Yogi Tyandaru, Sukses Berdagang Karena Dakwah (Profil Enterpreneur Muslim dengan Omzet Miliaran Rupiah)

Foto : Yogi Tyandaru alumni Fikom Unisba yang sukses berwirausaha dan berdakwah

Yogi Tyandaru, itu nama yang diberikan sang ayah kepadanya. Yogi tidak banyak mengetahui ihwal namanya namun saat kuliah tahun 1994, salah seorang kawan kuliahnya di Fikom Unisba, pernah memberitahu arti dari namanya. Katanya, “Yogi” berasal dari kata yoga, artinya orang yang senang bermeditasi atau berdoa, “Tyan” berasal dari kata thian, artinya langit, dan “Daru” berasal dari kata andaru, artinya kekuatan atau kebahagiaan. Barangkali sang ayah berharap kelak anaknya menjadi orang yang selalu mendekatkan diri pada Tuhan dan diberikan kebahagiaan.

Bila sang ayah masih hidup, pasti ia akan bahagia melihat Yogi kini menjadi seorang pengusaha muda yang sukses dan aktif berdakwah. Sebagai pemilik dan CEO (Chief Executive Officer) Fajar Toserba, dalam kurun waktu delapan tahun Yogi berhasil mengembangkan usaha dengan omzet miliaran rupiah pertahun tanpa mengabaikan kegemarannya berdakwah.

Yogi kecil mengenyam pendidikan dasar hingga menengah atas di kota kelahirannya, Kuningan. Tahun 1994 ia kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba. Kesukaannya terhadap retorika dan pidato menghantarkan Yogi menjadi Juara I Lomba Retorika Tingkat Nasional tahun 1995 di Jakarta. Keahliannya beretorika selalu terasah dalam setiap aktifitas dakwah sejak ia mengenyam pendidikan di kota Bandung.

Yogi bukanlah tipikal anak yang dapat terpenuhi semua keinginannya karena tidak terlahir di keluarga yang berada, apalagi ia seorang yatim. Saat kuliah ia harus kos di tempat murah. Karena keuangan yang terbatas dan tekadnya untuk hidup mandiri, saat kuliah Yogi mencari penghasilan dengan berjualan obat pembersih muka secara door to door dan celana panjang. Untuk celana panjang, Yogi menjualnya pada teman sekelas. “Alhamdulillah, dengan berjualan, kebutuhan sebagai anak kos sedikit teratasi”, ungkap Yogi.

“Meski kos di rumah bilik sederhana di Gegerkalong, yang penting dekat masjid”, kenang Yogi. Sejak lama ia memang membiasakan diri shalat di masjid tepat waktu meski dalam perjalanan sekalipun. Saat liburan kuliah, ia nyantri di beberapa pesantren di Jawa Timur. Ia kerap mengajak kawan-kawan kuliahnya di Unisba, khususnya Fikom, untuk masantren dan berdakwah beberapa hari ke luar kota saat liburan. Tak heran bagi teman kuliahnya, Yogi dikenal sebagai sosok yang agamis dan santun. Padahal saat masih remaja ia termasuk anak bengal yang gemar berkelahi. Kawan SMA Yogi sempat terkaget-kaget melihat sosoknya yang sekarang. “Mereka bilang, Gi, sugan teh maneh moal meunang hidayah”, cerita Yogie sambil tertawa.
Sebagai manusia biasa, pernah hatinya serasa ditusuk kala seorang kawan kuliahnya di Fikom mengatakan, “Gi, mun kuliah teh disalin atuh“. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya, “Gi, kalau kuliah ganti baju dong”. Baju Yogi saat kuliah memang itu-itu saja karena tidak punya banyak pakaian. “Maklum, orang kere”, katanya sambil terkekeh. Makanya ia bertekad untuk menjadi orang kaya.

Tekad Yogi menjadi orang shaleh nan kaya semakin kuat tatkala 1997-an berkenalan dengan Restianto, direktur Hotel Bandung Giri Gahana di Jatinangor. Saat itu Yogi sedang melobi Restianto agar perusahaannya bersedia menjadi sponsor acara Pesantren Kilat Nusantara Fikom Unisba, yaitu pesantren kilat untuk siswa SMA se-Indonesia, yang digagasnya. Sejak awal perkenalannya hingga kini, Restianto dikenal Yogi sebagai pengusaha yang dermawan, shaleh dan berakhlak. “Kayaknya jadi orang kaya itu enak, kemana-mana gampang, mau apa aja mudah. Di perjalanan bisa berhenti untuk shalat di masjid karena pakai mobil sendiri. Mau sedekah mudah. Mau bangun mesjid mudah”, ungkapnya. Itulah yang menginspirasi Yogi menjadi orang kaya yang berakhlak.

Setelah lulus kuliah tahun 1998, selama enam bulan Yogi mengembara ke beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Di sana ia menimba pengalaman berdakwah dari kota ke kota. Tahun 1999, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di PAKIS (Pusat Analisis Kebijakan Informasi Strategis), sebuah lembaga kajian informasi bagi K.H. Abdurrahman Wahid yang saat itu menjabat sebagai presiden RI. Karena merasa tidak nyaman dengan kegiatan politik, setelah setahun ia putuskan untuk berhenti kerja. Tak lama kemudian Yogi menikah dengan seorang gadis Kuningan dan kembali menetap di Jakarta sebagai asisten direktur operasional Le Monde Baby, sebuah perusahan retail untuk pakaian bayi.

Di Le Monde Baby itulah Yogi menimba ilmu dan pengalaman di bidang retail. Yogi yang telah kerasan di tempat kerjanya di Jakarta enggan kembali ke Kuningan meski sang mertua, pemilik Fajar Toserba, memintanya pulang kampung untuk mengembangkan usaha. Tak lama kemudian, Yogi sakit keras, hingga harus berhenti kerja. Yogi merasa itu adalah teguran dari Allah agar ia kembali ke Kuningan dan mengembangkan Fajar. Lalu kembalilah Yogi ke kampung halamannya.

Berbekal pengalaman di dunia retail di Jakarta selama dua tahun, Yogi berhasil mengembangkan bisnisnya. Pasar swalayan Fajar Toserba yang awalnya berjumlah satu outlet di Jalan Jalaksana, Kuningan, dengan sentuhannya kini memiliki 13 cabang. Omzet pertahun yang awalnya kurang dari satu miliar meningkat pesat hingga di atas ** miliar (saya sensor atas permintaan sahabat saya :)). Sebenarnya Yogi enggan mengungkapkan berapa miliar angka pastinya, yang jelas sejak 2003, setiap tahun omzet Fajar terus meningkat mulai dari satu miliar, sembilan miliar, 30 miliar, hingga kini jauh di atasnya.

Fajar Toserba Jalaksana

Fajar Toserba di Luragung Kuningan dengan konsep Hypermarket. Foto diambil dari google earth

“Sebagai pengusaha, ada dua ‘L’ yang paling saya sukai, liburan dan lebaran. Keuntungan perusahaan saat dua ‘L’ itu sangat besar”, katanya sambil tersenyum lebar. Tak heran kini ia dapat mempersiapkan cabang Toserba Fajar di daerah Talaga, Majalengka, di atas lahan seluas satu hektar dengan total biaya pembangunan 20 miliar. Dalam beberapa tahun ke depan, Fajar Toserba berencana melebarkan sayap ke kota lainnya di Jawa Barat, termasuk Bandung.

Sebenarnya banyak orang bertanya-tanya mengapa Fajar Toserba dengan sentuhan Yogi bisa berkembang sangat pesat. Yogi mengungkapkan visi dan strateginya membangun Fajar. Yogi menerapkan konsep blue ocean, yaitu mencari lokasi yang lapang meski tempat itu jauh dari rumah penduduk dan sepi dari keramaian, kemudian membangun masjid dan memakmurkannya. Setelah itu barulah ia membangun toserba. Kehadiran masjid dan toserba membuat tempat itu menjadi hidup dan ramai dikunjungi. Dengan teori ekonomi dan matematika, langkah Fajar membangun masjid merupakan kesalahan karena pengeluaran awal yang begitu besar, namun bisnis Fajar didasarkan pada pada “teori” keimanan dan ketakwaan. “Allah akan membuka rezeki bagi hamba-Nya yang terus meningkatkan ketakwaan. Apalagi rezeki Allah untuk para pedagang jauh lebih besar dari rezeki profesi lain,” tegasnya. Terbukti, kehadiran Fajar mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat dan memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas ibadah umat Islam. “Semua karyawan Fajar yang berjumlah 350 orang, selain dibekali dengan ilmu dagang, juga dimotivasi untuk selalu menjaga shalat tepat waktu, menghidupkan masjid dengan amaliah keagamaan, dan berdakwah kepada masyarakat. Itu yang membuat masyarakat senang dengan kehadiran Fajar”, ungkap Yogi.

Fajar Toserba di Mandirancan Kuningan. salah satu implementasi dari konsep Blue Ocean. Membangun dan menghidupkan daerah yang jauh dari keramaian.

Yogi juga mengungkapkan rahasia bisnisnya. “Bila berbisnis jangan hanya mengandalkan ikhtiar dunia, tapi juga ikhtiar akhirat seperti shalat, sedekah, dakwah. Dengan ikhtiar akhirat ini yang mengintervensi langsung (adalah) Allah,” tegas Yogi. “Siapa yang bisa menghentikan Allah,” katanya sambil tersenyum.

Selain bidang retail yang digelutinya sejak 2001, mulai 2008 secara personal Yogi mengembangkan BMT (Baitul Maal Wattamwil) El Fajar. Nampaknya kehadiran BMT El Fajar sangat membantu masyarakat kecil yang akan berwirausaha. Modal awal 100 juta rupiah yang telah dikucurkannya ternyata belum mampu memenuhi permintaan dari masyarakat yang jauh lebih besar. “Peternak lele, penjahit kecil, tukang siomay, meminjam modal. Orangnya jujur-jujur. Pengembaliannya lancar”, kata Yogi. Kini Bank Jabar Syariah Cabang Kuningan telah menawarkan bantuan modal besar untuk mengembangkan BMT yang digagas Yogi.

Yang unik karena kesibukannya sebagai wirausahawan, dalam sebuah kesempatan Yogi baru dapat mengunjungi salah satu cabang baru Fajar Toserba. Saat ia akan memasuki ruangan manajer, seorang karyawan baru melarangnya masuk dengan alasan ruangan itu untuk pimpinan Fajar. Yogi tidak marah. Ia hanya manggut-manggut dan tersenyum meski karyawan itu tidak mengenalinya. Sebagai pemilik Fajar, Yogi memang dikenal sebagai orang yang rendah hati. Meski Yogi berhasil mengembangkan Fajar demikian pesatnya, ia tidak jumawa karena menyadari semua harta hanyalah titipan Allah. Ia juga mengungkapkan kesuksesannya adalah buah dari didikan sang mertua yang telah merintis usaha sejak tahun 1970-an.

Untuk mencapai kesuksesan sebagai pedagang, Yogi mengungkapkan dua kepandaian yang harus dimiliki. “Pandai menghitung dan pandai ngomong,” ujarnya. Ia tidak terlalu pandai menghitung layaknya seorang akuntan, tapi ilmu “ngomong” dipelajarinya di Fikom Unisba. Bagi Yogi, kemampuan berkomunikasi akan membuat seseorang pedagang menjadi kredibel di mata klien, rekan bisnis dan karyawan. “Tapi itu pun harus disertai akhlak yang baik,” tandasnya.

Kini, meski Yogi memiliki rumah mewah, rumah itu tak ditempatinya. Ia gunakan rumah itu sebagai gudang Fajar dan tempat tinggal karyawan. Yogi dan keluarganya memilih untuk mengontrak sebuah rumah sederhana. “Saat itu saya belum siap. Rumah itu terlalu besar untuk kami tinggali,” ujarnya. Kini ia mau menempati rumahnya yang lain meski terbilang sederhana. Yang pasti mengikuti kebiasaannya, rumah itu jaraknya hanya belasan meter dari masjid.

Yogi yang kini memiliki tiga orang anak, mengenang masa kuliahnya di Fikom Unisba sebagai masa yang sangat indah. Guru-guru di Unisba telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan dirinya. Ia merasakan perhatian dan ilmu yang bermanfaat dari guru-gurunya selama ini. Ia peroleh kesempatan mengaktualisasikan dirinya di beberapa organisasi kampus. Di Unisba pula Yogi mendapatkan banyak sahabat setianya sampai saat ini. Unisba menjadi tempatnya belajar komunikasi, negosiasi, dakwah, bisnis dan membangun jaringan. Tak heran sebagai trainer dan pembicara berbagai seminar di bidang bisnis, Yogi selalu mengutamakan Unisba bila diminta mengisi acara. Sesibuk apapun ia akan memenuhi panggilan almamaternya.

Kehadiran Yogie sebagai pemateri Pesantren Calon Sarjana di Unisba acapkali menimbulkan kekaguman mahasiswa karena dalam usia yang masih muda Yogi bisa dibilang telah berhasil menjadi seorang pengusaha yang agamis. Salah satu peserta pesantren yang menunjukan kekagumannya adalah Peri, alumni Fikom angkatan 2003 asal Tasikmalaya. Peri mengikuti pesantren tahun 2006. Ia dibuat kaget karena satu dari 10 mimpi yang disebutkannya pada Yogi saat itu, yakni “umroh tahun 2007”, setahun kemudian terwujud. Perri mengungkapkan keinginannya menjadi sukses di usia muda seperti Yogi.

Meski tampak lelah mempersiapkan diri pergi haji bersama istri ke tanah suci, dengan tangan terbuka Yogi mengajak saya ke kediamannya. Beberapa jam sebelum berangkat menuju Jakarta, Yogie masih menyempatkan diri mengajak saya menyambangi beberapa cabang Fajar. Mudah-mudahan alumni Unisba ini dapat terus berkiprah di bidang dakwah, memberikan banyak manfaat bagi masyarakat luas dan menjadi haji yang mabrur. Amin.

(Mudah-mudahan tulisan ini menginspirasi banyak orang untuk mau berwirausaha dan berdakwah. Ditulis oleh M. E. Fuady)

Catatan :

Yogi Tyandaru adalah alumni Fikom Unisba. Ia kuliah tahun 1994. Ia mengambil jurusan Ilmu Penerangan yang kini menjadi Manajemen Komunikasi.Ia adalah praktisi retorika sejak remaja.

Yogi adalah sahabat penulis di Fikom Unisba. Kepribadian dan kesehariannya dikenal sangat positif (shaleh, meski saat itu masih terasa wataknya yang cukup keras :D). Yogi adalah salah seorang kawan kami yang memiliki akhlak selain Didit Suwandito (alm.). Yogi dan Didit adalah sahabat kami; penulis, Fathin Hamam, Dzulfan Surya Kusuma, Rohman Arief, Jahadi, dll.

Sebagai organisatoris di Senat Fikom Unisba, tahun 1997 Yogi menggagas Pesantren Kilat Nusantara, yaitu Pesantren Kilat untuk Siswa/i SMA se-Indonesia Unisba. Acara ini secara tidak langsung turut “mempromosikan” Unisba ke berbagai wilayah di Indonesia tanpa harus promosi. Pihak yang membantu terselenggaranya acara yang cukup fenomenal saat itu adalah; Prof. Dr. H. M. Djawad Dahlan (alm., Rektor Unisba sekaligus ayahanda kami saat itu), K.H. Mukhtar Adam (Pimpinan Ponpes Babussalam Dago sekaligus guru kami), K.H. Abduullah Gymnastiar (Pimpinan Ponpes Darut Tauhid), H. Agus Muhiddin (Ketua DPRD Jabar saat itu), Restianto (Direktur Bandung Giri Gahana Hotel), Telkom Divre III Jabar yang bersedia menyertakan putra/i Telkom sebagai peserta, PT. Pos Indonesia yang menghubungi kami untuk menjadi sponsor pada detik-detik terakhir, Fikom Unisba, Kang Aam Amiruddin, Pak Mukhtar Khalid dan pemateri lainnya.

Jasa yang tak pernah terlupakan;

Didit Suwandito (alm.) & Keluarga yang mau menerima Yogi dan saya tanpa pamrih untuk mengetik, nge-print, nginep selama berminggu-minggu, makan, minum, mandi. Jasa yang hanya Allah yang mampu membalasnya. Pak Aning Sofyan sebagai PD III yang mampu memotivasi kami, Elba Damhuri sebagai Ketua Senat sekaligus supervisi dan “guru” dalam organisasi, Ema Rahmania sebagai seksi acara (Ga usah nangis menghadapi masalah organisasi), Umayyah Wardaya yang tak pernah lelah menghubungi pihak sekolah di seluruh pelosok di Indonesia via telepon bag. umum di kampus (Kayaknya nggak akan lelah kalau saat itu udah jaman internet/FB/Twitter/BB kayak sekarang ini😀 Kayaknya kamu paling berjasa :D), Fadhil Soetanto yang mau mengantar kami kemana pun, Ama Kamajaya yang selalu mobile menemani antar jemput ulama sebagai pembicara, Tesar yang juga selalu mobile, serta panitia lainnya sahabat angkatan `93, `94, `95, dan `96. Juga para peserta yang menjadi keluarga kami saat itu (Empat hari di Ciburial dan tiga hari di Cikole menyenangkan khan.. :))

Mudah-mudahan Pesantren Kilat Nusantara dilanjutkan adik-adik kami pada “season” selanjutnya dengan tetap mengedepankan ruhuddin.. Amin..

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam, Uncategorized. Tandai permalink.

16 Balasan ke Yogi Tyandaru, Sukses Berdagang Karena Dakwah (Profil Enterpreneur Muslim dengan Omzet Miliaran Rupiah)

  1. Peri Saputra Anwarsyah berkata:

    Kisah nyata yang saya alami sebagai berikut:

    Saya bisa mengenal Kang Yogi sebagai pemateri “Kewirausahaan” pada saat Pesantren Calon Sarjana tahun 2007 silam. Sesaat setelah memperkenalkan diri secara singkat, Kang Yogi menyuruh seluruh peserta untuk menutup mata serta memohon kepada Allah SWT apa yang diinginkan/dimimpikan 5-10 tahun mendatang. Saya pun memohon kepada Allah SWT lima hal, 1, 2, 3, 4 dan keinginan yang ke-5: suatu hari apabila saya telah mandiri sangat ingin sekali menunaikan ibadah Haji.

    Lebih kurang seminggu kemudian, tiba-tiba ibunda menelpon menanyakan, “Nak siapkah kamu untuk pergi melaksanakan ibadah Umrah??” saya pun mengiyakan dan seketika saya menangis mendengar kabar tersebut. Bagaimana tidak?? Saya punya jari tangan sepuluh, tapi kurang dari sepuluh hari, do’a saya ingin menunaikan ibadah haji dijawab lain oleh Allah yaitu ibadah Umroh. Subhanallah!

    Rahasia Allah memang sungguh indah, rasanya saya tinggal menunggu waktu saja untuk mendapatkan mimpi saya yang empat lagi, karena saya yakin se-yakin yakin-nya bahwa Allah akan mengabulkan setiap permintaan umatnya.

    Sekali lagi terima kasih Kang Yogi melalui Pesanten Calon Sarjana Unisba serta Akang sebagai salah satu pematerinya adalah “jalan saya menuju Baitullah”. Sekarang saya bekerja di salah satu Bank Milik Pemerintah serta mengembangkan bisnis pulsa.

    Notes untuk Pak Fuad:
    Pak Fuad salah satu dosen favorit saya di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung. Dari dulu sampai sekarang, perkembangan teknologi selalu beliau ikuti. Tahun 2003-2004 saya masih pake Nokia 3610, beliau sudah pake PDA serta laptop yang sangat membantu aktifitasnya mengajar. Pertama kali punya e-mail juga “akibat” tugas yang harus dikirim melalui e-mail. Dari sana, saya yang berasal dari kota kecil dan tidak terbiasa dengan teknologi akhirnya “dipaksa” untuk lebih mengenal dan memanfaatkan teknologi.

    Terima Kasih juga Pa untuk blog kerennya. Saya luruskan sedikit Pa ceritanya, saya mengikuti pesantren calon sarjana tahun 2007, ijazah pesantren calon sarjana saya tertanggal 02 April 2007. Kang Yogi mengisi materi kewirausahaan klo saya tidak salah ingat pada tanggal 27 Maret 2007. Saya ditelpon ibu saya itu seminggu setelahnya, 3 April 2007. Kemudian saya urus Paspor pada tanggal 5 April 2007, dan akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci pada tanggal 22 April 2007 dan kembali ke Indonesia pada tanggal 01 Mei 2007. Tidak setaun ko pa, semuanya hanya hitungan hari, dan alhamdulillah saat itu semuanya dilancarkan oleh Allah SWT.

    Mohon maaf juga Pa apabila komen saya ini tidak terstruktur dengan baik (padahal saya mahasiswa bapa di mata kuiah Writing for PR), hehe. Maklum Pa, sekarang tiap hari kerjaan berkutat dengan angka, jarang sekali menulis.

    Sukses selalu untuk senior-senior saya: M.E. Fuady dan Yogi Tyandaru…….
    3M: Mujahid, Mujtahid, Mujaddid

  2. M.E. Fuady berkata:

    🙂 Tq atas koreksinya..🙂 .. He.. he.. Saya koreksi tuk tahun pesantren & umrahnya.. Maklum, saya cuma mengandalkan ingatan saya pada tulisan Peri di buletin Hima PR tiga/empat tahun lalu..

    BTW, mahasiswa sekarang mah jauh lebih canggih.. Mudah2an saya ga keteteran..🙂

    Thank`s for your comment & especially for your note.. Ntar saya kasih tau ke kang Yogie..🙂

    Senang bertemu dengan Peri & Genik, Ima, Reza, dkk..

  3. Peri Saputra Anwarsyah berkata:

    Sama2 Pa…

  4. anang nurcahyo berkata:

    SUBHANALLAH.. tokoh yang sangat menginspirasi

  5. izant berkata:

    ajipp bener bang….
    ane salut bang dengan perjuangan anda….
    bisa kasih saya alamat dan nomer HP mas yogi…
    siapa tahu kelak nanti saya bisa seperti belau …..

    salam sukses:>>

  6. Aby berkata:

    Kang fuadi luar biasa ini mrupakan kisah nyata yg memberi inspirasi,sekiranya berkenan aby bleh minta nomer hape akang juga kang yogi??bargkali aby mau knsultasi dan bisa seperti beliau kelak..amiiiin..
    abyndashop@yahoo.com

  7. brigdheroiman munandar berkata:

    aslm.kang fuady perkenalkan nama saya iman munandar, baru lulus kemarin dari fakultas syari’ah unisba..wkt psntrn calon sarjana sy sngt terkesan dengan materi pak yoga.bhkn sy ingin belajar k beliau bisnis waralaba ke beliau. bolehkah saya minta no hp kang yoga?kalo blh, mhn kirimkan ke email saya iman_fisabillah@yahoo.com atau k fb iman milyader..

  8. brigdheroiman munandar berkata:

    maksudnya no hp kang yogi.diantos pisan. nuhun

  9. renwatanabe berkata:

    wah wirausahawan yang patut dicontoh.. saya selaku warga kuningan yang juga merantau ke bandung bangga dengan pencapaian beliau…
    klo boleh sy ingin mengenal lebih jauh boleh saya minta no hape beliau??

  10. nurani berkata:

    assalamu’alaikum
    bapak nama saya nurani umur saya alhamdulillah 20 tahun
    bapak bolehkah saya meminta bantuan bapak untuk mendapatkan nomer handphone dan email dari bapak yogi tyandaru
    alhamdulillah saya sangat tertarik dengan artikel yang bapak buat dengan kata Yogi juga mengungkapkan rahasia bisnisnya. “Bila berbisnis jangan hanya mengandalkan ikhtiar dunia, tapi juga ikhtiar akhirat seperti shalat, sedekah, dakwah. Dengan ikhtiar akhirat ini yang mengintervensi langsung (adalah) Allah,” tegas Yogi. “Siapa yang bisa menghentikan Allah,” katanya sambil tersenyum.

    alhamdulilah baca berulang kali dan amazing,tp masih bingung yang dimaksud dakwahnya itu apa ya,seperti apa contohnya,kepada karyawan juga kan ya dududu pasti itu susah,ingin saya mendapat penjelasannya dari bapak yogi,kebetulan alhamdulillah saya jg sdg belajar agama dan saya tertarik pd usaha
    syukronkatsir pak mohon infonya

    • M.E. Fuady berkata:

      Beliau berdakwah dengan menyempatkan diri khuruj, keluar, selama 3 hari sampai 4 bulan.. Dakwah dari satu tempat ke tempat lain.. Beliau adalah seorang tabligh.. Karyawan ang bekerja di Fajar Toserba juga khuruj…Shalatnya lima waktu selalu di masjid pada waktunya, tidak terlambat.. Orangnya menjaga hijab, membatasi pergaulan laki2 dan perempuan..

      Toserba dibangun di tempat sepi, jauh dari keramaian. Sebelum membangun toserba, yang dibangun masjid dan memakmurkannya.. Dengan adanya masjid dan toserba, daerah setempat menjadi ramai, dan produktif.. Masyarakat juga berwirausaha di sekitarnya..

      Tiap pagi karyawan mengaji al-Waqi’ah dan zikir.. Briefing juga penting tp bisa dilakukan kapan saja..

      Beliau sejak dulu tidak suka nonton TV.. Awalnya berumah tangga juga tidak mau punya TV.. Teman2 kuliahnya, kalau Kang Yogi berkunjung ke rumah/kostan suka mematikan TV karena sungkan..

      Sekarang beliau sedang membebaskan tanah di sekitar Toserba Jalaksana Kuningan, rencananya akan dibangun masjid yang lebih representatif..

      Kalau ada masalah, yang didahulukan adalah menyampaikan itu pada Allah dan musyawarah agar keputusan yang diambil benar..

      Untuk email, beliau tidak punya alamat email.. Facebook juga tak punya.. Beliau tidak ikut trend online.. Hapenya juga hape jadul, hape biasa, asal bisa telp/sms.. Yang penting ada pulsanya..🙂

      Untuk no hape, akan saya konfirmasikan dl pada yang bersangkutan…

      • nurani berkata:

        assalamu’alaikum
        subhanalah,baik sekali bapak yogi,jadi ingat sm kk sepupu saya yg mirip sm beliau namun kk sepupu saya tdk kuliah spt bpk yogi,semoga saya pun bisa seperti bapak yogi,amin ya robbal’alamin
        jarang pengusaha sukses seperti beliau,semoga diberikan yang terbaik amin ya robbal’alamin
        bapak sebenarnya seperti ini,saya ingin.menawarkan pasar kepada bapak dan bapak yogi,siapa tau berminat,saya dan keluarga mempunyai pasar didaerah bekasi dan kami menjualnya,luas tanah 3000m ada 200ruko yg dikontrakkan perbulannya 3-5juta,ada lapak dan penghasilan parkir,jalan sudah diaspal,dekat komplek dan jalan tol,satu sertifikat apakah bapak sendiri dan bapak yogi berminat?saya berharap berminat,krn sayapun menawarkan pasar ini dgn kehatihatian,jk yg tak dekat dgn Allah saya tak berani tawarkan,saya hanya ingin komunikasi ini jg bs smp akhirat,tak ada yg lebh indah dr talipersaudaraan maupun silaturahmi krn Allah,saya berharap mendapat kabar dr bpk sendiri dan bapak yogi apapun kabarnya,semoga Allah menolong saya dgn sebaikbaiknya pertolongan yang Allah ridhoi..amin ya robbal’alamin amin Allahumma amin
        alhamdulillah alamat email ini merupakan alamat acc fb twitter saya pak
        syukronkatsir wa ‘afwan agsiluka ‘afwan tugsiluka
        wasalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s