Ayat Cahaya dan Bening Hati

الله نور السماوات والأرض مثل نوره كمشكاة فيها مصباح المصباح في زجاجة الزجاجة كأنها كوكب دري يوقد من شجرة مباركة زيتونة لا شرقية ولا غربية يكاد زيتها يضيء ولو لم تمسسه نار نور على نور يهدي الله لنوره من يشاء ويضرب الله الأمثال للناس والله بكل شيء عليم

Artinya :

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah ibarat misykat yang di dalamnya terdapat pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, dan kaca misykat itu bagaikan bintang yang bercahaya, seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu, juga tidak di sebelah barat (nya). Yang minyaknya (saja) nyaris menerangi, walaupun tidak disentuh oleh api. Cahaya itu di atas segala cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan membuat perumpamaan kepada manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Nur, 24 : 35).

Tahu lampu minyak? Lampu menyala karena ada sumbu yang menyala. Sumbu itu menyala karena ada minyak yang membasahi sumbu. Lampu atau pelita itu digantung pada satu tembok tertutup. nyalanya tidak mudah padam. Mengapa tak padam? Karena angin terhalangi untuk menghembus keluar masuk, apalagi jika pelita itu di dalam tabung kaca. Cahayanya pun akan sangat terang jika kacanya bening.Lebih terang lagi jika minyak yang digunakan adalah minyak pilihan, minyak zaitun. Sungguh cahaya pelita itu sangatlah terang. Itu adalah cahaya di atas cahaya. Dan Allah memberikan cahaya-Nya (petunjuk) kepada siapa saja yang dikehendaki.

Bila digali lebih dalam, cahaya yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah cahaya yang kita tangkap melalui panca indera, misalnya sinar matahari atau bulan yang memantulkan cahaya matahari. Bila matahari tenggelam, malam hari tiba, kita tak dapat menangkap (menginderai) terangnya matahari. Bila fajar tiba, kita tak dapat melihat “cahaya” bulan dan bintang yang berpendar.

Sebenarnya cahaya mentari, bulan atau lampu itu tak menjadikan seseorang memiliki daya penglihatan. Misalnya, orang buta, ia tak dapat melihat cahaya karena kebutaannya. Orang yang ablasio retina, bermasalah pada retina mata, ia tak dapat menangkap cahaya dengan baik, jadi ia tak dapat melihat.

Namun berbeda dengan cahaya yang disebutkan dalam An-Nuur (35). Menurut al-Ghazali, cahaya yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah cahaya yang hakiki, yaitu Allah SWT. Allah adalah pemberi petunjuk dan pembimbing dalam kehidupan kita. Dalam shalat, selalu kita meminta ditunjukkan jalan yang lurus. Kita berdo`a, meminta, “Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in ihdinash shiratal mustaqin”. Atau, dalam istikharah anda meminta dipilihkan yang terbaik dalam pandangan Allah.

Yang dibutuhkan manusia untuk menerima, menangkap dan memantulkan cahaya Allah bukan indera. Karena indera manusia sering silap/keliru. Akal bisa saja, namun bukan akal yang dipenuhi oleh prasangka atau persepsi yang keliru. Keterbatasan panca indera membuat segalanya menjadi terbatas. Contoh sederhana, orang Medan yang bicara dengan nada meninggi, dianggap pemarah, galak, keras, tak tahu tata krama, padahal orang Medan baik. Orang Padang dianggap pelit padahal jiwa wirausahanya tinggi. Orang Sunda dianggap letoy dan lemah, padahal itu gaya bicara yang sopan, santun, halus dan menjaga perasaan. Akal penuh prasangka bisa terkelabui.

Menurut al-Ghazali yang dibutuhkan untuk memperoleh kebenaran dari Allah adalah hati yang bening.  “Sesungguhnya dalam diri manusia itu ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, dan segumpal daging tersebut bernama HATI. (HR,bukhari)

Hati manusia itu ibarat cermin. Bila cermin itu bersih, selalu dilap, dibersihkan, maka cermin itu dapat menangkap cahaya dan memantulkannya kembali. Bila cermin jarang dibersihkan, tidak dilap, dibiarkan berdebu, berkerak, berkarat, bahkan menghitam, maka cermin kusam. Cermin seperti itu tidak dapat digunakan untuk bercermin.  Cahaya seperti apapun tidak dapat ditangkapnya. Seperti itulah hati manusia. Hati yang bening dapat menerima kebenaran dari Allah. Bila kotor bagaimana bisa menerima cahaya Allah.

Prof. Djawad Dahlan (alm.) pernah menyampaikan bahwa hati manusia adalah alat/tools/gadget untuk memastikan kebenaran. Bila anda sedang galau, dilema, tanyakan pada hati nurani anda, mana yang baik dan benar. Hati nurani akan menjawabnya. Kata hati itu tidak akan keliru. Namun bagaimana dengan hati yang kusam tadi? Kita tahu jawabannya.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana membuat hati menjadi bening? Dengan menata hati. Bagaimana menata hati? Dengan riyadloh atau latihan mendekatkan diri pada Allah. Bagaimana caranya? Kita dapat mencernanya dari lirik “Tombo Ati” yang dibuat oleh Sunan Bonang. Kini lebih populer sebagai lagunya Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng atau Opick.

“Kaping pisan, Moco Qur’an lan maknane
Kaping pindo, Sholat wengi lakonono
Kaping telu, Wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, Weteng iro ingkang luwe
Kaping lima, Dzikir wengi ingkang suwe
Salah sakwijine sopo biso ngelakoni
Insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi”

“obat hati ada lima perkaranya
yang pertama, baca Qur’an dan maknanya
yang kedua, sholat malam dirikanlah
yang ketiga, berkumpullah dng orang sholeh
yang keempat, perbanyaklah berpuasa
yang kelima, dzikir malam perpanjanglah
salah satunya siapa bisa menjalani
moga-moga Gusti Allah mencukupi”

Rajinlah membaca  al-Qur`an dan maknanya, Jagalah shalat lima waktu dan shalat malam, kalau perlu tambah shalat sunnah qabliyah dan ba`diyah. Dan kita beruntung shalat tahajjud itu di malam hari, di waktu yang lapang. Coba kalau siang. Anda telat kuliah siang hari dengan alasan pada dosen, “Maaf, pak abis tahajjud”. J Lalu, bertemanlah dengan orang shaleh, karena kata Rasulullah orang dinilai dari siapa temannya dan orang shaleh dapat membawa kita pada kebaikan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran (Watawa Saubil haq wa tawa Shaubis Shabri) . Rajin berpuasa, minimal kalau akhir bulan belum dikirim uang oleh orang tua, anda berpuasa J dan zikir untuk membeningkan hati. Cukup yang mudah 33 kali. Anda zikir ratusan kali nanti alasannya sama kalau telat kuliah J. “Maaf, pak telat kuliah. Tadi abis zikir”.

Bagaimana bisa “tombo ati” membeningkan hati? Ingatlah bahwa itu semua adalah bentuk dari zikir kepada Allah. Zikir berarti mengingat Allah. Itu membuat hati terus membuat ikatan dengan Allah.

Jangan ikuti hawa nafsu yang membawa pada keburukan. Pelihara nafsu untuk berbuat baik. Misal ada ghirah, kecemburuan, bila orang lain mampu mendapatkan IPK 3,9 mengapa IPK kita cuma 3,8.😀 Bila teman kita rajin kuliah 100 % hadir kenapa kita cuma hadir 95%. J Bila teman kita sukses kuliah sambil berorganisasi mengapa kita sukses kuliah namun menjadi kupu-kupu? Kuliah pulang-kuliah pulang, tak mendapatkan pengalaman apapun.

Tata hati dan perilaku dengan  menahan diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskan kita ke lembah hitam J Jaga pergaulan, bukan hanya pergaulan laki-laki dengan perempuan dan sebaliknya, tetapi juga sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan dengan perempuan. J

Menahan diri dari perbuatan jahilyah seperti ;

–          Mengumpat : Rasulullah pernah diumpat oleh orang Yahudi, Aisyah membalas dan Rasul melarang Aisyah. Karena manusia akan kembali dalam bentuk umpatan-umpatannya.

  • Mencontek : Awal embrio dari perilaku korup.
  • Copy Paste : Dari Mbah Google/Situs Sagala Nyahoo/tugas orang lain di copy dan anda akui sebagi tugas anda

Bila anda melakukan itu anda enggak akan menjadi SESUATU.. J

Semoga kita semua menjadi orang yang Bening Hati, selalu diberikan petunjuk oleh Allah, dan sukses dalam aktivitas kuliah. Semoga Fikom Unisba menjadi jalan cahaya bagi anda dan kita semua. Amin.

Materi dibuat oleh M.E. Fuady, S.Sos., M.Si. untuk disampaikan pada Ta`aruf Fikom Unisba, 17 September 2011u

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam, Mistisisme dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Ayat Cahaya dan Bening Hati

  1. ika berkata:

    alhamdulillah, sesuatu…🙂

  2. Muhammad Muchson berkata:

    manfaat banget!!!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s