Cintai Rasul Melebihi Cintamu pada Dirimu

Karena keinginan dan harapan agar sang anak menjadi shaleh, seorang ayah sering menciumi anaknya sambil bershalawat. Saat malam tiba, dalam tidur sang anak, ayahnya menciumi ia sambil bershalawat untuk nabi, “Allahumma shalli ala sayyidina muhammad”. Sederhana, ia ingin anaknya memiliki akhlak mulia seperti nabi junjungannya yang begitu mulia, Muhammad SAW. “Nak, kuciumi engkau dengan shalawat kepada nabi. Jadilah orang yang shaleh seperti nabimua “, katanya dalam hati.

Subhanallah…

Lalu di tempat lainnya, di pelataran sebuah masjid di Madura, seorang nenek renta menangis tersedu-sedu. Saking lamanya menangis, ia dihampiri seorang ustadz muda.

“Nek, bolehkah kami tahu mengapa nenek selalu membersihkan halaman masjid ini dengan memunguti daun-daun yang berguguran satu persatu.. Nenek harus membungkuk sejak pagi hingga siang hari lamanya… Bukankah lebih cepat dengan menyapunya? Dan mengapa nenek menangis hanya karena kami telah lebih dahulu menyapunya sebelum nenek datang membersihkannya? ” Tanya seorang ustadz muda pada nenek yang menangis itu.

Sambil terisak, nenek itu berkata, “Aku akan menjelaskannya kepadamu asal jangan ceritakan ini pada siapapun bila aku masih hidup.. Selama ini tak banyak amal yang kulakukan tapi aku ingin bertemu dengan Kanjeng Nabi di akhirat kelak.. Maka kupunguti daun-daun yang berserakan itu satu persatu sambil bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad… Aku ingin daun-daun yang kupunguti itu dapat memberi kesaksian di depan Gusti Allah.. Mungkin hanya ini yang dapat kulakukan agar di akhirat nanti aku mendapat syafaat dari Kanjeng Nabi.. Makanya aku menangis tatkala melihat kalian telah membersihkan halaman masjid ini.. Aku sedih karena khawatir tak dapat lagi memunguti daun-daun sambil menyanjungkan shalawat kepada Rasulullah…”

Subhanallah, Subhanallah…

Di tempat lainnya, di sebuah gang sempit, ada sebuah rumah gubuk. Di dalamnya ada seorang pria separuh baya yang sedang di ambang maut. Ia tengah sakit keras dan dekat dengan sakaratul maut. Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, ia berpesan pada istrinya. “Bu, besok mulud. Jangan lupa besok numpeng untuk kanjeng nabi. Ayah pengen di akhirat nanti bisa bertemu dengan Rasulullah”, katanya dengan napas tersengal.

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…

Mengutip Kang Jalal yang menceritakan dua kisah terakhir, pernahkah kita melakukan seperti apa yang nenek tua itu lakukan..? Pernahkah kita mengekspresikan kecintaan kita pada sang Nabi dengan shalawat untuknya..? Atau seperti pria di ujung maut itu. Jelang kematiannya ia tak berpikir tentang hidupnya. Ia lebih mengingat sang Nabi yang begitu dirindukannya. Akankah kita seperti itu..?

Mengutip Cak Nur, katanya kelak di akhirat nanti yang akan masuk surga adalah orang-orang desa, orang-orang kampung. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama secara sederhana: BERIBADAH. Mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya tanpa reserve. Beribadah bukan untuk pahala, jabatan, kedudukan, apalagi kekayaan. Beribadah bukan untuk menuntut pada Tuhannya. Mereka bukan orang pandai yang beribadah dengan bumbu pertengkaran. Mereka bukan orang berilmu yang menggunakan pengetahuannya untuk menjatuhkan orang lain. Sederhana, mereka beribadah karena memang Allah memerintahkan untuk ibadah.

Barangkali nenek tua yang memunguti daun sambil bershalawat dan pria di ujung maut yang merindukan Rasulullah dengan tumpeng mulud itu termasuk di antaranya. Bisa saja itu menjadi konsep ibadah dalam persepsi mereka sendiri, versi mereka sendiri, namun intinya di sana ada kecintaan dan kerinduan mereka pada Muhammad, Kekasih Allah. Dan Rasulullah nyatakan, mereka yang mencintai Rasulullah tanpa pernah bertemu dengannya sekalipun adalah orang-orang terbaik.

Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang memuliakan Rasulullah dan diberikan kemuliaan karena memuliakannya… Mudah-mudahan surga menanti bagi para pecinta Rasulullah.. Amin..

“Beruntunglah bagi siapa yang melihatku dan beriman kepadaku, dan jauh lebih beruntung bagi siapa yang beriman kepadaku meskipun ia tidak melihatku” (Rasulullah saw)

Assalamu `alaika Ya Habibi Ya Rasulullah..

Allahumma shalli `ala sayyidina Muhammad wa `ala aali sayyidina Muhammad

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s