Aqiqah : Seputar Waktu dan Masalah Dagingnya Dimasak/Tidak??

“Kesel gua..!! udah jelas gua mau aqiqah tapi jangan dipaksa-paksa kudu besok dong. Besok banyak kerjaan yang nggak bisa ditunda. Emang sih besok hari ke tujuh, tapi kalo bener-bener nggak bisa gimana. Sebagai bapaknya gua pengen aqiqah dengan mengundang saudara, handai taulan, kerabat, sahabat dan tetangga pada waktu yang tepat, yang gua bener-bener pas waktunya. Kalo begini malah senewen.. Cafee gua”, keluh seorang kawan yang merasa sang mertua terlalu memaksakan aqiqah untuk anak pertamanya pada hari ketujuh. Akhirnya..?? Ia turuti untuk aqiqah keesokan harinya tanpa mengundang siapapun, termasuk keluarganya dari kedua belah pihak. Tak ada selametan yang ia inginkan untuk berbagi kebahagiaan bersama keluarga saking ARAL-nya.. Padahal ingin sekali ia mengundang semua keluarga dan kolega untuk mendoakan buah hati di rumahnya..🙂

Di waktu dan tempat yang berbeda, di sebuah dusun kecil, seorang wanita muda yang baru melahirkan dibuat pusing karena mertuanya meminta agar daging aqiqah tidak dimasak, sementara ibunya keukeuh kalau daging aqiqah harus dimasak sebelum dibagikan.  “Masa kita mau melebihi rasul”, kata sang mertua dengan pede mengisyaratkan kalau Rasul tak mencontohkan daging aqiqah dimasak sebelum dibagikan. Di lain pihak, ibu dari wanita muda itu bilang, “Teh, mudahkan orang lain, bagusnya dimasak dulu, baru dibagikan. Rasul mengajarkan untuk memudahkan orang”. Seperti sang mertua, ibunya juga berkata dengan pede.Siapa yang pusing dan bingung karena “rongrongan” kedua wanita yang dicintainya?? Sudah jelas, yang pusing wanita muda yang baru melahirkan itu. Punya anak pengen seneng-seneng malah dibuat ruwet.. Mertua dan ibunya keukeuh pateukeuh, kekukeuh sureukeuh…🙂

Apa yang terjadi pada wanita muda itu?? Karena bingung akhirnya ia bunuh diri…  Tragissssss….   Dan kisah ini berakhir disini… TAMAT……………… 😀 Nya henteu atuh…!!!!!  masa urusan yang kayak gitu bikin orang bunuh diri alias SUICIDE?? Na`udzubillah.. Murah amir nyawa melayang gara-gara beda pendapat soal aqiqah..😀 Kalo dipaksa turun dari jabatan sebagai Ketua Umum PBS (Perkumpulan Bola Sepak) Desa Bojong Kenyot, baru boleh bunuh diri..😀 (Ya nggak boleh juga dong.. :D  Katha Bangh Hajiih Rhommah ithu dilharangh aaaghaaama.. twweeeeeeww :D)

Kembali ke masalah aqiqah. Mengenai aqiqah, Rasulullah SAW bersabda :

Dari Samurah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : “Setiap anak yang baru lahir tergadai (menjadi tanggungan) dengan aqiqanya sampai disembelih (aqiqah) itu untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama.” (HR. Ahmad, Imam Empat dan Disahkan oleh At-Turmudzi)

Imam Ahmad bin Hambal menyatakan, : “Aqiqah itu (artinya) tidak lain melainkan sembelihan itu sendiri”. Jadi aktivitas aqiqah berkaitan dengan sembelihan hewan itu sendiri.  Aktivitas lain dari aqiqah adalah mencukur  rambutnya dan memberinya nama.

Setelah anak lahir, orang yang memiliki kemampuan (finansial) memang dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah untuk anaknya. Kalau nggak mampu..?? Nggak usah dipaksa-paksa.. Wong kemampuannya cuma segitu-gitunya.. Mau bagaimana lagi.. Yang batal shaum akibat bercampur siang hari di bulan puasa di jaman Rasulullah saja, karena tidak mampu membebaskan budak, tidak mampu mengganti dengan puasa selama dua bulan tanpa terputus, tidak pula mampu memberi makan 60 orang miskin di kampungnya, akhirnya malah Rasulullah yang memberi ia makan karena ia yang paling miskin ..😀 Betapa Islam tidak memberatkan.. :)  Jadi, yang penting cukur rambut dan beri nama yang baik untuk anak itu..🙂

Kembali pada sembelihan (aqiqah), gimana kalau nggak dilakukan hari ke tujuh seperti kasus di atas..???

Menurut Imam Malik :  .. sekiranya menyembelih pada hari ke 4 (empat) ke 8
(delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah cukup. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan menyulitkan sebagaimana firman Allah SWT, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu“. (QS.Al-Baqarah:185)

Pelaksanaan Aqiqah selain hari ketujuh. (Hari ketujuh, hari keempat belas, kedua puluh satu) diperbolehkan menurut sebagian para ulama berdasarkan hadits :

Berkata Abu Buraidah, Nabi s.a.w. pernah bersabda, “Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuhnya, atau keempat belasnya, atau kedua puluh satunya (HR.Baihaqi dan Tabaranie).

Ada yang menganggap hadits ini lemah karena ada isnad, Ismail bin Muslim, yang telah dilemahkan oleh imam-imam seperti Imam Ahmad dan Imam Nasa`i.

Mengingat Nabi pun baru melaksanakan aqiqah atas diri beliau setelah menerima tugas kenabian. Jadi,  berdasarkan keterangan di atas, bila belum aqiqah, orang dewasa pun boleh. Anjurannya adalah pada hari ke tujuh. Apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke‐14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke‐21 atau kapan saja ia mampu seperti yang telah dijelaskan di atas.

Berapa jumlah sembelihan untuk aqiqah..?

Ini berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwatkan oleh Abu Dawud.
Rasulullah SAW bersabda “Allah tidak menyukai kenakalan anak-anak terhadap kedua orang tuanya (durhaka), siapa yang dianugerahi seorang anak dan ingin beribadah menyembelih hewan untuknya, maka laksanakanlah untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang setingkat dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud). Jadi dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan..

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

NAH, GIMANA DENGAN PEMBAGIAN DAGING AQIQAH YANG BIKIN WANITA MUDA SEPERSTI CERITA NYATA DI ATAS BINGUNG PUSING BIN PENING SAMPAI TERTEKAN OLEH MEREKA YANG PEDE BANGET MAKSA-MAKSA?? SEBAIKNYA DIMASAK TERLEBIH DAHULU ATAU DIBAGIKAN MENTAH SEPERTI QUR`BAN?

Daging aqiqah dianjurkan dibagikan dalam bentuk makanan matang siap santap. Sedangkan daging hewan qurban disunnahkan untuk dibagikan dalam keadaan mentah.

Daging aqiqah itu dapat dibagi tiga: (1)-Dimakan sendiri, (2)-Disedekahkan
kepada fakir miskin, (3)-Dihadiahkan kepada tetangga, kerabat, sanak saudara,
orang kaya ataupun orang miskin dan sebagainya.

Ada pendapat daging hasil sembelihan aqiqah tersebut boleh dibagikan kepada siapa saja dan tidak ada pembagian proporsi untuk yang melaksanakannya, sebagaimana halnya hewan kurban. Bahkan dalam aqiqah orang yang melakukan aqiqah diperbolehkan memakan semuanya.

Tapi, masa kita makan sendirian, kita khan nggak hidup sendiri..🙂 Mengikuti sunnah Rasulullah SAW, hendaklah daging tersebut dibagikan kepada para tetangga tanpa membedakan miskin maupun kaya, sebagai ungkapan rasa syukur orang yang melaksanakannya, serta mudah-mudahan mereka yang menerima akan tergerak hatinya untuk mendoakan kebaikan bagi anak tersebut. (At-thiflu Wa Ahkamuhu, Ahmad bin Ahmad Al-Isawiy, hal 197).

So, sebaiknya daging kambing aqiqah dipotong-potong, dimasak dahulu, setelah masak dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, anak-anak yatim, kaum kerabat, tetangga terdekat  yang muslim, dengan maksud untuk mempermudah
membagi-bagikannya.

Ibnu Al-Qayyim berkata: Membagikan daging aqiqah dalam keadaan matang adalah lebih baik karena dengan memasaknya berarti ia telah menanggung biaya memasak bagi orang miskin dan para tetangga. Dan ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam berbuat kebaikan dan dalam mensyukuri nikmat ini (kelahiran anak). Dengan demikian para tetangga dan orang-orang miskin dapat menikmatinya dengan tenang tanpa memikirkan bagaimana memasaknya. Di samping itu, barangsiapa yang diberi daging yang matang siap untuk dimakan maka kebahagiaan dan kegembiraan orang tersebut akan lebih sempurna dari pada ia hanya menerima daging mentah yang memerlukan biaya dan tenaga untuk memasaknya.

JADI, sunnahnya aqiqah dilakukan pada hari ke tujuh, bila belum mampu bisa dilaksanakan hari ke 14, 21, atau kapan pun saat mampu.. dan yang penting, PEMBAGIAN DAGING AQIQAH SEBAIKNYA DIMASAK TERLEBIH DAHULU.. Mau disate atau digulai, nbebas-nbebas saja…

Silakan saja bagi yang meyakini daging aqiqah harus dibagi tanpa dimasak, yang penting jangan makan daging aqiqah tanpa dimasak..😀 Katha Bangh Hajiih ithu bherbahayya bhagi khe se haaa thannh..🙂

Selamat beraqiqah..🙂 Semoga anaknya menjadi anak shaleh-shalehah, sehat, kuat, cerdas dan bermanfaat.. Amin🙂

Sumber data :

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

4 Balasan ke Aqiqah : Seputar Waktu dan Masalah Dagingnya Dimasak/Tidak??

  1. budi ti bandung berkata:

    kalau alasannya begitu, gimana kalao gak usah membeli kambing, menyembelihnya, dan membagikannya. repot. kita bagikan saja uangnya. ya… biar mempermudah orang lain untuk memilih makanan yang akan dimakan. itu kan baik juga xixixi…. maaf, bercanda.

  2. akikah berkata:

    coba lihat di Seputar tanya jawab akikah rasanya lengkap deh. Di Green Akikah akikah kita dapat lebih bermakna karena, selain ibadah akikah yang kita dapat kita juga dapat amal dari menanam pohon sebagai ikhtiar menghijaukan bumi

  3. Resma Noviianty berkata:

    kan aqiqah termasuk “nusuk” nah yg dimksd nusuk itu apaa ??🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s