASI E-COMMERCE DI INDONESIA | Agies Soja Frisyalina Blog

  5. Ping-balik: PENERAPAN E-COMMERCE DI INDONESIA | Eny Cahyaningsih

  6. What’s up to all, how is everything, I think every one is getting more from this site, and your views are nice for new viewers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s