Keutamaan Tidur dalam Keadaan Berwudhu (Metode Meraih Mimpi yang Benar)

Seorang kawan bercerita, “Tadi malam aku bermimpi digigit seekor ular kecil yang telah menjadi peliharaanku, padahal aku tidak memelihara ular barang seekor pun. Seingatku, dalam mimpi ular itu telah kubuang berkali-kali, namun kenapa ular itu tetap ada di rumah, mendekatiku dan menggigit kuat-kuat jari tanganku. Dalam mimpi, aku tidak merasa ketakutan apalagi kesakitan. Semua tampak biasa saja”. Dia merasa kebingungan apa maknanya. beberapa hari kemudian barulah ia paham makna dari mimpinya. Ternyata ia mendapat sebuah kepercayaan dari sebuah organisasi yang beberapa kali sudah ditolaknya. Bila kepercayaan sudah datang kepadanya, menolak pun tak akan bisa.

Masih kawan yang sama, ia kembali bercerita, “aku bermimpi seorang kawanku berkeluh kesah mengenai permasalahannya. Dalam mimpi aku memberikan solusi dengan memintanya memindahkan salah seorang karyawannya yang bernama si Fulan ke cabang asalnya dan memindahkan seorang karyawan lainnya ke cabang lain”. “Sungguh mengherankan, apa maksud dari mimpi itu”, tanyanya pada dirinya sendiri. Saat ia berkunjung ke tempat kawannya di luar kota, diceritakanlah mimpinya itu. Ternyata perusahaan milik kawannya sedang ada masalah internal yang melibatkan si fulan. Yang membuatnya kaget, nama si fulan dalam mimpi sama dengan nama salah seorang karyawan di perusahaan milik kawannya tersebut.. Allahu Akbar.. Ternyata solusi datang melalui mimpi orang lain mengenai sahabatnya… Wallahu a`lam.

Mimpi memang membingungkan. Ada sebuah misteri besar di dalamnya. Apakah mimpi itu benar ataukah hanya sekedar bunga tidur saja.  Apakah mimpi merupakan petunjuk Allah, bisikan syaithan ataukah sekedar lintasan keinginan atau alam bawah sadar manusia?  Untuk membahas perihal mimpi, akan diulas dalam  tulisan khusus mengenai pandangan FREUD, CARL GUSTAV JUNG dan IBNU ARABI tentang mimpi. Saat ini yang ingin saya sampaikan perihal nasihat nabi mengenai mimpi dan tidur dalam keadaan berwudhu.

Mengenai mimpi, Rasulullah berkata, “Kabar baik adalah satu-satunya kenabian yang ada setelah aku”. Seseorang bertanya, “Apakah kabar baik itu , Ya Rasulullah?”. “Mimpi baik yang dilihat seseorang atau dilihat orang lain untuknya”, jawab Rasulullah (Aisyah r.a.).

Rasulullah bersabda :
“Jika masa kiamat semakin dekat, mimpi seorang muslim nyaris tidak pernah dusta. Muslim yang paling benar mimpinya adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian dari 46 bagian kenabian..”

Mimpi dari Allah memberi kabar baik, atau peringatan dan teguran akan perbuatan jelek. Mimpi yang membuat seseorang merenungkan perbuatan-perbuatannya dan menjadikannya sadar akan kelalaiannya. Seperti kisah berikut :

Salah seorang sahabat saya yang sering “dakwah keliling” (khuruj) bercerita, dia dan beberapa orang yang sedang khuruj di sebuah masjid. Selepas shalat Isya, ada seorang kyai setempat yang bertanya pada mereka sambil keluar masjid. “Sedang apa di sini?”tanya kyai. “Sedang tabligh, pak kyai”, mereka menjawab sambil tersenyum. “Kayak orang enggak ada kerjaan aja”, sindir kyai itu.. Keesokan harinya, bada shubuh, kyai itu mengajak bicara orang-orang tabligh di masjid. Ia meminta maaf atas perkataannya. Katanya, saat tidur ia bermimpi di datangi seseorang. Orang dalam mimpi itu berkata, “Seharusnya kamu yang berdakwah seperti mereka. Bukannya bicara yang tidak pantas pada mereka”.. Sejak saat itu sang kyai selalu menerima orang-orang yang tabligh dengan tangan terbuka. Wallahu`alam.

Lalu bagaimana memperoleh mimpi yang baik?

Abu Dzarr al-Ghifari berkata, “Rasulullah menasihatiku untuk tidak pernah meninggalkan tiga hal berikut hingga aku mati; Berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat fajar tepat pada waktunya, tidur selalu dalam keadaan berwudhu”.

Mengapa perlu tidur dalam keadaan berwudhu?

Abu ad-Darda` berkata, “Ketika seorang hamba jatuh tertidur, jiwanya akan dibawa ke hadapan arasy, Jika seseorang tertidur dalam keadaan berwudhu, maka jiwanya diizinkan untuk sujud dihadapan Tuhannya. Kalau tidak, maka jiwanya tidak diperbolehkan untuk bersujud”.

Jadi, siapa bilang mimpi seorang mukmin berisikan kebohongan? Pertanyaan selanjutnya, bagaimana menjadi seorang mukmin? Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu diberikan petunjuk saat terjaga dan terlelap.. Amin..

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam, Mistisisme. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s