Memaknai Rezeki Yang Diterima Sebagai Istidraj

Deskripsi orang memberikan uang pada seorang anak (bukan God)Suatu hari seorang kawan lama menyapa saya di jalan. Tak disangka hampir sepuluh tahun kami tak berjumpa, ketemunya di pinggir jalan pas saya nunggu angkot🙂 Obrolan ringan kami pun berlanjut ke pembicaran yang lebih berat. Berceritalah ia tentang masalah yang tengah dihadapi. Masalah pekerjaan, rumah tangga, istri, keluarga, juga beberapa WIL-nya alias Wanita Idaman Lain. Ia mengakui, penghormatan pada bosnya membuat ia manut saja saat ditawari minum dan cewek, meski masalah cewek bukan hal yang baru saya dengar darinya. Rasanya masih sama dengan cerita ia saat terakhir kami ketemu..😀

Ia bilang, masalah dengan bos di tempat kerja yang membuatnya diberhentikan, tapi ia yakin kalo itu bukan akhir dari segalanya. Ia meyakini kasih sayang Allah begitu besar padanya. Berkali-kali jatuh namun ia selalu bangkit. Menurutnya, Allah selalu memberi jalan buat dia dalam berbisnis. Rejeki selalu ada meski ia menyadari selalu jatuh pada persoalan yang sama : Cewek pagi, cewek lagi.. Ia memang tak bisa menahan godaan. Ia sadari banyak salah, tapi “Allah sayang ama gua”, begitu katanya.

ISTIDRAJ.. Itu terlintas di benak saya saat ngobrol dengannya.. Saat Tuhan memberi kita banyak kesenangan, kenikmatan, sementara kita bergelimang dosa, melakukan kemaksiatan, masih jalan di tempat yang keliru, kita harus berhati-hati.. Jangan-jangan itu bukan nikmat Allah yang hakiki, bukan bentuk Maha Kasih Allah, tapi istidraj..

Istidraj dapat dimaknai sebagai kesenangan yang diperoleh seseorang yang menjauh dari Tuhan dan hukuman tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang tersebut dan tidak disegerakan adzabnya.

Kata Nabi,َ “Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kita memaknai semua pemberian Tuhan adalah bentuk Rahman dan Rahim, itu tidak salah.. Tapi kita harus tanyakan pada diri sendiri seperti apa kita.. Kita perlu bercermin, apa kita sudah beranjak dari jalan yang keliru ke jalan yang diridhoi Allah.. Apa kita tetap membiarkan diri kita di jalan yang tidak maslahat.. Bila iya, jangan berpikir itu adalah sayangnya Allah pada diri kita. Wong bikin ulah kok pengen di sayang, bikin dosa kok nuntut di sayang. Dasar Ndeso, Katro..😀.. Boleh jadi itu adalah hukuman dari Allah.

Seperti yang sudah Allah Firmankan dalam al-Qur’an. “Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS.Al-An’am: 44).

Setiap orang pernah tertimpa masalah. Saat itu ia mendekat pada Tuhan.. Setelah terbebas dari masalah, ia malah lupa diri. Ketika ia mengabaikan ketentuan Allah, diberikanlah semua kesenangan padanya. Setelah kesenangan demi kesenangan datang, tiba-tiba datang hukuman dari Allah dalam berbagai bentuknya. Mungkin ada yang jatuh miskin, dibuka aib, nama baik hancur, jatuh dari posisi puncak seperti terjun ke kubangan lumpur, dan siksaan pedih yang menanti saat/setelah ajal datang..

Allah berfirman, ْ َﺳَﻨ َﺴْﺘ َﺪْر ِﺟ ُﻬ ُﻢ ﺣَﻴ ْﺚُ ﻣ ِﻦْ ﻳ َﻌْﻠ َﻤ ُﻮنَ ﻻ,  “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsuur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44).

Semua tindakan maksiat seseorang, Allah balas dengan kenikmatan semu, dan Allah membuatnya lupa untuk mengingat Allah. Kita tak tahu kapan hukuman dari Tuhan datang.

Kembali pada kawan saya tadi, semoga ia tak keliru dalam memaknai kenikmatan yang diberikan Allah. Belum tentu nikmat itu adalah bentuk sayangnya Allah melainkan istidraj bila kita termasuk orang yang membiarkan diri kita melakukan dosa. Janganlah karena penghormatan pada siapapun, kita melakukan apapun meski bertentangan dengan aturan agama. Maknai pemecatannya itu sebagai teguran Tuhan agar ia tak lupa diri dan kembali pada-Nya. Minuman keras, setetes saja diharamkan apalagi lebih dari itu. Satu lagi, daripada maen cewek, jajan, udah jelas tidak halal, mending poligami.. Itulah saat poligami menjadi solusi (tapi bisa jadi masalah baru buat istri :D)

Akhir  kata, semoga rizki kita benar-benar bagian dari Rahman dan Rahim Allah, mencukupi dan berkah. Amin. Bukan istidraj, bukan sengaja diberikan Allah karena kelakuan kayak si ucing garong dan di akhir ada azab menanti. Na’udzubillahi min zalik.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam, Mistisisme dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s