Protokoler dan Pengembangan Kepribadian

Baca : “Tata Tempat, Tata Upacara, Tata Penghormatan, Acara Kenegaraan, Acara Resmi, menempatkan “trio” Pejabat Pemerintah – Pejabat Negara =  Tokoh Masyarakat,  Undang Undang nomor sekian mengatur “ini”, Undang-undang sekian mengatur “itu”,  melantik pejabat, meresmikan gedung baru, membuat lay out, dan sebagainya, dan sebagainya…”Membaca itu semua, kira-kira apa yang terlintas dalam benak kita…?

Yang muncul dalam benak kita, pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas yang tertulis di atas TAMPAK sebagai sebuah hal yang sangat teknis, seremoni, artifisial, kaku, meniadakan rasa dan perasaan manusia. Aktivitas di atas TAMPAK sangat “mekanik” dan “mekanistik”… Apa betul seperti itu..?

Bila kita menatap “protokoler” dari luar, mungkin yang terlihat seperti itu. Protokoler nampak sebagai aktivitas seremoni, kering, dan artifisial.. Yang penting acara terlaksana dengan baik dan STOP..! Berhenti sampai di situ..! Itu sudah cukup.. Padahal bila kita mencoba menceburkan diri, larut dalam setiap aktivitas yang lebih detil, tak terlihat, metaseremoni, realitas di balik sebuah panggung dan selebrasi, sesungguhnya aspek rasa  dan perasaan sebagai manusia sangat kental di dalamnya.

Maksudnya bagaimana..? Apakah anda tak merasa bedebar-debar saat melaksanakan tugas? Apa anda tak merasa khawatir dan takur gagal? Apa anda tak merasa malu atau sungkan saat berhadapan dengan tamu? Apa anda siap untuk menahan perasaan anda saat dianggap tak becus oleh orang lain yang makiannya ditujukan langsung pada anda?

Apakah anda pikir protokoler itu sekedar “pelayan” dari kegiatan seremoni penyelenggara?Protokoler itu sekedar “pembantu” yang menyukseskan acara? Protokoler itu sekedar “hiasan” dan “pajangan”..? Protokoler hanya perlu tampil menarik dan menjual senyuman saja? Kalau begitu protokoler merupakan kumpulan orang yang tak perlu memiliki “otak yang cerdas” (bace : tingkat pemahaman yang baik). Tak perlu pandai, pintar, IQ lumayan.Barangkali tak perlu pula protokoler dengan kemampuan mengendalikan diri, kestabilan emosi, dan menjaga perasaan,

Pertanyaan selanjutnya, apakah protokoler adalah mesin tanpa rasa, yang saat mengerjakan tugas/kewajibannya tak dipengaruhi oleh perasaannya? Apakah saat melakukan tugasnya dengan baik ia tidak gembira? Apakah saat gagal melaksanakan tugasnya ia tidak kecewa? Apa ia tidak sakit dan hancur perasaannya bila salah ataupun benar malah dimaki oleh pihak lain?

Siapkah anda diremehkan, dilecehkan, dicaci, dimaki, tak dihargai bila anda melakukan kesalahan fatal sebagai seorang protokol..?  Inginkah anda dipuja, dipuji, disanjung, dihargai sebagai seorang protokol..?

Apakah saat bekerja, seorang protol tak dipengaruhi oleh DIRI yang dominan? Apakah ia tak punya karakter-karakter yang mungkin dapat membuat pekerjaannya malah berantakan? Apa ia tak marah saat dimaki meski ia salah? Atau saat ia salah dan dihardik tamu, mungkinkah ia malah balik “menyerang” sang tamu..? Semuanya mungkin saja terjadi.Dan itu ketidakmampuan anda mengelola diri adalah AWAL KEGAGALAN ANDA…

Kembali pada pertanyaan-pertanyaan di atas. Semuanya menunjukkan bahwa protokoler bukan sekedar hiasan, pajangan, pelayan, pembantu, dan boneka pemanis. Seorang protokol adalah makhluk yang punya rasa dan hati. Ia punya karakter-yang dapat mempengaruhi berhasil atau gagalnya sebuah acara. Jadi seorang potokol harus memiliki kepribadian yang POSITIF.

Lalu apa itu kepribadian..? Apa itu kepribadian protokoler? Bagaimana protokoler mengembangkan kepribadiannya…?

Kepribadian seorang protokol dapat diartikan sebagai cara anda bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain, rekan kerja, tamu, atau siapapun KHALAYAK anda. Kepribadian protokol dapat dideskripsikan sebagai sifat yang bisa diukur sebagaimana ditunjukkan oleh protokol. Kepribadian protokol berkaitan dengan karakter dirinya yang dominan.

Mana diri anda yang lebih dominan? : Pandai Rajin – Loyal – Gesit – Hangat ataukah Pandai Rajin – Loyal – Gesit – Dingin?

Kepribadian seseorang bisa dibentuk oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah heredity, environment dan situation. Mana yang membentuk diri anda selama ini?

Bahasan tentang Kepribadian Protokoler, lebih lanjut kita diskusikan saat pelatihan keprotokoleran.

Selamat mengikuti pelatihan..!!

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Protokoler. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s