Menyoal Isu Hollywood Stop Film ke Indonesia

Jumat malam (18/02), lagi asyik-asyik nge-blog, iseng-iseng menjelajah situs berita. Pas baca Kompas.com, duarr..!! ada berita mengagetkan. Katanya, “Tak Ada Lagi Film Asing di Bioskop”. Khawatir salah info, saya telusuri ke detik.com, “duar.. duar..!!”, saya lebih kaget lagi, katanya “Hollywood Stop Edarkan Produksi Filmnya ke Indonesia“. Berita yang sungguh mengejutkan untuk penikmat dan pecandu fiilm Amrik.

Bayangkan saja, Harry Potter 7, Breaking Dawn, Thor, Captain America, Green Lantern, Pirates of Carribean, Sherlock Holmes 2, Transformer 3, de el el nggak bisa kita nikmati di layar bioskop. Apa nggak heboh tuh?

Apa pasal?

Pemerintah kita memberlakukan biaya bea masuk atas hak distribusi film impor. Artinya, pemerintah membuat distributor bayar lebih mahal. Kata Jubir (Public Relations kali ya? :)) 21 Cineplex, Noorca Masardi, itu tindakan yang tidak lazim dan tidak pernah ada di industri film mana pun di dunia. What the hell is it? Bener kitu?

Noorca Masardi bilang, importir film harus membayar pajak copy pita film ke Indonesia sebesar 23,75 persen dari nilai barang. Katanya, angka 23,75 persen yang sangat fantastis itu membuat Motion Pictures Association (MPA) menarik sejumlah film asing yang sudah beredar di bioskop-bioskop tanah air. Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (IKAPIFI) yang mengimpor film Eropa, Mandarin dan Bollywood juga akan menghentikan impor film ke Indonesia karena terkena pajak yang sama besar.

Huff.. Harus gimana, nih? Masa nggak nonton film asing yang berkualitas lagi? Tunggu punya tunggu, klarifikasi pemerintah seharian nggak muncul-muncul.. Baru dua hari kemudian (Minggu malam, 20/02), ada statement dari Menbudpar, Pak Jero Wacik.

Pak Wacik mengungkapkan keputusan MPA itu terlalu tergesa-gesa. Katanya pemerintah tidak mungkin mematikan importir film. Beliau mengungkapkan pemerintah akan kembali mempertimbangkan angka bea masuk film impor sebesar 23,75 persen, termasuk pajak royalti senilai US$ 43 sen per meter rol film. Sebelumnya pajak royalti hanya US$ 20 sen per meter rol film.

Pernyataan Pak Wacik agak mengherankan juga karena berdasarkan penuturan Noorca Massardi, sebelum Dirjen bea cukai memberlakukan kebijakan itu, pihak MPA sudah menolaknya. MPA sudah memberikan penjelasan tentang keberatan terhadap ketentuan itu. Hasilnya? “Diberlakukan mulai Januari kemarin,” kata Om Noorca Masardi.

Yang menarik adalah pernyataan Om Deddy Mizwar. Ia minta pemerintah jangan mau ditindas importir berkaitan pajak film asing di Tanah Air. Kata Om Deddy, pajak film di Thailand lebih mahal dibandingkan negara kita. Selama ini importir film tak mempermasalahkan pajak satu kopi film di Thailand sebesar 30 juta rupiah, Di Indonesia pajaknya hanya 2 juta rupiah, “Mereka malah keberatan,” kata Om Deddy. Untung cuma Om Deddy, coba kalau ada anaknya Pak Tebe, pasti ngomong “Kata Bapak Tebe….”, pusing dah😀

Om Deddy Mizwar dengan tegas meminta jangan sampai ada pihak yang sengaja memberikan informasi keliru, Apalagi sampai mengadu domba masyarakat dan pemerintah. Kata Om Deddy, “Jangan sampai jadi pengkhianat bangsa”.

So, bagaimana nih?

Menurut saya sih, bicarakan lagi baik-baik.. Jangan bertengkar, jangan bermusuhan, betul tidak..? Eeuh, naon deui ieu teh meni teu nyambung. Maksud saya, pemerintah tentu mempertimbangkan kemungkinan perumahan 10 ribu karyawan XXI cineplex gara-gara bioskop sepi penonton. Pemerintah juga paham dengan harapan importir film yang ingin pajak film tidak terlalu besar. Pemerintah juga bisa memahami publik film di Indonesia masih menyukai film asing dengan pertimbangan kualitas dibandingkan film anak negeri atau anak India yang relatif bertema esek-esek. Meski tak semuanya seperti itu. Chand Parwez, Direktur Starvision dan PT. Kharisma Jabar misalnya, banyak film produksinya yang berkualitas dan mengangkat kearifan lokal, seperti Tarix Jabrix dan Kabayan Jadi Milyuner. Yang lainnya? Anda tahu sendiri lah.

Harapan penonton dan penikmat film asing, terutama Hollywood, bioskop-bioskop di tanah air, mau jaringan XXI, 21, Blitz Megaplex, atau apapun, tetap dapat memutar film produksi Paman Sam ini. Sekali lagi, itu karena kesadaran publik akan kualitas film Hollywood, baik dari segi cerita, musikalitas, akting, special effect, dan lainnya.

Apa anda mau nonton film lokal “Hantu Goyang Karawang 3D”?? Serasa rambut dijambak langsung oleh Depe dan Jupe.. Muka juga serasa dicakar mereka berdua.. Udah cerita nggak jelas, umbar aurat, pamer dajjal alias dada dan bujal, bikin malu orang Karawang pula.. Itu juga kata bapak Tebe.. Aduuh, mana mau saya nonton film itu..😀

So, sah-sah saja kan kalo kita pengen nonton film Hollywood, sekali lagi karena perimbangan KUALITAS film yang lebih merata dari sisi manapun.

Meski kita tidak mengabaikan masih ada film Indonesia yang berkualitas seperti film-filmnya Om Deddy Mizwar, Bang Hanung Bramantyo, Tante Mira Lesmana, dkk. Di tangan mereka, film Indonesia memainkan irama terbaiknya. Film Indonesia yang telah lama mati perlahan hidup kembali.

Akhir kata, MARI KITA TONTON FILM BERMUTU…

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Film. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menyoal Isu Hollywood Stop Film ke Indonesia

  1. Ping balik: Indah Dewi Pertiwi Berlatih Dance di Amrik | Indonesia Search Engine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s