Polling Opinion (1) : Lepasnya Timor-Timur, Tabloid Monitor sampai Urusan Seks

Masing ingat peristiwa lepasnya Timor Timur dari wilayah negara kita? Bagi anda yang mengikuti isu itu pada pemerintahan Presiden Habibie, tentu masih ingat dengan pelaksanaan referendum  yang menentukan masa depan TimTim. Pemerintah dianggap gagal mempertahankan TimTim sebagai bagian dari NKRI. Pelaksanaan referendum yang berujung pada lepasnya Timor Timur menjadi “komoditi’ dan ‘amunisi” bagi oposisi untuk mengakhiri kepemimpinan Pak Habibie pada Sidang Umum 1999.

Selain lepasnya Timor Timur, ada pihak yang mengkritik kegagalan pemerintah dalam mengelola opini publik. Dalam jajak pendapat di TimTim, warga TimTim diberikan opsi menerima atau menolak otonomi khusus. Menerima berarti TimTim masih menjadi bagian dari NKRI, sementara opsi menolak mereka artikan sebagai kebebasan dan kemerdekaan. Tentu saja siapapun akan berpikir bahwa konsep “merdeka”, “bebas”. “kemerdekaan” dan “kebebasan” adalah hal yang sangat asasi dan diinginkan siapapun. Tak ada orang yang tak mau merdeka. Hasil polling  menunjukan 78,5% menolak otonomi khusus dan 21,5% menerimanya. Itu berarti mayoritas warga TimTim memutuskan untuk merdeka dan berpisah dengan NKRI.

Masing ingat dengan tabloid Monitor pada? Anda yang pernah menonton Return to Eden, Escrava Isaura, Little Missy Mingguan dan lainnya pasti pernah membaca tabloid hiburan ini. Minguan yang saya baca saat sekolah dasar (SD) ini membuat polling “Kagum 5 Juta”tentang tokoh yang diidolakan pembaca. Polling Monitor berhasil mengumpulkan 33.963 kartu pos berisikan nama idola pembaca.  , yang paling dikagumi pembaca Monitor adalah Soeharto di urutan teratas, disusul BJ Habibie, Soekarno, dan musisi Iwan Fals di tempat ke-4. Da`I sejuta Umat. K.H. Zainudddin M.Z., duduk di urutan kelima.  Arswendo di peringkat 10, sedangkan Nabi Muhammad berada satu tingkat di bawahnya, nomor 11.

Hasil polling tabloid Monitor unrutan 1-12

Hasil polling itu dianggap telah menghina nabi dan melecehkan umat Islam. Seingat saya saat itu publik, khususnya umat Islam, bereaksi keras karena beberapa hal dan ulasan saya. Pertama, nabi berada di peringkat sebelas. Nabi adalah sosok yang tidak bisa dibandingkan dengan manusia biasa. Keyakinan dan agama adalah isu sensitif yang dapat menyulut emosi penganutnya, khususnya umat Islam saat itu yang pernah terluka karena berbagai represi pemerintah Orde Baru. Sebut saja kasus Tanjung Priok yang membuat hubungan umat Islam dan pemerintah begitu buruk. Dua, Arswendo berada di peringkat sepuluh mengalahkan nabi. Arswendo Atmowiloto adalah pemred Monitor . Ia memang cukup populer pada saat itu (sampai saat ini). Ia menjadi tokoh nomor sepuluh, sementara nabi nomor sebelas dianggap umat sebagai kesengajaan menghina nabi dan umat Islam. Ketiga terlalu berani memasukkan nama nabi di sana di saat hubungan antaragama sedang dibangun. Nurcholis Madjid menyebut itu sebagai guyonan yang mengganggu. Seperti orang yang membuat orang lain jatuh dengan menarik karpet di bawahnya. Toleransi dan kerukunan umat beragama rusak gara-gara Monitor. Kemarahan umat Islam datang dari berbagai penjuru tanah air. Sulit untuk meredamnya. Keempat, obyektivitas dalam melakukan polling. Monitor terlalu gegabah menyajikan hasil polling yang tidak didasarkan pada metodologi riset yang dapat dipertanggungjawabkan. Hasil polling yang mengandalkan kiriman kartu pos saja dianggap tidak obyektif. Bagaimanapun, polling inilah yang kemudian membuat Arswendo merasakan dinginnya hotel prodeo.

Sebenarnya, menurut saya secara pribadi, secara rasional barangkali umat Islam tak perlu marah. Mengapa? Monitor adalah mingguan yang selalu mengangkat tema hiburan, sedikit menyerempet “bupati” dan sekwilda” meski tidak dipandang porno, dan sensasi. Pihak yang mengikuti polling atau mengirimkan angket, tentu saja pembaca monitor yang menyenangi tema-tema gosip dan hiburan, bukan berasal dari kalangan agamawan. Jadi wajar saja kalau nabi berada di urutan sebelas. Sangat aneh bila nabi di urutan satu. Seingat saya, Gus Dur pun termasuk pembela Arswendo saat itu dengan mengatakan bahwa Arswendo tidak layak dihukum. Bahwa pembaca tidak menjadikan nabi sebagai tokoh idola, itu adalah persoalan umat yang kembali pada diri mereka masing-masing. Mengapa umat tidak menjadikan nabi sebagai tokoh yang dikagumi misalnya, itu adalah persoalan yang harus diintrospeksi. Saat saya polling di kelas Opini Publik A & B (secara sederhana tentunya) saja, yang menjawab siapa idola mereka, hanya satu orang yang mengatakan idolanya Nabi Muhammad. Sisanya, empat orang menjawab Hyun Bin, tiga orang menjawab Choi Si Won dan Kyu Hyun, tiga orang menjawab ayahnya, dua orang menjawab Pak Habibie, dua orang menjawab ibunya, satu orang menjawab Pak Fuad (:D… ada juga yang jawab ini. Tapi boleh deh.. :D). Saat saya men-screening calon ketua organisasi tertentu di tingkat mahasiswa empat tahun berturut-turut, jawabannya variatif; Hitler, ayahnya, dan sisanya tidak sosok yang di idolakan. Jadi sebenarnya kita yang harus introspeksi mengapa tak menjadikan nabi sebagai tokoh idola, panutan atau yang dikagumi.

Kembali pada persoalan polling, majalah Matra pernah melakukan survei tentang perselingkuhan di Jakarta. Hasilnya, dua dari tiga laki-laki di Jakarta melakukannya. Ternyata survei tidak mempertimbangkan pemilihan responden yang tepat berdasarkan metodologi agar representatif.

Iip Wijayanto, seorang pegiat di bidang sosial kemasyarakatan, pernah melakukan survei tentang aktivitas seks mahasiswa di Yogyakarta tahun 2000-an. Hasilnya 97% mahasiswi di Yogya sudah tidak perawan. Banyak di antara mereka melakukannya di kost-an pada siang hari. Angka yang sangat besar dan mengejutkan. Banyak pihak yang tidak percaya dengan hasil survei ini. Media sempat memberitakan kalau Iip dipanggil pihak kepolisian setempat dengan dugaan pencemaran nama baik kota Gudeg itu. Terlepas dari hasil survei yang mengagetkan, langkah polisi memanggil Iip tidaklah bijak. Bila hasil survei  dianggap “hil yang mustahal” , cermati saja dari metode risetnya. Dari pemilihan responden, pertanyaan pada angket, penyebaran angket, sampling error, dsb. Bukan dengan “kemungkinan” mempidanakannya. Bila perlu buat survei tentang isu yang sama. Boleh jadi hasilnya sama, mengingat tingkat hubungan seksual pranikah di sejumlah daerah selalu meningkat atau mungkin jauh berbeda, angkanya sangat kecil.

Mengenai  isu seks pranikah, KOMNAS Perlindungan Anak juga pernah melakukan survei terhadap 4500 remaja di 12 kota besar di Indonesia (2007) dengan metode yang tampaknya lebih akurat sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan.  Sebanyak 97 % Remaja pernah mengakses adegan syur/konten porno, 93,7 % pernah berciuman, petting, dan oral sex, 62,7 % Remaja usia SMP tidak perawan, dan 21,2 % Siswi SMU pernah melakukan aborsi.

So, polling opinion adalah aktivitas untuk mengetahui pendapat publik tentang sebuah isu tertentu. Bisa isu lama, isu baru yang sedang hangat/aktual, atau isu lama yang kembali menghangat.  Isu yang diangkat biasanya berkaitan dengan aspek sosial kemasyarakatan yang menjadi perhatian publik. Dengan metode ilmiah, khususnya teknik sampling untuk memperoleh reponden dan statistik, hasil polling dapat dipertanggungjawabkan.

Empat kasus di atas, Lepasnya Timor Timur, tabloid Monitor, majalah Matra, dan tingkat aktivitas seks pranikah adalah menjadi contoh jajak pendapat atau polling yang pernah dilakukan pemerintah, media, institusi, bahkan perorangan. Ada polling opinion yang mengedepankan metodologi agar hasilnya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, namun ada juga yang mengabaikan metodologi (tidak reliabel dan valid) yang tentunya tidak mengekspresikan opini publik seutuhnya.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Opini Publik, Public Relations. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Polling Opinion (1) : Lepasnya Timor-Timur, Tabloid Monitor sampai Urusan Seks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s