Media Sosial dan Etika Komunikasi (2)

Beberapa Kasus di Media Sosial

Karakter media yang membebaskan untuk berbicara, berbagi, bersosialisasi, membuat media sosial melahirkan konsumen yang kritis, senang berbagi, dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam banyak hal. Mereka membicarakan apa saja, termasuk, hobi, suasana kerja, dan merek yang mereka konsumi secara terbuka satu sama lain.

Sayangnya banyak pula dari mereka yang melakukan aktivitas yang tidak produktif (baca : negatif), menyinggung SARA, mengkritisi secara tidak etis, menyebarluaskan kebencian, memamerkan “sisi gelap” dan kebohongan. Inilah yang membuat banyak orang miris dengan perkembangan media sosial seperti facebook.

Beberapa bulan lalu media massa dihiasi berita hilangnya siswi SMP dan SMA di beberapa daerah setelah kopdar (kopi darat) dengan teman facebooknya. Kita juga pernah mendengar seorang guru dilecehkan oleh empat orang muridnya dalam status facebook dan komen-komen mereka. Walhasil murid-muridnya harus angkat kaki dari sekolah itu. Seorang siswi SMA di Bogor dihina oleh mantan kekasihnya, dan ternyata yang menulisnya adalah cewek baru sang mantan tanpa sepengetahuan dirinya. Seorang mahasiswi di Jakarta disebarluaskan foto-foto bugilnya oleh seseorang, padahal; itu adalah foto pribadi dan dilakukan untuk menyembuhkan teman laki-lakinya dari sakit aneh atas saran seorang dukun (Sungguh, obat yang aneh). Link atau tautan video mesum baik yang mirip artis ataupun bukan, disebarluaskan pengguna dengan sengaja. Barangkali unduh-mengunduh video seperti itu menjadi kebiasaan pengguna media sosial.

Seorang facebooker bernama I*** R***** pernah menjadi public enemy number one di Bali gara-gara status yang menyinggung hari raya Nyepi. Mario Teguh, sang motivator ulung, pernah tersandung gara-gara tulisannya di twitter (meski menurut saya isi tulisan itu tidak salah). Sebelum kasus video panas mirip dirinya, Luna Maya, membuat tweet yang menyatakan infotainment derajatnya lebih rendah dari pelacur, gara-gara anak sang kekasih, Ariel Peterpan, kena “seruduk” kamera PEKERJA INFOTAINMENT (baca : bukan wartawan), saat digendong Luna. Saat itu ketiganya menjadi musuh publik yang gerah dengan kata-katanya di media sosial.

Armand Maulana berseteru dengan beberapa pengguna twitter karena re-tweet dan foto yang Armand mengenakan kaos yang dianggap menghina fans Liverpool di seluruh dunia. Armand sudah mengklarifikasi masalah itu. Sampai-sampai seorang pengguna twitter diancam akan diajukan ke meja hijau bila tidak mencabut kata-katanya yang menghina Dewi Gita, istri vokalis Gigi itu.

Sebuah universitas ternama sempat “terguncang” dengan disebarkan sebuah video di Youtube yang menggambarkan dan menginformasikan aktifitas salah seorang mahasiswinya selepas acara prom night, perpisahan anak-anak SMA. Dalam video itu, mereka yang meng-upload file menyatakan “permohonan’ kepada pimpinan universitas tersebut untuk memperhatikan masalah moral. Tetapi menjadi sebuah promosi negatif bagi lembaga itu meski setelah ditelusuri mahasiswi itu tidak pernah aktif kuliah.

Disadari atau tidak, terdapat pengguna media sosial yang sibuk dengan kejahiliahannya. Di bawah ini adalah beberapa di antaranya. Foto dan akun facebook penulis sensor :

Kasus pertama adalah umpatan yang dilakukan karyawan sebuah bank terkemuka terhadap nasabahnya. Kasus kedua adalah umpatan seorang remaja terhadap ibunya (info dari pengguna FB lain, ia mengutuk ibu tirinya). Kasus ketiga adalah penghinaan (SARA) seorang remaja yang diduga pendukung sebuah klub sepakbola terhadap striker Persib Bandung, Christian Gonzales dan istri, klub sepakbola Persib, kota Bandung, suku Sunda dan agama Islam. Kasus keempat adalah umpatan seorang remaja konon asal Rancaekek, Sumedang, yang ditolak cintanya oleh seorang perempuan. Remaja ini sampai berani mengumpat Tuhan dengan kata kasar di situs jejaring sosial. Terakhir, kasus kelima perusahaan sebesar Nissin melakukan kesalahan fatal dengan membuat status yang mengajak pengguna facebook dan teman-temannya menunggu kelanjutan video panas mirip artis sambil makan wafer Nissin. Pihak Nissin sendiri telah mengklarifikasi hal ini dalam berbagai media, di antaranya detik.com.

Tampaknya telah terjadi pergeseran nilai di kalangan masyarakat, khususnya pengguna media sosial yang semestinya berada dalam sebuah koridor atau lebih tepatnya etika berkomunikasi di dunia maya, yang nyatanya semakin hari semakin diabaikan. Pengguna media sosial mengira bahwa teknologi/internet dapat digunakan sekehendak hati, sebebas-bebasnya, padahal kebebasan seseorang bersinggungan dengan kebebasan orang lainnya. Bila tidak bijak dalam menggunakan teknologi komunikasi, banyak pihak akan melakukan kecaman seperti kasus di atas.

Aktifitas Negatif Pengguna Media Sosial

Aktifitas negatif oknum pengguna sosial media :

  1. Penipuan/Penyebarluasan berita bohong. Di dunia maya, orang bisa menyebarkan informasi bohong tanpa seorang pun tahu. Itulah yang namanya HOAX. Orang baru menyadari bahwa itu bohong tatkala informasi itu ternyata salah. Seperti berita meninggalnya Ketua Umum Persis, K.H. Siddiq Amien, MBA. Berita itu telah disebarluaskan karena ada info dari seseorang, melalui facebook, dalam kenyataannya Ust. Siddiq Amin memang sakit namun tidak meninggal seperti yang diberitakan.
  2. Penistaan/Penyebarluasan kebancian. Seseorang menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian terhadap[ seseorang atau agama tertentu. Mislnya seperti yang dilakukan oleh pembuat/administrator berita http://www.muslim.wordpress.com. Situs ini tampaknya seperti kajian keislaman, padahal isinya justru menghujat agama Islam, Allah dan Nabi Muhammad.  Hal yang sama dilakukan beberapa pengguna facebook dengan membuat akun yang “serupa namun sama”.
  3. Hoax. Seperti akun facebook fiktif yang digunakan untuk mencemarkan nama baik seseorang. Bisa saja seseorang membuat akun facebook fiktif lalu membuat status/posting yang melukai perasaan orang lain. Padahal orang yang sebenarnya mengetahui apapun, tidak membuat hoax, atau terlibat sama sekali.
  4. Maraknya pornografi. Teknologi informasi memudahkan orang mencari content apapun, termasuk pornografi. Pengaksesnya tidak menyadari bahwa contet ini merusak diri mereka.
  5. Mengkritik dengan salah kaprah. Bahasa yang digunakan pengguna media sosial terlalu berlebihan dan tidak merepresentasikan situasi yang sesungguhnya atau tidak proporsional.

Kesimpulan

Emha Ainun pernah menyatakan bahwa televisi si kotak bermata satu adalah “dajjal kecil”. Meminjam istilah Emha di majalah Amanah yang saat itu penulis masih dusuk di bangku SD, penulis curiga bukan tidak mungkin dajjal yang bermata satu seperti yang dinyatakan Rasulullah dalam haditsnya, memang kotak bermata satu yang bisa saja itu bukan saja televisi, tetapi juga ponsel, komputer atau laptop yang digunakan secara jahiliyah.

Kita paham perangkat ICT memiliki dua wajah yang berbeda. Seperti dua sisi dari koin yang sama. Seperti pisau bermata dua. Plus minusnya kembali kepada pengguna. Dalam hal ini, pengawasan dan aturan adalah aspek utama yang dapat mengurangi tindak kejahatan di dunia maya. Karenanya, tidak akan terjadi lagi kasus anak hilang, bulliying, penistaan, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Semua pihak, khususnya orang tua. Seperti yang dilakukan Adhyaksa Dault pada anaknya. Mantan Menegpora Adhyaksa Dault di acara dialog shubuh TV One mengancam anaknya. “Kalau kamu engga bisa ngaji, ngga ada yang namanya facebookan lagi,” katanya. Selain itu diperlukan pula peran pendidik dan pemerintah, bekerjasama menciptakan keberadaban dalam penggunaan ICT.

Dimitri Mahayana mengatakan bahwa orang akan muak dengan kejahiliyahan di dunia maya, semakin hari pengguna ICT akan jauh labih beradab. Muara dari penggunaan teknologi komunuikasi adalah wisdom, kebijaksanaan. Bercermin dari kasus yang terjadi, orang akan semakin “smart, wise using internet and think before write”.

Kita berharap seperti itu. Amin.

(kembali ke halaman teknologi komunikasi)

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Teknologi Komunikasi. Tandai permalink.

3 Balasan ke Media Sosial dan Etika Komunikasi (2)

  1. Ping balik: Komputer Multimedia : Sebuah Pengantar | imultidimensi's Blog

  2. isaynaning berkata:

    semakin ke sini, semakin terasa betapa rendahnya kecerdasan kita-intelejensi maupun emosional-sebagai warga Masyarakat Informasi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s