Antara Sikap, Opini dan Perilaku

Sikap, opini dan perilaku adalah tiga aspek yang berbeda namun saling menunjang. Semuanya terdapat dalam  diri manusia. Struktur sikap terdiri dari tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif dan konatif.

Komponen kognitif merupakan pengejawantahan dari apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional, sedangkan komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh individu.

Opini dan perilaku berbeda dengan sikap dalam perwujudannya namun sikaplah yang mendasari dikemukakannya opini dan diaktualisasikannya sebuah tindakan. Sikap mendasari opini dan perilaku. Sebuah opini dikemukakan karena adanya pengetahuan, keyakinan, perasaan, dan minat individu. Begitu pula dengan perilaku. Sebuah perilaku yang merupakan tindakan nyata yang dapat dilihat merupakan perwujudan nyata dari pengetahuan, keyakinan, perasaan, dan minat individu. Sikap ada dalam diri dan sulit untuk diketahui. Opini dan perilaku adalah ekspresi dari sikap. Namun, dalam situasi atau konteks tertentu bisa saja opini dan perilaku bertentangan dengan sikap.

Untuk lebih jelasnya mengenai sikap, akan diuraikan satu persatu dari ketiga komponen sikap tersebut dengan contoh obyek sikapnya masing- masing. 

1. Komponen Kognitif

Seperti yang telah dijelaskan di atas, komponen kognitif merupakan kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang dianggap benar bagi obyek sikap. Kita ketahui bahwa aspek kognitif terdiri dari komponen-komponen yang saling menunjang. Adapun komponen-komponen tersebut adalah persepsi, kepercayaan dan stereotipe. Komponen-komponen kognitif ini kemudian sering diartikan sebagai pandangan atau opini.

Sarlito Wirawan Sarwono mengemukakan bahwa “…kognisi adalah bagaian dari jiwa yang mengolah onformasi, pengetahuan, pengalaman, dorongan, perasaan dan sebagainya, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri sehingga terjadi simpulan-simpulan yang selanjutnya menghasilkan perilaku” (Sarwono, 1997:76).

Sekali kepercayan telah terbentuk, maka ini akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang diharapkan dari suatu obyek tertentu. Sebagai contoh, buku bacaan, rubrik mengenai kesehatan, pengalaman pribadi, dan apa yang diceritakan orang lain merupakan dasar utama kepercayaan seseorang mengenai dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku seks bebas. Terkena virus HIV, kehamilan yang tidak diinginkan, sampai pada tahap yang mengkhawatirkan adalah tingkat aborsi yang tinggi merupakan efek negatif yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas.

Kepercayaan seseorang terhadap segala sesuatu terkadang tidak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Seseorang yang telah mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas tersebut terkadang sering menafikkan bahaya tersebut, dan melakukan aktivitas seks dengan bebas bahkan dengan alasan tidak ada bimbingan orangtua, kebutuhan biologis bahkan alasan yang tidak masuk diakal, yaitu mengikuti perkembangan jaman.

2.   Komponen Afektif

Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiiki seseorang terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Sebagai contoh, dua orang yang mempunyai sikap negatif terhadap seks bebas, seseorang yang tidak menyukai seks bebas dikarenakan takut akan bahaya yang ditimbulkan oleh seks bebas. Sedangkan seseorang yang dididik dengan ajaran agama dan disiplin yang kuat sejak kecil memperlihatkan ketidaksenangannya terhadap perilaku seks bebas dalam bentuk rasa benci.

Jika dikaitkan antara aspek afeksi dan aspek konasi, akan terdapat perbedaan. David, Jonathan dan Anne menyebutkan perbedaan tersebut adalah “…biasanya kognitif lebih mudah diubah. Dari perbedaan antara sikap dan keyakinan akan fakta, sikap memiliki komponen emosional atau komponen evaluatif yang tidak dimiliki oleh keyakinan akan fakta” (David, Jonathan, Anne, 1992:140).

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa komponen afektif lebih dapat bertahan jika dibandingkan dengan komponen kognitif. Azwar menyebutkan bahwa “…pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak dipengeruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai benar dan berlaku bagi obyek yang dimaksud” (Azwar, 1997:27)

3. Komponen Konatif

Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya. Hal ini didasari oleh suatu asumsi bahwa kepercayan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku, artinya seseorang yang berperilaku tertentu sesuai dengan stimulus yang dihadapinya akan ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut.

Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan, akan membentuk sikap individu. Karena itu menurut Azwar, adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk tendensi perilaku terhadap obyek. Apabila sesorang percaya bahwa perilaku seks bebas itu tidak menyenangkan/berbahaya/beresiko dan merasa tidak suka atas dampak yang ditimbulkannya, maka wajarlah jika ia tidak akan melakukan seks bebas.

Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif, perasaan sebagai komponen afektif dan tendensi perilaku sebagai komponen konatif akan menjadi landasan dalam usaha penyimpulan sikap. Hubungan yang sistematis dan langsung antara sikap dengan perilaku nyata tidak bisa diukur dengan sikap seseorang, karena sikap bukan merupakan determinan satu-satunya bagi perilaku.

Kecenderungan berperilaku menunjukan bahwa komponen konasi meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung, akan tetapi meliputi pula bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan seseorang. Para ahli psikologi menyatakan bahwa komponen-komponen dalam sikap ini harus konsisten dan selaras satu sama lain. Jika komponen tersebut tidak selaras, maka yang akan terjadi adalah inkonsistensi diantara komponen sikap.

Proses pembentukan sikap dalam diri seseorang diperoleh juga dari interaksi sosial sehingga dari interaksi sosial ini akan membentuk sikap sosial. Proses interaksi bukan hanya sekedar kontak sosial dan hubungan di antara individu sebagai anggota kelompok sosial, akan tetapi terjadi hubungan saling mempengaruhi dan hubungan timbal balik diantara individu yang satu dengan individu yang lain.

Azwar mengemukakan penjelasannya bahwa”…dalam interaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai obyek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosi dalam diri individu (Azwar, 1997:30).

Dari pernyataan di atas terlihat bahwa ketidaksesuaian antar sikap dan perilaku dipengaruhi oleh orientasi individu terhadap situasi pada suatu waktu. Banyak sebab yang memungkinkan adanya perubahan sikap dalam diri seseorang sehingga dengan mengetahui sikap seseorang tidaklah berarti kita dapat memprediksikan perilakunya dengan benar. Untuk membuktikan bahwa adanya ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku, Wardhana seperti yang dikutip oleh Sarlito Wirawan Sarwono mengemukakan bahwa: “…di Indonesia penelitian terhadap sejumlah mahasiswa, membuktikan bahwa hubungan antara nilai relegius dan keserbabolehan seksual lebih kuat bagi mereka yang menganut nilai-nilai relegius secara intrinsik (tidak terpengaruh oleh faktor luar). Sementara bagi yang nilai religiusnya lebih ekstrinsik (dipengaruhi faktor-faktor luar), hubungannya lebih lemah (Sarwono, 1997:237).

Kembali ke halaman utama

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Opini Publik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s