Saat Mading Tak Lagi Dibaca

Di lorong dan pelataran fakultas, puluhan mahasiswa berdesakan memenuhi area papan informasi a.k.a mading a.k.a majalah dinding a.k.a. media dinding. Di situ terpampang jadwal kuliah semester baru. Suasana yang hiruk pikuk, sedikit crowded, dan “ruang” mencatat jadwal yang sempit, tak menyurutkan tekad mereka untuk menulis jadwal kuliah. Dengan “semangat `45”, akhirnya mereka selesai mencatat jadwal kuliah masing-masing. Satu persatu mahasiswa itu meninggalkan area mading. Namun tak lama, kira-kira dalam beberapa kali kerjapan mata (asa lebay nya..? :D), datang sekelompok mahasiswa yang juga akan mencatat jadwal kuliahnya. Seperti semut ketemu gula, mahasiswa datang silih berganti memenuhi area mading. So on, so on and so on. Terus, terus dan terus. Susul menyusul, silih berganti, mahasiswa mundur satu lalu datang yang baru. Ngapain? Ya mencatat jadwal kuliah dong, masa antri sembako.. 😀


Lebih dari dua dekade, mahasiswa yang berdesakan di area mading fakultas sudah menjadi pemandangan biasa. Yang jelas, itu terjadi di awal semester baru saja. Selebihnya bila kuliah telah berjalan, area mading fakultas tak lagi dipadati mahasiswa. Apalagi kemudian jadwal bisa diperoleh di Kopma atau akses via internet. Sesekali saja mahasiswa melihat-lihat mading. Meski sepintas, mereka terlihat membaca informasi resmi seputar kegiatan akademik, seminar, skripsi, beasiswa, dan lainnya. Bila infonya sangat penting, mahasiswa terlihat membaca lebih seksama.  Misalnya, pengumuman yang ditujukan pada mahasiswa ber-IPK kurang dari sekian (tak  tega menyebutkannya.. 🙂 Just kidding) dan “malaa” alias mahasiswa lilaaaaaaa yang bertahan lebih dari 14 semester di kampus biru. Info seperti itu sangat diperhatikan mahasiswa.

Mading VS Media Sosial

Lalu, bagaimana dengan mading di organisasi kemahasiswaan? “Angin bertiup” memberi kabar kalau mading yang dibidani organisasi kampus tak banyak dibaca mahasiswa. Beberapa organisasi mahasiswa mengalami hal itu. Kini mahasiswa lebih suka mem-broadcast via BBM, nge-tweet dan menulis status di social networking. Itu tak salah dan wajar mengingat perkembangan teknologi dan gadget di tanah air. Orang lebih suka tenggelam di media sosial.

Selanjutnya, bagaimana nasib mading? Abaikan saja? Amputasi? Sepenuhnya alihkan ke facebook, twitter, dan blog? Atau, tetap fungsikan saja meski hidup enggan mati pun tak mau? Kita perlu pahami bahwa perkembangan teknologi benar-benar mengubah cara orang berkomunikasi namun cara lama tak serta merta ditinggalkan. Media massa, contohnya. Mereka memilih mengonvergensikan media lama dan baru, mengintegrasikan media tradisional dan canggih, membuat versi online namun mempertahankan versi  offline mereka. Itu pula yang dapat kita lakukan. So, mengapa tidak “mengawinkan” mading dan media sosial? Kita dapat memilih untuk memuat informasi di mading sekaligus di media sosial. Atau, jadikan social networking sebagai sarana mepromosikan mading anda. Buatlah buzz. Bikin isu lewat twitter/facebook yang buat orang penasaran agar mau berkunjung ke mading anda. Buat status/tweet kuis berhadiah yang info/clue-nya ada di mading. Pemenangnya mendapat hadiah tiket nonton dengan Ketua BEM🙂, voucher makan kek, buku komunikasi, atau apapun yang cukup bernilai.

Konten Mading

Konten di media dinding, tentunya harus informasi yang betul-betul dibutuhkan pembacanya. Kalau butuh, orang akan mencari informasi itu. Seperti gula, dimana pun semut akan datang mengerubungi, seperti jadwal kuliah tadi.  Lalu, mading juga harus mempertimbangkan aspek periodisasi. Artinya, terbitkanlah secara berkala. Jangan kadangkala hidup, kadangkala mati. Lama sekali matinya dan hanya sekali hidupnya..😀 Bukan berkala seperti itu. Yang dimaksud adalah penjadwalan untuk meng-update informasi. Lakukanlah minimal satu-dua minggu sekali. Berikutnya, jangan lupa untuk memperhatikan aspek aktualitas. Orang akan mencari informasi terhangat/terbaru. Siapapun cenderung memperhatikan informasi yang berbeda meski tempatnya sama, yakni di mading. Apa anda tak merasa bosan bila terus bertemu orang yang sama, terutama bila orang tersebut tak anda harapkan untuk berjumpa. Dalam benak anda “eh, elo lagi elo lagi!”.  So, bila yang dilihat di mading itu-itu saja, itu lagi-itu lagi, eta deui-eta deui, eta-eta keneh, kagak ada bedanya coy, yo wis siap-siap saja mahasiswa pembaca mengucapkan selamat tinggal, bye-bye. Terakhir, buatlah konten secara kreatif. Konten mading harus kaya dengan informasi, tampilan, dan kemasan.  Setiap terbitan, informasinya variatif. Pilih pula huruf, teks, warna, gambar, ukuran, dsb yang akan menarik minat baca.

Akhir kata, dengan eksekusi  fisik dan dukungan media sosial, insya Allah mading dapat tetap hidup. Kekuatan media sosial plus filosofi gula, kala, beda dan kaya di atas, semoga dapat membuat mading lebih bergigi dan bertenaga. Mudah-mudah mading di kalangan mahasiswa Fikom, apapun organisasinya, menjadi lebih semarak dengan kreativitas. Saat mading tak lagi dibaca, jangan mengamputasinya karena ia tetap menjadi alternatif media informasi bagi mahasiswa. Carilah cara untuk membuatnya tetap digjaya. Wassalam.

*) Sabtu, 10 Februari 2011. Tulisan untuk dimuat di buletin BEM Fikom Unisba.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized, Writing for PR. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s