Tasawuf (Mistisisme) dan Pandangan Al-Ghazali

Di kalangan para intelektual barat, istilah tasawuf sering disebut sebagai “mistisisme” (mysticism). Ada pula yang menyebutnya zuhudisme. Pada mulanya istilah mistisisme itu diperkenalkan oleh intelektual barat untuk menyebut fenomena atau aspek dalam tradisi Kristen yang menurut pemahaman mereka, menekankan pada pengetahuan religius yang diperoleh melalui pengalaman luar biasa atau wahyu suci[1]. Namun, bila mistisisme dikatakan bermula dari tradisi Kristen, itu tidaklah tepat. Konsep-konsep tentang Tuhan, jiwa, dan tema-tema tentang hubungan cinta antara Tuhan dan jiwa manusia dapat ditemukan di dalam semua pengalaman religius di luar agama Kristen atau selain barat.

Akar kata mistisisme adalah mistik. Dalam kata mistik terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan akal, harus melalui cara yang luar biasa. Menurut Schimmel, misteri dan mistik berasal dari bahasa Yunani myein, artinya “menutup mata.” Bila dikaitkan dengan agama, mistik ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio[2]. Mistik memang tidak bisa dipahami dan dijelaskan dengan cara apa pun, filsafat maupun penalaran tidak bisa mengungkapkannya. Definisi semacam itu tidak dapat melukiskan kenyataan yang menjadi tujuan mistik. Hanya pengalaman rohani/spiritual yang sampai pada puncak kearifan dapat mendalaminya.

Dalam artinya yang paling luas, mistik bisa didefinisikan sebagai kesadaran terhadap Kenyataan Tunggal, yang mungkin disebut kearifan, Cahaya atau Cinta[3]. Mistik bisa juga didefinisikan sebagai cinta kepada yang Mutlak. Cinta membuat insan mampu menyandang, bahkan menikmati, segala sakit dan penderitaan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya untuk mengujinya dan memurnikan jiwanya mencapai kesempurnaan (insan kamil).

Mistisisme dalam Islam diberi nama tasawuf dan oleh kaum orientails Barat disebut sufisme. Kata sufisme oleh orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisisme Islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Tasawuf atau sufisme  merupakan suatu ilmu pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, dipelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah swt[4]. Kedekatan ini dicapai melalui pengetahuan intuisi, latihan-latihan (riyadlah), kontemplasi, perjuangan (mujahadah), dan masih banyak lagi tahapannya. Tahapan atau stasion ini sangat khas dan terdapat persamaan dan perbedaan antara sufi yang satu dengan yang lain.

Tasawuf meraih sasaran yang tidak bisa digapai oleh cara-cara lain seperti filsafat. Bila filsafat berupaya memahami hakikat dari sebuah realitas–termasuk Realitas Tertinggi–melalui akal, tasawuf menyingkapnya melalui rasa, qalbu. Tasawuf adalah autobiografi spiritual yang khas. Pelaku tasawuf akan menjalani cara-cara mendisiplinkan jiwa, ikhtiar mengendalikan dan menekan impuls-impuls ragawinya. Proses ini berawal dengan upaya pertobatan dan lebih dari sekadar perjalanan ruhani. Ini bisa disebut sebagai jalan (thariqat) dalam membersihkan diri. Thariqat merupakan epistemologi untuk memperoleh pengetahuan mistik[5]. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik melalui latihan yang disebut juga riyadhah. Dari riyadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan yang dalam tasawuf disebut ma’rifah. Penataan diri dalam tasawuf ini akan melahirkan hubungan yang dahsyat dengan Allah. Para pencari kebenaran spiritual (pesuluk) akan diberikan tanda-tanda rahmat-Nya, bahwa penjalanan yang mereka tempuh telah tepat arah. Isyarat ketepatan arah terpampang melalui berbagai karunia, yang pada gilirannya menaikkan tingkat kedekatan, wawasan dan derajat seorang pesuluk.

Kaum mistik menekankan kedekatannya dengan Allah, dalam arti bahwa hanya Dialah yang sebenar-benarnya ada[6]. Bagi sebagian sufi, pengalaman yang paling puncak bukanlah menyaksikan Allah (musyahadah),  tetapi bersatunya antara diri dengan Allah. Di sinilah isu yang krusial dalam dunia tasawuf muncul dan menimbulkan pertentangan berdarah-darah, yakni penyamaan atu penyatuan diri dengan wujud Tuhan, seperti Ittihad, Hululi dan  Wahdatul Wujud. Konsep-konsep penyamaan diri dengan Allah dianggap telah menyimpang, keluar dari batas-batas agama Islam. Itulah yang membuat ahli fiqh (fuqoha) mencibir dan menganggap sesat dan menyekutukan Allah (musyriq)  Tasawuf dianggap sebagai perbuatan kotor (zindiq). Al-Hallaj adalah contoh nyata seorang sufi yang  harus dieksekusi dengan tuduhan menyekutukan Allah. Di Indonesia, yang dikenal sebagai penyebar tasawuf ini adalah Syaikh Siti Jenar[7].

Al-Ghazali disebut-sebut sebagai tokoh yang telah berhasil membangun tradisi sufisme keagamaan yang kuat lantaran dia mensyaratkan kepatuhan pada hukum Islam. Jalan yang dilalui seorang sufi tidak boleh melanggar aturan (syari`at) Allah dan Rasululah. Dia berupaya membersihkan tasawuf dan unsur-unsur luar Islam. Dia ingin mengembalikan tasawuf kepada corak yang sesuai dengan ajaran Islam. Dia menghidupkan tasawuf sesuai dengan manhaj As-Sunnah, setelah tasawuf dikotori bid`ah, khurafat dan kebohongan serta fitnah yang melanda tasawuf secara umum. Para pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah menerima dengan baik sumbangan Al-Ghazali ini dan menempatkannya pada posisi terhormat di abad V Hijriyah[8].

 

Al- Ghazali : Masa dan Perkembangannya

Semenjak kecil, kira-kira usia 15 tahun, Yusuf al-Qardhawi rajin bolak-balik ke perpustakaan al-Azhar. Ia sudah “berinteraksi” dengan buku-buku Tasawuf. Yang paling awal dia baca adalah buku tasawuf karya Al-Ghazali, Minhajul Abidin. Ia juga membaca Ihya` Ulum al-Din, koleksi seorang terpandang di  kampungnya, di Mesir. Barangkali, saking terpesonanya dengan pemikiran Al-Ghazali, Yusuf al-Qardhawi menyebut Al-Ghazali sebagai guru pertamanya[9].

Kisah serupa terjadi pada Jalaluddin Rakhmat, seorang pakar komunikasi yang kini lebih dikenal sebagai pelaku tasawuf. Ia sempat mengalami gejolak kejiwaan yang dahsyat setelah membaca Ihya` Ulum al-Din. Barangkali, buku itulah yang membuat kecintaannya pada dakwah muncul[10]

Siapakah Al-Ghazali? Mengapa ia disebut sebagai tokoh besar hingga saat ini, khususnya pada abad V Hijriyah?

Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Tusi al-Syafi’i; dan lebih dikenal dengan nama al-Ghazali. Dia dilahirkan pada tahun 450 H./1058 M. di suatu kampung yang bemama Ghazalah, di daerah Tus (sebelah tenggara Iran) yang tcrletak di wilayah Khurasan[11]. Ayahnya, Muhammad adalah seorang penenun dan mempunyai toko tenun di kampungnya. Karena pcnghasilannya yang kecil, maka ia tidak dapat menutupi kcbutuhan hidup keluarganya. Sungguhpun hidup sangat miskin, ayahnya itu seorang pencinta ilmu yang bercita-cita tinggi. Sebagai muslim yang shaleh dan taat, ia selalu berdoa, semoga Allah mcmberinya putra-putra yang berpengetahuan luas dan mempunyai ilmu yang luas. Tetapi sayang, ajalnya tidak memberi kesempatan kcpadanya untuk menyaksikan keberhasilan sang putra.

Pada waktu itu Khurasan merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Al-Ghazali kemudian menjadi murid Imam al-Haramain al-Juwaini, guru besar di Madrasah al-Nizamiah Nisyapur. Di antara mata pelajaran-mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini adalah teologi (ilmu kalam), hukum Islam, filsafat, logika, sufisme, dan ilmu-ilmu alam.

Al-Ghazali sangat piawai dalam berdebat dan mengungguli teman sebayanya. Belum genap usia 18 tahun, ia sudah terkenal dan nampak kecerdasannya. Di Istana Wazir Nizhamul Muluk, ia mampu mematahkan argumentasi para ulama. Selanjutnya Nizhamul Muluk meminta Al-Ghazali mengajar di Madrasah al-Nizamiah cabang Baghdad, jabatan yang diincar dan didambakan banyak ulama.. Gaya bicara yang baik, kecerdsan yang sempurna, kefasihan lidahnya, membuat banyak orang kagum. Ia dihormati pejabat negara, pangeran dan keluarga besar istana.

Kala itu, sebagian ulama lain yang sudah masyhur dan mendapatkan kedudukan tinggi berperilaku sombong. Muncullah pula gajala kemewahan yang mencakup segala sendi kehidupan manusia. Gejala ini muncul sebagai konsekuensi logis dan meluasnya wilayah kekuasaan Islam dan interaksi kaum Muslimin. Justru Al-Ghazali merasa gelisah. Ia tidak bahagia dengan yang dia miliki. Ia meninggalkan semua fasilitas dan kekayaan yang dimilikinya lalu menyendiri (uzlah), mengasingkan diri, menyepi. Al-Ghazali selanjutnya melakukan riyadhoh, mendekatkan diri kepada Allah dengan olah spiritual (penyucian batin).

Setiap pemikir pasti dipengaruhi oleh keadaan yang melingkupi lingkungannya, baik itu keadaan politik, pengetahuan, maupun agama. Hal yang saja juga berlaku bagi Al-Ghazali. Masa di mana Al-Ghazali hidup memberikan pengaruh nyata bagi arah pikiran dan amalnya. Dalam kerangka pikir inilah, terjadi proses interaksi antara Al-Ghazali dengan zaman di mana ia hidup. Pertama, Situasi Politik. Al-Ghazali tumbuh pada saat situasi politik sedang kacaubalau, penuh fitnah, perpecahan dan pembunuhan. Kekacauan situasi politik adalah kenyataan buruk yang membuat  Al-Ghazali mengasingkan diri dan menggeluti dunia tasawuf. Kedua, Kegiatan Ilmiah dan Agama. Selain diwarnai oleh situasi politik yang tidak stabil, zaman Al-Ghazali juga diwarnai oleh “perang madzhab”. Setiap orang merasa fanatik dengan madzhab yang dianutnya dan membelanya mati-matian. Orang lain yang tidak semadzhab dianggap kafir dan ahli bid’ah. Para ulama bersungguh-sungguh mencari ilmu. Pada masa itu, gerakan ilmiah sangat dinamis. Hanya saja kegiatan ilmiah ini tidak dilakukan untuk mengabdi sepenuhnya pada perkembangan pengetahuan, tetapi agar bisa dekat dengan penguasa. Oleh karena itu, mereka menekuni bidang-bidang keilmuan yang disukai oleh raja dan sultan. Yang mereka harapkan adalah pangkat, kedudukan, dan popularitas. Hanya ulama yang dijaga Allah-lah yang tidak melakukan hal ini[12].

Masa itu dikenal dengan masa kerusakan dan kelemahan. Banyak muncul di dalamnya pengingkar Tuhan dan kaum zindiq; serta banyaknya pertikaian agama. Karena itu, Al-Ghazali berupaya untuk mencari hakikat kebenaran dan membelanya dengan pena serta pemikirannya. Atas kegigihan upayanya ini, Al-Ghazali diberi gelar Hujjatul Islam (Argumentasi Islam).

 Tasawuf dalam Pengertian Etimologis[13]

Tentang kapan awal munculnya Tasawuf, Ibnu Jauzi mengemukakan bahwa istilah itu muncul sebelum tahun 200 H. Istilahnya pun berbeda-beda[14]. Para peneliti, baik kiasik maupun kontemporer, berbeda pendapat seputar asal-muasal kata sufi dan tasawuf. Perbedaan pendapat ini melahirkan banyak perbedaan, dan perbedaan itu mengimbas juga pada definisi tasawuf. Para pengamat maupun kaum Sufi tidak sepakat di dalam mendefinisikan tasawuf. Para pengamat mendefinisikan tasawuf sesuai dengan persepsinya, sedangkan kaum Sufi mendefinisikan tasawuf sesuai dengan pengalaman pribadi mereka rnasing-masing. Keduanya memberikan definisi tasawuf yang berbeda[15].

Ada yang menyatakan kata sufi diambil dan kata shafa’ (jernih, bersih) atau shuf (bulu domba). Sebagian orang berpendapat, kata sufi dinisbatkan pada Ahiush Shuffah. Kata Ahiush Shuffah dipakai untuk menyebut orang-orang fakir dan kalangan Muhajirin dan Anshar. Sebagian lagi berpendapat bahwa kata sufi diambil dan akar kata shaff. Imam Al-Qusyairi berpendapat bahwa sufi adalah laqab (julukan) yang diberikan kepada kelompok yang mengamalkan ajaran tasawuf.

Ada pula pendapat bahwa kata sufi adalah nisbat dan kata suufiya. Kata ini berasal dan kata Yunani (“sophie”) yang berarti “mencintai dan mengutamakan filsafat”. Barangkali, pendapat ini bermaksud mengatakan bahwa ajaran tasawuf bersumber dan ajaran asing, yaitu ajaran Yunani. Pendapat ini tidak tepat, karena filsafat Yunani tidak mengenal ajaran sufi sebagaimana yang dikenal dalam dunia Islam.

Sebagian berpendapat bahwa kata sufi diambil dan kata shuuf (bulu domba kasar), karena memakai baju dan bulu domba kasar adalah kebiasaan nabi-nabi dan shiddiqin. Pakaian dan bulu domba juga merupakan tanda orang-orang miskin yang rajin beribadah. Banyak ulama yang mendukung pendapat iru, seperti As-Sarraj Ath-Thusi, As-Sahruradi, Ibnu Khaldun dan Ibnu Taimiyah. Orang-orang zuhud dan selalu riyadhah pada abad-abad pertama Hijriyah disebut sufi, karena mereka terbiasa memakai pakaian dan bulu-domba kasar. Sedangkan kata tasawuf sendiri dianggap berarti “memakai pakaian dari bulu domba”, Selain itu, jika dibandingkan dengan pendapat lain, pendapat ini merupakan pendapat yang paling tua usianya, karena sebagian masyarakat melakukan hidup zuhud dan merasa cukup dengan hanya memakai baju
dari bulu domba kasar.

Tasawuf dalam Pengertian Terminologis[16]

Selain berbeda pendapat seputar asal-muasal kata sufi (tasawuf), para peneliti juga berbeda pendapat seputar definisinya. Perbedaan ini muncul karena banyaknya madzhab dalam tasawuf. Selain itu, perbedaan fase tasawuf yang dijalani oleh sufi, serta perbedaan lingkungan tempat tinggal sufi juga mempengaruhi definisi. Adalah hal yang wajar kalau setiap sufi mempunyai pengalaman khusus dalam bertasawuf. Beragamnya definisi tasawuf dipengaruhi oleh beragamnya kecenderungan seorang sufi serta tata-cara dalam mengamalkan tasawuf.

Ada definisi tasawuf seperti yang dikemukakan Abul Hasan Ats-Tsauri. Menurutnya “Tasawuf berarti membenci dunia dan mencintai Allah.”. Berarti tasawuf bisa diartikan sebagai “berzuhud di dunia, mengkhususkan semua amal hanya bagi Allah, dan meninggalkan hal-hal yang dapat membangkitkan syhawat.” Menurut Al-Junaidi, “Tasawuf berarti engkau dikhususkan oleh Allah dengan kejernihan.” Asy-Syibli mengatakan, “Tasawuf adalah memulai dengan mengenal (ma’rifat) Allah dan mengakhiri dengan mengesakan Allah.”

Al-Kittani mengatakan, “Tasawuf berarti shafaa’ (jernih) dan musyaahadah (menyaksikan).”. Adapun definisi yang saya pilih adalah definisi kedua yang disampaikan Al-Kittani, yaitu “Tasawuf berarti shafaa’ (jernih) dan musyaahadah (menyaksikan).” Dengan demikian tasawuf berarti “menjernihkan hati dan mengikhlaskan/memurnikan ibadah semata hanya untuk Allah.” Jika seorang hamba telah ikhlas demi Allah, mengikuti perintahNya, menjauhi larangan-Nya, serta telah menjernihkan hatinya, maka ia telah mendapatkan kedudukan musyhadah. Definisi dikuatkan oleh Dr. Abdul Halim Mahmud. Dia mengatakan, “Jika kita memperhatikan definisi yang disampaikan oleh Al-Kittani, maka kita menjumpai definisinya telah mencakup dua sisi yang —menurut kita— adalah suatu kesatuan yang sempurna. Dua sisi itu adalah wasilah (sarana, alat) dan ghayah (tujuan, sasaran). Yang disebut wasilah dalam dunia tasawuf adalah shafaa’ (kejernihan hati), sedangkan ghayah-nya adalah musyahadah. Dengan merujuk definisi inl, maka tasawuf adalah jalan (thariq) dan tujuan (ghayah).”

Sama dengan tasawuf, sufi juga didefinisikan secara beragam oleh para pakar.  Dzun Nuun Al-Mishri mengatakan, “Sufi adalah seorang yang tidak dicapekkan oleh upaya mencari dunia dan tidak dirisaukan oleh besarnya dunia yang didapatkannya.” Ta juga mengatakan, “Mereka (para sufi) adalah kaum yang mengutamakan Allah di atas segala sesuatu, maka Allah pun mengutamakan mereka di atas segala sesuatu.”. Sahi bin Abdullah At-Tusturi mengatakan, “Sufi adalah orang yang bersih dan kotoran, yang pikirannya penuh, yang putus hubungannya dengan manusia untuk berhubungan dengan Allah, yang memandang sama antara emas dan tanah.” Al-Junaid mengatakan, “Sufi ibarat tanah yang dilemparkan padanya segala hal yang buruk, dan tidak ada yang keluar darinya kecuali segala sesuatu yang manis.”

Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sufi adalah orang yang senantiasa bersih, selalu membersihkan waktunya dan segala kotoran dengan membersihkan hati dan kotoran nafsu. Proses pembersihan hati dibantu dengan selalu merasa butuh Allah. Perasaan membutuhkan Allah inilah yang menghilangkan kotoran. Setiap kali nafsu bergerak dan nampak dengan salah satu sifatnya, maka sufi mampu mengenali nafsu tersebut dengan ilmunya yang luas, lalu sang sufi berlari meninggalkan nafsu untuk menghadap Tuhannya.

Asal Mula Kata Tasawuf[17]

Pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sal/am, kehidupan spiritual yang dipraktekkan kaum Muslimin tidak disebut tasawuf dan orang yang mengamalkannya tidak disebut sufi. Karena, mereka ketika itu disebut “sahabat”, dan sebutan “sahabat Rasulullah” dianggap sebagai sebutan yang paling mulia. Hal yang sama juga teladi pada masa tabi’in. Sebutan “tabiin” (pengikut para sahabat) adalah sebutan yang paling mulia bagi mereka.

Al-Qusyairi mengatakan, “Tokoh-tokoh masyarakat muslim setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am wafat tidak mempunyai panggilan (gelar) khusus selain “sahabat Rasulullah”, karena tidak adalah panggilan yang lebih utama daripada panggilan ini. Mereka itu selanjutnya disebut “sahabat”. Pada masa sesudah itu, orang yang menjadi sahabat para sahabat Rasulullah Sha/lallahu Alaihi wa Sal/am disebut sebagai “tabf’in”. Mereka menganggap panggilan tersebut sebagai panggilan yang paling luhur. Orang yang hidup setelah masa tabi’in pun kemudian disebut sebagai “tabiit tabi’in” (pengikut para tabi’in). Kemudian zaman pun berganti dan derajat orang pun menjadi berbeda. Orang khusus dan yang menekuni masalah agama kemudian disebut zahid (orang yang zuhud) dan abid (orang yang banyak ibadahnya). Selanjutnya muncullah bidah-bid’ah dan klaim-klaim suci dan setiap kelompok. Setiap kelompok mengklaim mempunyai orang zahid. Maka sekelompok Ahlussunnah yang senantiasa mendekatkan din pada Allah dan menjaga hati dan kelalaian mengkhususnya diri dengan sebutan sufi. Sebutan ini mulai dikenal di kalangan orang-orang besar tersebut sebelum abad ke-2 Hijriyah.”

Tasawuf Al-Ghazali

Dalam sejarah filsafat Islam, Al-Ghazali dikenal sebagai orang yang pada mulanya ragu terhadap segala-galanya. Perasaan ragu kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran Ilmu al-kalam atau teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini. Sebagaimana diketahui, dalam Ilm al-kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Timbulah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul-betul benar di antara semua aliran itu? Ia ingin mencani kebenaran yang sebenarnya yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran, seperti kebenaran sepuluh lebih banyak dari tiga[18].

Setelah Al-Ghazali melihat bahwa ahli ilmu kalam, filusuf, dan kaum Bathiniyah tidak mampu mengantarkannya mencapai keyakinan dan hakikat, maka dia melirik tasawuf yang menurut pandangannya adalah harapan terakhir yang bisa memberinya kebahagiaan dan keyakinan. Ia mengatakan, “Setelah aku mempelajari ilmu-ilmu ini (ilmu kalam, filsafat, dan ajaran Bathiniyah), aku mulai menempuh jalan para sufi.”

Menurut Imam Ghazali, tasawuf adalah “Jalan (thariq) ditempuh dengan mempersembahkan kegiatan mujahadah (perjuangan) dan menghapus sifat-sifat tercela dan memutuskan semua ketergantungan dengan makhluk, serta menyongsong esensi cita-cita bertemu Allah. Jika tujuan itu tercapai, maka Allah-lah yang menjadi penguasa dan pengendali hati hamba-Nya, dan Dia menerangi hamba-Nya dengan cahaya ilmu.” “Jika Allah berkenan mengurusi hati hamba-Nya, maka Dia akan menambahkan rahmat pada hati tersebut; cahaya hati tersebut akan bersinar cemerlang, dada menjadi lapang, terbuka baginya rahasia kekuasaan Allah, hijab yang menghalangi kemuliaan hati akan terbuka dengan kelembutan rahmat, serta hakikat masalah-masalah ketuhanan akan tersibak.”

Jika semua ini telah dicapai, maka seorang sufi telah mencapai derajat musyahadah yang menjadi tujuan tasawuf[19].

Pengetahuan Intuisi menurut Al-Ghazali [20]

Menurut Al-Ghazali, Pengetahuan yang dapat membebskan dari keraguan adalah pengetahuan intuisi (ma’rifat hadsiyah) atau ‘isyraqiyah’ (illuminisme). Tetapi, apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan ‘pengetahuan intuisi’ itu?

Al-Ghazali menjelaskan ‘pengetahuan intuisi’ sebagai berikut: “Ilmu yang memperkenalkan seseorang pada masalah-masalah yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tapi ia tidak meragukan kebenarannya. Ia tidak dapat mengajarkan ilmu ini pada orang lain jika orang lain itu tidak menempuh jalan yang pernah ditempuhnya.” Artinya, ia tidak dapat membuktikan kebenaran pengetahuan yang didapatkannya itu dengan logika. Tetapi, ia sendiri tidak meragukan kebenarannya, karena pengetahuan intuisi memberikan keyakinan mutlak. Menurutnya, pengetahuan semacam ini dapat dicari

Al-Ghazali juga menyebut pengetahuan intuisi sebagai ‘cahaya’ yang ditanamkan Allah dalam dadanya. “Yang aku maksud dengan pengetahuan intuisi bukanlah keyakinan seseorang awam yang didapatkannya secara turun-temurun dan taklid. Pengetahuan intuisi bukan pula ilmu yang didapatkan dengan cara debat untuk membela pendapat sendiri sebagaimana yang dilakukan para ahli ilmu kalam. Tetapi, ia adalah ragam keyakinan yang merupakan buah dan cahaya yang ditanamkan Allah dalam hati hamba yang mensucikan batinnya dan segala kotoran.”

Dengan cahaya yang telah dianugerahkan Allah, akal telah bersih dan suci, artinya terlepas dari segala campur-tangan indra dan keraguan. Akal meminjam cahaya dari Allah.Jika cahaya menerangi akal, maka sesungguhnya Allah telah mengirimkan cahaya tadi. Akal akan mengambil cahaya dari Cahaya-Hakiki.

Pandangan Al-Ghazali tentang Ittihad dan Hulul

Islam sebagai agama yang lengkap dan utuh memberi tempat sekaligus kepada jenis penghayatan keagamaan eksoterik, yang bersifat lahiri, dan jenis penghayatan keagamaan esoterik, yang bersifat batini. Dalam perkembangan pemikiran Islam, jenis penghayatan keagamaan yang bersifat batini berkembang menjadi ilmu tersendiri yang dinamakan tasawuf. Tasawuf mempunyai segi-segi yang luas. Inti ajaran tasawuf berlainan, selain mengajak kaum Muslimin untuk memperhatikan persoalan kesucian jiwa, mendekatkan diri kepada Allah dengan sekat-dekatnya, dan merasakan kehadiran Allah serta melihat-Nya dengan mata hati; bahkan merasakan persatuan dengan Allah. Persatuan manusia dengan Allah dalam tasawuf dirumuskan dalam bentuk Ittihad dan Hulul.

Ittihad adalah kesatuan. ittihad dapat diartikan sebagai tingkatan dalam tasawuf di mana seorang sufi, setelah mencapai tingkat kefanaan, merasa dirinya bersatu dengan Tuhan, (al-ittihad). [21]Sementara Hulul, bisa berarti Tuhan mengambil wadah dalam diri manusia atau Dua ruh bertempat dalam sebuah tubuh.

Dengan menempatkan al-qurb sebagai ujung Sufisme, al-Ghazâli menolak konsep Ittihad dan Hulul bila kedua paham itu diartikan sebagai bersifat hakiki. Penolakannya terhadap konsep ini bukan saja didasarkan pada argumen-argumen rasional, tetapi juga argumen teologis. Singkat argumen itu, bahwa Ittihad dan Hulul hakiki itu keberadaanya dimustahilkan oleh akal sehat, dan bahkan bertentangan dengan prinsip tauhid dalam akidah Islam. Tetapi, secara implisit, tampaknya Al-Ghazali tidak menolak dan ia menerima keberadaan Ittihad dan Hulul, kalau keduanya dipahami sebagai bersifat majadzi (kiasan) semata. Kesan ini muncul setelah ia menyatakan bahwa Mukasyafah, terbukanya tabir antara manusia dan Tuhan, lebih baik disembunyikan.

Kesimpulan

Tasawuf adalah sebuah :seni” beribadah, “Tasawuf adalah sebuah jalan (thariq) yang ditempuh dengan mujahadah (perjuangan), melalui riyadhoh (usaha penyucian batin), menghapus sifat-sifat tercela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT

Allah akan menerangi hamba yang mendekati-Nya dengan cahaya ilmu. Hati manusia akan bersinar cemerlang, dada menjadi lapang, terbuka hijab, dan hakikat masalah-masalah ketuhanan akan tersibak.

Bila realitas telah tersibak, hakikat realitas telah diperoleh penempuh jalan tasawuf, Hijab telah disingkapkan oleh Allah, sebaiknya pengalaman itu disembunyaikan. Menurut al-Ghazali yang berhasil “memurnikan” tasawuf, sebuah pengalaman spiritual sebaiknya disimpan untuk diri sendiri saja. Bukan tidak mungkin saat disampaikan, khususnya kepada awam, hal itu malah memicu masalah atau kontroversi. Bisa jadi pengalaman spiritual atau pengalaman mistisisme seseorang benar adanya, namun orang lain yang tidak memahami esensi pengalaman spiritual dan pernyataan tentang pengalaman itu akan menganggap pelaku sebagai orang yang tersesat. Seseorang yang memperoleh pengalaman spiritual pun perlu berhati-hati (mengikuti syariat) agar pengetahuan tentang realitas melalui mistisisme benar berasal dari Allah. bukan jin, syetan atau iblis yang mengelabui tanpa disadari.

Daftar Pustaka

Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf Antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta, Khalifa

Asmaran As., 1996, Pengantar Studi Tasawuf, jakarta, RajaGrafindo Persada

Ismail, Asep Usman, Masalah Al-Walayah dalam Tasawuf, dalam Jurnal Paramadina, Vol. 1, No. 2

Jaiz, Hartono Ahmad, 1999, Mendudukkan Tasawuf, Jakarta, Darul Falah

King, Richard, 2001, Agama, Orientalisme dan Poskolonialisme, Yogyakarta, Qalam,

Leaman, Oliver, 2001, Pengantar Filsafat Islam, Bandung, Mizan,

Muniron, Pandangan Al-Ghazali tentang Ittihad dan Hulul, Jurnal Paramadina, Vol. 1, No. 2, 1999

Nasution, Harun, 1973, Falsafat dan Mistisisme, Jakarta, Bulan Bintang

Qardhawi, Yusuf, 1997, Al-Ghazali Antara Pro-Kontra , Surabaya, Pustaka Progressif

Rosyidi, 2004, Dakwah Sufistik Kang Jalal, Jakarta, Paramadina

Schimmel, Annemrie, 2000, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus

Tafsir, Ahmad, 2004, Filsafat Ilmu, Bandung Remaja Rosdakarya

Tebba, Sudirman, 2003, Syaikh Siti Jenar, Bandung, Pustaka Hidayah


[1] King, Richard, 2001, Agama, Orientalisme dan Poskolonialisme, Yogyakarta, Qalam, hal. 1

[2] A.S. Hornby, A Leaner’s Dictionary of Current English, 1957, dalam Tafsir, Ahmad, 2004, Filsafat Ilmu, Bandung Remaja Rosdakarya, hal. 112

[3] Schimmel, Annemrie, 2000, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta, Pustaka Firdaus, hal 1-2

[4] Nasution, Harun, 1973, Falsafat dan Mistisisme, Jakarta, Bulan Bintang, hal. 47

[5] Tafsir, Ahmad, 2004, Filsafat Ilmu, Bandung Remaja Rosdakarya, hal. 120

[6] Leaman, Oliver, 2001, Pengantar Filsafat Islam, Bandung, Mizan, hal. 90-91

[7] Tebba, Sudirman, 2003, Syaikh Siti Jenar, Bandung, Pustaka Hidayah

[8] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf Antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta, Khalifa, hal. 5

[9] Qardhawi, Yusuf, 1997, Al-Ghazali Antara Pro-Kontra , Surabaya, Pustaka Progressif, hal. v-vi

[10] Rosyidi, 2004, Dakwah Sufistik Kang Jalal, Jakarta, Paramadina, hal. 9

[11] Asmaran As., 1996, Pengantar Studi Tasawuf, jakarta, RajaGrafindo Persada, hal. 322

[12] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf Antara Al-Ghazali & Ibnu Taimiyah, Jakarta, Khalifa, hal. 47-52

[13] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu TaimiyahJakarta, Khalifa, hal 9-11

[14] Jaiz, Hartono Ahmad, 1999, Mendudukkan Tasawuf, Jakarta, Darul Falah, hal. 24

[15] Ismail, Asep Usman, Masalah Al-Walayah dalam Tasawuf, dalam Jurnal Paramadina, Vol. 1, No. 2, 1999

[16] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu TaimiyahJakarta, Khalifa, hal, 12-14

[17] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu TaimiyahJakarta, Khalifa, hal. 16

[18] Nasution, Harun, 1973, Falsafat dan Mistisisme, Jakarta, Bulan Bintang, hal. 31-32

[19] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu TaimiyahJakarta, Khalifa, 96-107

[20] Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, 2005, Tasawuf antara Al-Ghazali & Ibnu TaimiyahJakarta, Khalifa, 156-157

[21] Muniron, Pandangan Al-Ghazali tentang Ittihad dan Hulul, Jurnal Paramadina, Vol. 1, No. 2, 1999

(Tulisan dibuat oleh M.E. Fuady, S.Sos., M.Si.)

About these ads

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Tulisan ini dipublikasikan di Islam, Mistisisme. Tandai permalink.

4 Balasan ke Tasawuf (Mistisisme) dan Pandangan Al-Ghazali

  1. Admin Webblogs berkata:

    Trim pencerahannya…
    Seandainya saudara muslim kita yg mudah menunjukkan kafir saudaranya sendiri mengetahui bahwa Sufisme-pun mensyaratkan kepatuhan pada hukum Islam bahkan seorang sufi tidak boleh melanggar aturan (syari`at) Allah dan Rasululah… mungkin akan lebih lunak hatinya penuh dgn cinta…

  2. rohandyyousouf berkata:

    elmu ntu, gan . makasih ye

  3. wiranta kusuma berkata:

    tasawuf bagaikan angin tidak akan ada yang bisa menjelaskan hanya bisa merasakan .. lembut sepoi sepoinya .. besar manfaatnya .. gampang di cari sulit dipertahankan #salam kenal dulur

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s