Karakteristik Opini Publik

1) Adanya Masalah yang Kontroversial

Masalah kontroversial adalah masalah yang menimbulkan polemik, perbedaan pendapat, pro-kontra, setuju-tidaksetuju karena tidak lazim (menyimpang). Masalah in juga terkait dengn kepentingan orang banyak (sosial). Contoh, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak Ramadhan 2005 lalu menegaskan bahwa para pejabat dilarang menerima parcel lebaran dalam bentuk apapun. Itu dianggap sebagai jalan terjadinya korupsi dan kolusi karena pejabat akan merasa terikat/berutang budi pada pemberi parcel.

2) Adanya Publik Secara Spontan

Bentuk publik yang ada memang tidak harus terlihat secara fisik, namun demikian akan terasa adanya publik yang berkepentingan terhadap masalah tersebut. Tanpa diminta, tanpa diarahkan tercipta publik yang berbeda. Contoh, Isu (masalah) parcel di atas memunculkan publik yang berperhatian (atentif) dan berkepentingan. Tanpa diarahkan, muncul publik yang terdiri dari KPK, pedagang  parcel, konsumen, pejabat yang biasanya menerima prcel, dll.

3) Adanya Diskusi Sosial

Proses terbentuknya opini publik adalah melalui proses diskusi, dapat langsung seperti kuliah, rapat dan seminar (tatap muka), juga melalui media massa seperti: acara diskusi/dialog interaktif di Metro TV mengenai berbagai isu aktual. Dalam acara seperti News Dot Com (NDC), terdapat pula diskusi secara spontan. Misal, dipertemukannya para pedagang parcel dengan anggota KPK. Terjadi diskusi secara spontan di antara mereka, saling timpal menyampailkan argumentasi, sirkular, laksana gayung bersambut. Penonton di rumah pun berdiskusi secara spontan (mengemukakan opininya kepada keluarga/kawan lainnya). Acara tersebut memang direncanakan dan mengandung “drama”. Si Butet Yogya (SBY), Effendi Ghazali, dkk, tentu saja sudah mempersiapkan dan mengemas acara sedemikian rupa (termasuk naskah dan tokoh rekaan). Tetapi harus dibedakan antara istilah “direncanakan” dengan “spontan”. Spontan yang dimaksud bukan “Spontan”-nya pelawak Komeng, “Uhuy..””. Bukan semata; tanpa diduga, tiba-tiba dua orang bertemu, membicarakan sebuah isu, keduanya mengemukakan opini, terdapat persamaan atau perbedaan pendapat, lalu diskusi selesai. Sebuah acara TV atau berita di koran yang sudah tentu direncanakan program director dan editor akan memunculkan diskusi secara spontan. Untuk lebih jelas, lihat halaman berita dan Opini di Kompas setiap hari. Semua publik seperti narasumber, penulis kolom, juga pembaca (baik yang eceran maupun langganan), tanpa bertatap muka dipertemukan oleh media massa. Dalam situasi yang direncanakan atau tidak, diskusi dapat terjadi.

4) Adanya Opini yang Mudah Berubah dan Diubah Opini-opini yang telah timbul dalam masyarakat yang mempermasalahkan hal-hal yang sedang hangat tersebut dapat berubah atau diubah setelah adanya berkembangan/informasi baru dari orang lain, pers, penjelasan pemerintah, dll (lhat  Perubahan Opini). Contoh, bisa saja anggota KPK berubah opininya setelah  melihat kenyataan memburuknya perekonomian rakyat yang diindikasikan – secara mikro – dengan sepinya order pedagang parcel. Mereka terenyuh dan berempati. Bahkan lebih kuat perubahan opininya setelah muncul pernyataan dari pedgang parcel “Kalau memang benar parcel ini memunculkan korupsi pejabat yang menerima (parcel), berapa sih angka dan prosentase penurunan korupsi setelah KPK melarang pejabat menerimanya? Toh masih tetap banyak yang korupsi. Jangan kami yang dirugikan dong!”. Anda sebagai penonton di rumah yang tadinya mendukung KPK, berubah opininya, mengamini para pedagang parcel tersebut.

5) Adanya Ekspresi atau Pernyataan Secara Spontan Muncul pernyataan atau pendapat mengenai masalah sosial atau isu yang kontroversial, tanpa diarahkan, ditekan dan dipaksa, karena setiap masalah tersebutlah yang menimbulkan opini publik. Contoh, Pedagang parcel, KPK, mahasiswa, penonton di rumah, yang mengikuti acara NDC tidak diarahkan, dikendalikan, bahkan diintimidasi, direpresi, diancam, untuk mengemukakan opini yang mendukung atau menolak. Itu semua terserah pada individu tersebut, sesuai dengan penilaian dan penafsirannya masing-masing (Dalam beberapa kasus tertentu memang ada pernyataan publik yang sengaja diarahkaan unuk menimbulkan reaksi Lebih jelasnya akan dibahas pada subbab lain)

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Opini Publik. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Karakteristik Opini Publik

  1. Ping balik: OPINI PUBLIC | Iyan Setiawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s