Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Opini

Pendapat yang muncul pada seorang individu dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum dipengaruhi oleh 2 faktor (Yulianita, 1996:7),  yaitu :

1. Faktor internal, yakni bakat atau fisik pembawaan sejak lahir.

Contoh :   Pada masa kanak-kanak, beberapa tunarungu merasa malu, minder dalam bergaul. Sedikitnya, mereka kecewa akan kekurangan fisiknya. Mereka memiliki opini bahwa dunia/Tuhan kejam karena mereka lahir dengan kondisi fisik berbeda dengan yang lain. Opininya negatif, terutama dalam menghadapi lingkungan.

2. Faktor eksternal, umpamanya : lingkungan, sejarah hidup, agama, aliran politik, kedudukan sosial ekonomi dalam masyarakat, dan sebagainya.

Contoh :   Saat tumbuh menjadi remaja dan dewasa, beberapa tunarungu di atas opininya berubah, tidak negatif (minimal tidak senegatif) seperti pada masa kanak-kanak. Lingkungan (masyarakat) menerima kehadiran mereka apa adanya. Dukungan keluarga dan masyarakat begitu besar. Mereka bisa memperoleh pendidikan keahlian musik dan massage, seperti di Wiyata Guna, Jl. Pajajaran, Bandung. Sebagai muslim, mereka menyadari bahwa dunia tidak kejam. Mereka dapat berkiprah dan berkarya meski memiliki keterbatasan. Mereka beropini, “Kami memiliki keterbatasan. Tetapi kami tidak berbeda dengan orang lain. Keterbatasan tidak membuat kami menjauh dari lingkungan.  Dan Allah telah memberi kami kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Allah telah mencukupi kami dengan keahlian, rezeki dan kawan serta keluarga yang setia. Itu membuat kami siap dalam menjalani kehidupan.

Contoh lain: Seorang muslim yang taat biasanya memiliki penilaian (opini) yang kurang positif terhadap partai-partai sekuler. Ia lebih menyukai partai Islam. Opini mereka, “Partai sekuler (basis non agama) tidak akomodatif terhadap kepentingan umat Islam. Jadi, untuk apa memilih partai sekuler!”.

Mahasiswa yang berasal dari keluarga berada akan berbeda pendapatnya dengan yang berasal dari keluarga kurang mampu mengenai kenaikan biaya kuliah di sebuah universitas. Mahasiswa yang kurang mampu, apalagi anak yatim, akan mengalami kesulitan membayar biaya kuliah. Seusai memberi kuliah Opini Publik, Rabu, 15 November 2006, pukul 10 pagi di Unisba, penulis bertemu ibu dari seorang mahasiswa psikologi, yang bekerja sebagai guru. Dengan wajah yang tampak sedih, ibu itu mengungkapkan (opini), “Untuk mencari biaya kuliah sebesar 5 juta-an sangat sulit. Saya berharap Unisba akan memberi keringanan pembayaran kepada anak saya”.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Opini Publik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s