Perubahan Opini

Studi Kasus

Masih ingat kasus “Cicak VS Buaya” ? Ya, itu adalah kasus atau konflik yang mencuat antara KPK versus Polri (baca : Susno Duadji). Saat itu publik gerah dengan istilah “cicak” karena KPK yang menjalankan tugas membongkar kasus yang ditengarai adanya keterlibatan Kabareskrim saat itu, usno Duadji, dianggap sebagai cicak. Opini publik lebih banyak menyerang pihak Polri dan Kabareskrim. Ditambah kasus Ervan Brimob yang menyatakan kurang lebih “Polri tak butuh masyarakat, masyarakat yang butuh polri, ganyang Cicak-cicak” di facebooknya membuat publik mengambil sikap yang lebih tegas, yakni publik sebagai cicak yang memosisikan diri memperjuangkan kebenaran versus buaya yang dianggap sebagai status quo.

Namun apa yang terjadi selanjutnya?  Posisi Pak Susno Duadi sebagai lawan dari publik bergeser. Pak Susno yang sebelumnyadianggap sebagai lawan, setelah membuka berbagai kasus besar (termasuk di tubuh internal polri) sedikit demi sedikit dianggap sebagai korban, bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai pahlawan. Ia dianggap sebagai whistleblower atau “peniup peluit” sampai akhirnya “dibungkam” dengan cara ditahan. Opini publik yang awalnya menyerang Susno Duadji berbalik mendukung langkahnya. Publik menyayangkan penahanan polri terhadap Susno yang terkesan ingin membersihkan polri dari berbagai kasus.

Berkaitan dengan kasus di atas, kita dapat melihat bahwa opini dapat berubah. Pernyataan masing-masing individu (opini) bisa terpecah, tetapi juga dapat berkembang menjadi luas, menjadi “milik suatu segmen masyarakat”. Opini yang terkristal menjadi luas itu disebut opini publik. Untuk berkembang menjadi opini publik, opini-opini tersebut melewati sejumlah dimensi. Dimensi-dimensi ini pula yang turut mempengaruhi perubahan opini, yakni :

  • Waktu. Opini atas masing-masing individu itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan memerlukan beberapa waktu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan tergantung pada unsur emosi anggota segmen publik, kesamaan persepsi, kepercayaan atas isu yang dibicarakan, pengalaman yang sama, tekanan-tekanan dari luar, dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sumber berita.
  • Cakupan (luasnya publik). Pernyataan masing-masing individu biasanya dimulai dari suatu kelompok segmen yang paling kecil, kemudian berkembang menjadi suatu kelompok yang lebih luas. Kadang-kadang ia hanya mempengaruhi suatu segmen publik tertentu saja.
  • Pengalaman Masa Lalu Audiens. Audiens atau khalayak, umumnya pernah memiliki suatu pengalaman tertentu atas objek yang dibicarakan. Makin intensif hubungan antara objek tersebut dengan audiens, maka akan semakin banyak pengalaman yang dimiliki oleh audiens, selama audiens menjalin hubungan dengan objek, ia akan melakukan penilaian.
  • Media Massa. Opini biasanya akan berkembang lebih pesat lagi apabila suatu kejadian diekspos oleh media massa. Bahkan media massa sering disebut sebagai alat pembentukan opini publik. Sulit dihindari bahwa media massa hanya menyajikan fakta. Sejak fakta itu ditulis dan dibaca oleh manusia, hampir dapat dipastikan beritanya mengandung opini.

              (Kasali, 1994 : 21)

Selain faktor yang dikemukakan oleh Kasali di atas, secara logis, penulis juga menemukan bahwa opini dapat berubah tergantung pada Content (Isi Pesan), Intensitas Kebenaran (dianggap mendekati kebenaran/tidak), Fakta baru, dan Otoritas Komunikator (kredibilitas). Selanjutnya, hal tersebut akan penulis bahas pada materi tentang Variabel-variabel  Sentral yang mempengaruhi Opini Publik.

Ingatlah, opini publik satu napas dengan kehidupan kita. Setiap hari kita dijejali fenomena atau peristiwa yang bersinggungan opini publik. Sebut saja kasus Gayus, Nazarudin VS Demokrat, Prita VS RS. Omni International, dsb. Jadi anda bisa temukan kasus anda sendiri dan menganalisis faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan opini dalam kasus itu.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Opini Publik. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perubahan Opini

  1. ivan fahmi berkata:

    yang di maksud otoritas komunikator itu apa n bagaimana pa ?
    bukannya komunikator itu media massa pa ? atau sperti apa ?

    • M.E. Fuady berkata:

      Sesuai dengan tulisan di atas, itu akan dibahas pada materi variabel sentral yang mempengaruhi opini publik. Otoritas komunikator juga akan dibahas pada materi tentang “Hubungan antara Opini Publik dengan Opini Lain”.
      Untuk melengkapi, Ivan baca dulu tentang kredibilitas komunikator. Minimal, di buku dan matkul “Psikologi Komunikasi”.
      Salah satu contoh kasus kongkret, kita bisa temukan dalam penetapan Peraturan Pemerintah mengenai larangan PNS dan TNI/POLRI berpoligami (tunggu penjelasan di kelas.. :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s