Refleksi Media dari Ramadhan ke Ramadhan

Dari tahun ke tahun, satu dekade ke dekade berikutnya, media selalu menjadi pendamping bagi mereka yang berbuka puasa dan menyantap makanan saat sahur.  Bila prime time (TV) di luar Ramadhan pada pukul 7 s.d. 10 malam, saaat bulan puasa tiba, waktu tayang utama bergeser pada saat berbuka dan sahur.

Berdasarkan pengalaman “menikmati media” sejak 1980-an sampai kini, ramadhan selalu dihiasi media yang menjadi primadona plus sajiannya. Boleh dikatakan ada masa kejayaan radio, televisi dan internet di bulan ramadhan.

Tahun 1980-an

Pada dekade itu, tentu saja televisi tak sedahsyat saat ini.  Tentu kita masih ingat stasiun TV di tanah air cuma ada satu,TVRI. Siarannya sangat terbatas, pukul 16.30 sampai 00.00.  Boleh dibilang acaranya monoton, jadi TV tak menjadi pilihan mereka yang berbuka. Kayaknya acara TVRI yang ditunggu-tunggu saat itu adalah serial ACI “Aku Cinta Indonesia”. Selebihnya anak-anak kecil lebih senang bermain bersama usai shubuh.

Media yang menjadi primadona di bulan ramadhan tahun 1980-an adalah radio.  Mengingat karakteristik radio yang bisa didengarkan tanpa menyita perhatian penuh, radio dapat hadir kapan pun. Pada siang hari ada acara “SEMPAL GUYON SI KUNANG “, sore harinya “WAK KEPOH”. Tak lupa sandiwara radio SAUR SEPUH yang diputar berbagai stasiun radio,  siang dan sore hari. Lalu yang paling banyak diputar saat sahur dan berbuka adalah iklan kocak “Viliron”-nya Babah Holiang dengan Kang Ibing (alm.). Saat sahur, radio menjadi ajang request lagu para remaja saat itu.

Tahun 90-an

TV mulai merambah ruang keluarga.   “SAINT SEIYA” serial bertele-tele karena sangat lambatnya jalan cerita, tayang di RCTI jelang buka puasa.. “BURSA MUSIK INDONESIA” di Anteve yang fenomenal menemani penonton yang baru bangun tidur pasca (sahur dan) shalat shubuh. Bagi sebagian mahasiswa, BMI ditonton sebelum pergi ke kampus (Jadi inget lagu2nya Base jam, Yana Julio, Rossa, KAHITNA dll)..Anteve juga menyajikan acara layak tayang menemani sahur dengan “dakwah pas sahur” (Harry Mukti & istri sebagai host).. Stasiun TV lain juga menyajikan acara dakwah pas sahur.. Rasanya hampir semua stasiun TV menghormati ramadhan dengan seleb-talent–host-presenter-penampil bepakaian sopan tertutup kalau pun tak berjilbab.. Dan, ramadhan tahun 90-an banyak menampilkan kyai/ustadz senior sebagai narasumber..

Tahun 2000-an..   Stasiun TV mulai menayangkan acara hiburan pas sahur.. TRANS TV tayangkan “SAHUR YUK SAHUR”-nya Miing dan Udin Bagito.. Talent kayak Maudy Koesnadi, dll pake pakaian sopan, kerudung/jilbab.. Rasanya semua masih menghargai ramadhan dengan pakaian sopan, kerudung atau jilbab.. Bahkan artis non muslim sekalipun menghargai ramadhan dengan pakaian sopannya..Para Kyai/Ustadz masih hadir sebagai narasumber meski cuma tempelan karena tampil beberapa menit saja.. Kehadiran kyai di layar kaca mulai”berguguran” digantikan canda tawa yang kadang dipaksakan..

Medio 2000-an..   Banyak acara yang menampilkan hinaan, celaan, kekerasan.. Artis ngga menghargai ramadhan dengan pakaian apa adanya, terbuka, rok pendek, bermesraan padahal bukan mahrom, dll.. Kayaknya ngga layak tonton.. Semuanya melulu hiburan..Saat itu kita jadi saksi mata pasang surut acara di stasiun TV.. Acara Sahur-nya Eko Patrio dan Ulfah di SCTV “loncat pagar” ke RCTI dengan format baru.. RCTI yang sebelumnya berkibar dengan acara sahurnya Eko, mulai tergantikan oleh “EMPAT MATA”-nya Tukul yang “bercerai” dengan Eko dari acara tersebut, atau acara sahurnya Komeng & Adul.. Karena “OPERA VAN JAVA” menjadi primadona di Trans 7, Tukul pun harus sadar diri untuk tidaklagi menjadi “gula” dan “jawara” sahur di Trans 7..

Kini?   Rasanya masih sama.. Tidak lebih beradab..  Hinaan, celaan, kekerasan, pakaian terbuka, rok pendek a.k.a. setengah pornoaksi ditampilkan media.. Masih ada iklan minuman penyegar dengan wanita berkaus agak terbuka di bawah leher sedikit nyerempat bagian aurat.. Banyak tayangan tidak selaras nafasnya dengan bulan suci yang mulia..

Masih oke tahun 90-an atau 2000-an, artis yang biasa tampil seronok menjaga ramadhan dengan berdramaturgi bak orang shaleh, mengenakan pakaian tertutup, berkerudung/jilbab meski usai ramadhan kembali ke habitnya, kembali pada diri yang sesungguhnya.. Mereka masih lumayan dibandingkan artis yang ngga bisa berpakaian sopan selama ramadhan. Misal, hanya karena ulang tahun stasiun TV siang hari pake pakaian mini di bulan ramadhan..

Lalu tayangan apa yang layak tonton? Barangkali masih cukup layak menonton PARA PENCARI TUHAN” di SCTV mski dijejali iklan), atau Pak QURAIS SHIHAB di Metro TV (Masih pas sahur??) dan Diskusi Agama di TV One yang dapat menjadi teman saat ramadhan dan sahur..

Untuk sebagian lainnya?? BBM, (masih) facebook dan twitter yang menemaninya, asalkan bijak.. Tidak seperti orang yang tidak pernah belajar bagaimana adab dalam berkomunikasi atau kesantunan dalam ramadhan, yang kukuh dalam kebodohannya, yang keukeuh dalam kebebalannya..

Detik perdetik mengganti nge-tweet sah-sah aja, cuma rasanya agak lebay. Kayaknya menit permenit sudah cukup😀

So, “Wise & Let`s think befor WE WRITE”…

Mudah-mudahan kita selalu beribadah, shalat dan mengaji di antara godaan-godaan media..

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam, Teknologi Komunikasi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s