Belajar dari Keberhasilan Samsung dan Kesalahan Nokia

Sabtu (11/8) siang saya kunjungi Samsung Service Centre BEC untuk upgrade ponsel Samsung Galaxy Ace, dari Froyo ke Gingerbread. Sebenernya sih mau install ulang software my tab, Galaxy 8.9 alias P-7300. Ambil nomor antrean, ternyata kebagian nomor 111. Pas duduk, liat sekeliling ada 15 orang konsumen. Saya pikir Samsung rame juga ya..

Customer Service yang standby melayani ada empat orang, sementara konsultan tekniknya kalo nggak salah ada sembilan orang. Customer Service dan Konsultan Teknik memang bisa dibedakan. Yang CS nggak pake jilbab, sementara KT semuanya pake jilbab warna kehijauan, hijau tosca. Salute juga. Dulu sih jarang ada bagian pelayanan yang pake jilbab. Biasanya karena kebijakan perusahaan. Tapi di Samsung, bagian pelayanan (meski bukan CS) mengenakan jilbab. Saya tanya-tanya dikit, ternyata yang Konsultan Teknik itu anak-anak SMK. Nggak tau apa mereka udah lulus/belum. Yang pasti itu nunjukkin kalo anak SMK kepake. 

Melihat orang-orang duduk nunggu giliran, udah sampe nomor antre ratusan, terbayanglah BEC 10 tahun yang lalu. Situasi orang antre seperti ini tidak dialami Samsung Centre sebelumnya. Bahkan saat itu Samsung belum punya Service Centre di BEC. Hanya ada booth promo Samsung di lantai bawah pas awal-awal hape layar warna muncul. Situasi orang antre di service centre, ampe ratusan nomor, saat itu hanya dialami Nokia Care di BEC lantai dua.

Saya cukup mengingat situasi itu coz taun 2002 beli hape Samsung layar warna generasi awal, flip otomatis. Cukup piji satu tombol, bagian layar berputar hampir 80 derajat. Orang lain masih pake hape monochrome, hitam-putih dan ringtone jadul, sementara saya dengan hape itu layar udah warna dan ringtone-nya polyphonic. Kata mahasiswa saya saat itu, keren lah..😀

Satu dekade lalu, pemain utama ponsel memang masih Nokia. Nomor dua adalah Ericsson, dan seterusnya ada Motorola, Siemens. Untuk gadget, Samsung masih NKOTB alias New Kids On The Block, anak baru di gang rumah gua a.k.a. anak bawang. Untuk pasar ponsel di Indonesia, Samsung tak cukup dikenal.

Kini situasinya sudah berubah. Boleh dibilang Samsung sedang menikmati keberhasilannya sebagai main player ponsel di Indonesia. Pasar ponsel tanah air dibanjiri berbagai produk Samsung, mulai low hingga high end. Mulai harga di bawah satu jeti ampe di atas enam jutaan. Dengan android, Samsung meraih posisi puncak market ponsel.

Nasib berbeda dialami Nokia. Dulu Nokia dikenal sebagai ponsel jutaan umat, kini tidak lagi. Nokia Care Centre yang dulu ramai, kini tampak sepi saja. Kemarin saya lewat, hanya dua orang konsumen sedang duduk.

Memang, situasi ramai di service centre bukanlah tolak ukur produknya unggul dan banyak dipake konsumen. Mungkin saja konsumennya sedikit dan semuanya kebetulan sedang komplain. Jadi produknya jelek. Namun, kita sama-sama tahu, Samsung sedang menjadi primadona. Samsung identik dengan gadget dan ponsel Android. “Samsung The 1’st Android Phone”, begitu tagline.

Penetrasi Ponsel dan Tablet Samsung memang tinggi. ComScore Inc, perusahaan riset digital dunia meriset pengguna seluler di Amerika selama April-Juni 2012. Di Amerika, Samsung kuasai 26% pasar ponsel, disusul LG sebesar 19%, Apple yang terus tumbuh dengan angka 15,5%, Motorola 12% dan HTC 6,5%. Untuk platform ponsel, dari 110 juta pengguna smartphone, Google Android meraih 52%, Apple 32,%, RIM 11%, Microsoft 4% dan Symbian 1% Sementara untuk pasar ponsel di tanah air, Telunjuk.dom melansir Samsung menguasai 29% pasar, Blackberry 18% dan Sony/Sony Ericsson 15%. Hasil survei juga menunjukkan, Samsung kuasai 50% pasar tablet di Indonesia. Berarti, dari 10 tablet yang beredar, lima di antaranya adalah produk samsung.

Tampaknya keberhasilan Samsung tak lepas dari inovasi produk, beragamnya produk di berbagai level, pilihan platform, promosi dan positioning produk. Seperti Nokia pada masanya yang selalu melakukan inovasi, Samsung juga sama (Sebenarnya semua perusahaan melakukan ini ). Selalu ada inovasi, fitur, dan teknologi baru yang ditawarkan Samsung. Seperti layar warna dan polyphonic, dual simcard (yang biasanya hanya ditemukan pada ponsel lokal), infocus pada ponsel, transfer data melalui S-beam, dsb. Produknya tersedia untuk semua level, mulai low end sampai pasar premium (bukan pertamax :D). Dan, keberhasilan Samsung yang sesungguhnya diawali dengan ketepatan memilih platform OS. Samsung menggunakan Android yang terbukti diterima pasar secara luas. Berbeda dengan Nokia yang keukeuh dengan Symbian, bahkan lebih memilih Windows Phone dibanding Android. Setelah tak mengembangkan Symbian, seharusnya Nokia terbuka saja pada untuk platform.

Samsung juga rajin beriklan, sponsorship dan melakukan soft promotion. Jelang Olimpiade di Athena (saya agak lupa di mana dan tahun berapa) , Samsung beri bantuan sebesar satu milyar untuk kontingen Indonesia yang akan berlaga. Setengahnya berupa ponsel untuk atlet dan 500 juta sisanya berupa uang cash (Ini berita yang masih saya ingat karena menjadi berita di beberapa media terkemuka delapan tahun silam). Beberapa tahun terakhir ini, Samsung menjadi sponsor Chelsea.Di bagian dada tertera nama perusahaan asal Korea Selatan tersebut. Lalu, bila anda gemar menonton serial Korea, anda pasti tahu saat ponsel dan tablet Samsung muncul (product placement). City Hunter, Lie to Me, King 2 Heart, Rooftop Prince, dan Big, adalah beberapa di antaranya. Kirim data hanya dengan menempelkan ponsel di atas dan bawah, menghiasi foto dengan note, nyalain mobil Hyundai via hape, dsb membuat penontonnya ngiler untuk memiliki produk yang sama. Promosi Samsung lewat K-Drama memang gencar 

Kini Samsung memang sedang menghadapi tuntutan Apple. Samsung dituduh menjiplak iphone dan ipad. Belum jelas siapa yang akan menang. Yang pasti, saat ini produk Samsung sangat populer di kalangan pengguna seluler. Citra produknya diterima publik. Citranya positif. Samsung memang sedang berada di atas angin, melayang di angkasa. Ibarat roda yang berputar, Samsung sedang berada di atas kompetitor. Bila tak ingin menjadi nomor dua apalagi tercecer di belakang, Samsung perlu mencermati “kegagalan” Nokia, Kodak, dan berbagai perusahaan besar yang pernah menjadi legenda namun kemudian harus tertatih-tatih. Menjadi nomor satu memang tak mudah namun lebih tak mudah lagi mempertahankan posisi yang sudah diraih. Inovasi, strategi, promosi, after sales, dan timing adalah kuncinya.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Riset PR, Teknologi Komunikasi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Belajar dari Keberhasilan Samsung dan Kesalahan Nokia

  1. Ping balik: Siklus Hidup Produk | hadiwahyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s