Globalisasi Informasi dan Aktualisasi Sikap Muslim

Dewasa  ini, masyarakat di berbagai belahan dunia telah memasuki millennium ketiga. Banyak perubahan yang telah terjadi dalam kehidupan manusia sejak awal kehadirannya di dunia untuk membangun peradaban hingga saat ini. Perubahan yang akan terjadi pada masa yang akan datang, tak seorang pun tahu. Yang dapat dilakukan oleh semua orang adalah melaksanakan peranannya masing-masing untuk mencapai berbagai kebutuhan hidup.

Para ahli seperti cendekia, praktisi dan ilmuwan memiliki peranan untuk membangun kehidupan dengan caranya masing-masing. Para ahli memiliki peranan dalam melakukan pengembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dalam bidang komunikasi. Penemuan para ahli tersebut, baik berupa fisik (alat) maupun nonfisik (keahlian), dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain itu, para ahli juga dapat menggunakan keahliannya untuk membuat analisis dan prediksi secara ilmiah dan rasional mengenai apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.   Membuat prediksi atau meraba-raba mengenai apa yang terjadi di masa yang akan datang merupakan hal yang menarik untuk dilakukan. Para ahli mengemukakan tren atau kecenderungan-kecenderungan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Sebagai ilmuwan, seperti Toffler (1987) dan Naisbitt (1994), menyatakan bahwa memasuki abad ke-21 ada suatu kecenderungan yang terjadi di dunia, yaitu globalisasi. Menjelang milenium ketiga ini kita akan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin tidak terkendali, Manusia akan melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasinya. Manusia dapat melintasi ruang dan waktu. Wilayah yang sangat jauh dari jangkauan, dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia lainnya, bukanlah hambatan. Dengan waktu yang amat singkat, dalam hitungan detik, seseorang bisa mencapainya. Inilah kecanggihan dari teknologi komunikasi.

Salah satu akibat yang ditimbulkan oleh adanya teknologi komunikasi adalah globalisasi informasi. Tanpa disadari informasi selalu membanjiri kehidupan manusia. Tidak peduli baik atau buruk, teknologi komunikasi telah menjadikan informasi sebagai santapan kita sehari–hari yang kadangkala selalu kita telan bulat-bulat tanpa ada filter untuk menyaringnya. Teknologi komunikasi telah menciptakan suatu tatanan kehidupan masyarakat baru, yaitu masyarakat informasi yang selalu haus akan informasi (Staubhaar dan La Rose, 2000)

Yusuf Al-Qaradhawi (2001) menyatakan bahwa globalisasi memang membawa dampak yang buruk. Bahkan globalisasi bukanlah bermakna kerjasama dan saling membantu antara dua mitra yang merdeka dan terhormat,  seperti yang diajarkan Islam, tetapi bermakna seperti seorang tuan menindas budak, si kuat menindas si lemah. Bentuk nyata dari globalisasi lebih kepada westernisasi atau Amerikanisasi dunia. Globalisasi merupakan penjajahan gaya baru Amerika terhadap negara lain dalam berbagai bidang kehidupan seperti politik, ekonomi, budaya juga agama melalui produk-produk seperti kebijakan, tayangan dan informasi.

Perkembangan Media dan Globalisasi Informasi di Indonesia

Masyarakat di manapun, termasuk di Indonesia, walau bukan negara maju seperti Amerika, sebagian telah menjadi masyarakat informasi. Duapuluh enam tahun lalu, Indonesia adalah negara ke-3 di dunia, setelah Amerika dan Kanada, yang menggunakan sistem satelit sebagai sarana komunikasi domestik dengan diluncurkannya Satelit Palapa C2. Indonesia termasuk negara di deretan terdepan di Asia karena Malaysia, Thailand dan Philipina baru meluncurkan satelitnya pada pertengahan tahun 90-an. Jepang yang merupakan negara maju dalam bidang teknologi pun baru pada tahun 1985 meluncurkan satelit.

Indonesia, pada tahun 1986, adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang membuka diri terhadap globalisasi informasi. Antene parabola bermunculan seperti jamur di musim penghujan, tidak hanya dikota-kota besar tapi juga di pedesaan. Saat itulah dimulainya hantaman arus informasi global yang sarat dengan limbah budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku.

Dalam kurun waktu yang singkat, 1989–1993, lima stasiun televisi swasta bermunculan disertai dengan iklan-iklannya. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1999-2002, stasiun TV baru bermunculan. Hingga kini terdapat 10 stasiun TV swasta dan 1 milik pemerintah. Mau atau tidak, suka atau tidak, TV telah menjadi “pendamping setia” manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak. Televisi telah menjadi orang tua kedua bagi anak-anak. Merekalah yang mengasuh putera-puteri para orang tua di rumah dari bangun hingga tidur kembali. Disadari atau tidak oleh orang tua, TV telah “meracuni” anak-anak mereka. Pada waktu maghrib, anak-anak tidak mau mengaji karena pada saat itu, Indosiar menayangkan film Yoko, Sang Pendekar Rajawali Sakti (Pikiran Rakyat, Republika dan Kompas). Hal yang sama terjadi saat Captain Tsubasa ditayangkan (Republika).

Menurut Rakhmat (1996), beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehadiran media merubah pola hidup manusia. Sebagai contoh, para petani di Sumatera dan Kalimantan, waktu tidurnya menjadi larut malam dan bangun agak siang. Mereka malas untuk pergi ke ladang dan sawah setelah TV hadir di tengah-tengah mereka. Pola hidup mereka berubah. Peristiwa tersebut terjadi pada masa TVRI masih berjaya.

Menurut Rakhmat (1998:26), melalui “khutbahnya” TV telah menjadi “The First God”. Tak heran bila Gerbner (Rakhmat, 1996:53), seorang pakar komunikasi di Amerika, menyatakan bahwa  televisi telah menggeser agama-agama tradisional. Khutbahnya didengar dan disaksikan oleh jamaah yang lebih besar dari jamaah agama mana pun. Rumah ibadatnya tersebar di seluruh pelosok bumi, ritus-ritusnya diikuti dengan penuh kekhidmatan, dan boleh jadi lebih banyak menggetarkan hati dan mempengaruhi bawah sadar manusia daripada ibadat agama-agama yang pernah ada. Betapa dahsyatnya kekuatan “kotak hitam” itu. Mungkin, kedahsyatan TV itulah yang menyebabkan Steven Spielberg membolehkan anak-anaknya menonton TV hanya selama 1 Jam. Tidak lebih. Ia khawatir dengan dampak TV dan budaya yang ditawarkan. Padahal ia aadlah seorang sutradara besar di Amerika.

Setelah Soeharto jatuh dari tampuk kekuasaannya sebagai presiden, penerbitan media cetak seperti koran dan majalah mulai bermunculan karena SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) mudah diperoleh. Di masa pemerintahan Abdurahman Wahid dan Megawati, penerbitan pers tidak memerlukan SIUPP. Hal ini merupakan respon positif pemerintah yang tidak ingin “membungkam” pers.

Pada tahun 1995, pemerintah mengizinkan jaringan internet beroperasi di Indonesia. Dengan mudah, kapan saja dan di mana saja masyarakat dapat mengakses informasi. Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini di belahan dunia lain, kita dapat mengaksesnya melalui internet. Majalah Tempo dan Tabloid Detik yang pernah mati oleh Harmoko akibat SIUPP-nya dicabut, bangkit kembali dari “kuburnya”. Para wartawan media tersebut membuat website tempointeraktif.com dan detik.com. Tentu saja penerbitan di dunia maya tidak memerlukan SIUPP. Kalangan bisnis dan usaha juga merespon positif. Hal ini dapat dilihat dengan adanya iklan di media tersebut.

Meskipun begitu, dampak negatif dari adanya internet pun cukup besar. Semua orang dapat mempergunakannya untuk menyebarluaskan dan memperoleh informasi apapun. Salah satunya adalah informasi yang menampilkan gambar-gambar yang tidak senonoh (cybersex). Seorang anak kecil yang mahir menggunakan internet dapat mengaksesnya tanpa takut diketahui orang lain.

Sikap seorang muslim dalam menghadapi serbuan informasi

Bila sumber daya alam pada zaman pertanian dan modal pada zaman industri menjadi sumber kekayaan, maka informasilah yang menjadi sumber pekerjaan dan kekayaan pada era global. Senjata dan modal bukanlah kekuatan, informasilah yang menjadi kekuatan. Siapapun yang menguasi informasi, ialah yang akan menguasai dunia. Teknologi komunikasi telah mengubah sikap dan pandangan manusia akan pentingnya informasi.

Suatu hal yang muskil/mustahil bagi kita untuk menghindar dari serbuan informasi, kecuali bila kita mengisolir diri kita dari kemajuan peradaban seperti yang dilakukan Pemerintah Taliban di Afganistan (saat itu) yang memerintahkan rakyatnya untuk membuang parabola, televisi, radio dan alat teknologi lainnya dengan dalih tidak sesuai dengan ajaran Islam. Banyak kemudaratan yang ditimbulkan oleh teknologi informasi. Tidak heran, setelah Amerika menjatuhkan Taliban, rakyat Afghanistan berbondong-bondong membeli perangkat TV dan Video CD. Sebagai manusia biasa, mereka haus akan informasi dan hiburan.

Tidak kita sangkal bahwa teknologi komunikasi membawa banyak perubahan pada kehidupan kita. Selain dampak positif, teknologi komunikasi telah membawa dampak negatif yang begitu besar. Informasi yang dihasilkan teknologi komunikasi telah membuat masyarakat cenderung konsumtif, hedonis dan individualis. Namun tindakan seperti yang dilakukan Taliban di Afganistan tidak dapat dibenarkan. Melarang penggunaan media massa dan menghancurkannya bukan solusi yang tepat.

Sayyidina Ali r.a. pernah memberikan nasihatnya, “ Siapa yang merasa aman menghadapi zaman, zaman akan menghancurkannya. Siapa yang tinggi hati menghadapinya, zaman akan merendahkannya. Siapa yang bersandar pada tanda-tanda zaman, zaman akan menyelamatkannya”. Relevansinya, manusia dengan segala keterbatasannya tetap adalah makhluk yang sempuna dibanding makhluk lainnya karena manusia diberi akal yang dapat dipergunakan untuk memikirkan segala sesuatu yang diciptakan Allah. Jadi, yang dapat dilakukan seorang muslim adalah bagaimana menciptakan suatu teknologi yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia, Kita harus menggunakan teknologi sebagai tanda kemajuan zaman dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkannya demi kepentingan manusia dalam kehidupan, bukan menyalahgunakannya. Dibutuhkan kejernihan dan kecerdasan bagi seorang muslim untuk mampu menyeleksi dan mengkaji informasi yang datang melalui teknologi tersebut, karena distorsi, manipulasi, polusi dan erosi informasi akan selalu ada ketika informasi diterima.   

Untuk mampu memanfaatkan teknologi agar bernilai dan tepat guna tersebut, seorang muslim harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Jadikanlah teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kecintaan kepada Allah karena teknologi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Manusia dapat menciptakan teknologi yang hebat namun Allah adalah Pencipta yang Maha Hebat, sehingga manusia tidak diperbudak oleh teknologi yang diciptakannya.

Mengakhiri tulisan ini perlu kiranya seorang muslim membuka pikiran dan hati dengan apa yang telah Allah SWT sampaikan sebagai hamba-Nya :

“ Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang bertakwa “

( Q. S. Yunus, 10 : 6 )

DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1996.

_____________, Catatan Kang Jalal : Visi Politik, Media dan Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.

Toffler, Alvin, The Third Wave, PT. Pantja Simpati, Jakarta, 1987.

Naisbitt, John, Global Paradox, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994.

Al-Qaradhawi, Yusuf, Islam Dan Globalisasi Dunia, CV. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001.

Wriston, Walter B., The Twilight Of Sovereignity, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1996.

Bahan Lain

Surat Pembaca, Harian Kompas, Republika dan Pikiran Rakyat

(Makalah dibuat tahun 1999 semasa penulis menjadi Ketua Hima PR Fikom Unisba, dimuat dalam Image, majalah Hima PR saat itu, dan setelah direvisi pernah dipresentasikan pada Seminar Ilmiah Komunikasi di Fikom Unisba tahun 2002)

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Teknologi Komunikasi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Globalisasi Informasi dan Aktualisasi Sikap Muslim

  1. Unknown people berkata:

    ehm, jazakumullah khair. . . . .!!! tulisannya bagus, i like it. . .??
    ingin nambah sedikit, tekhnologi juga akan menjadi ladang pahala jika kita bijak dalam penggunaanya. saah satunya sarana dakwah, hal ini akan lebih efisien dan efektif jika kita bisa mengelola tekhnologi itu dengan baik. . . . . . .^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s