PR Offline VS PR Online

PR onlineKehadiran teknologi komunikasi modern seperti internet telah membuat pandangan manusia mengenai kehidupan berubah. Paradigma komunikasi manusia dalam menjalani aktivitas ekonomi, bisnis, interaksi sosial dan politik menjadi berbeda. Sebelumnya, manusia didominasi oleh aktivitas yang bersifat fisik, face to face, dihalangi oleh berbagai keterbatasan. Dengan internet, ruang, jarak dan waktu yang membatasi manusia menghilang. Menurut Kenichi Ohmae (Mahayana, 1999:97), itulah dunia tanpa batas (the borderless world). Dunia dimana setiap orang di seluruh dunia dapat berkomunikasi hanya dengan menekan keyboard, mouse. keypad, dan gadget-nya.

Sebelum Internet hadir, tugas PR adalah membangun citra (image) perusahaan di hadapan publik secara tidak langsung melalui “media offline” (media apa saja yang tersedia, termasuk radio, cetak, dan teve). Kita masih ingat dengan isu biskuit beracun, mie instant yang mengandung minyak babi, penyedap rasa yang mengandung gelatin, dsb.

Seorang PR Manager misalnya, harus berusaha agar berita-berita positif perusahaannya masuk ke media-media besar. Melalui berita-berita positif yang terencana dan terus menerus itulah diharapkan terbangun citra positif perusahaan tersebut di kalangan publik.

Dunia kini berubah. Konsumen bisa menulis apa saja di Internet, terutama di situs-situs social media dan blog. Kita perhatikan Facebook, Twitter, dan consumer generated media lainnya, termasuk blog. Begitu banyak produk yang dibahas oleh konsumen secara bebas. Pengalaman positif boleh jadi di posting ke tengah-tengah publik, dan pengalaman negatif sudah jelas paling banyak mereka share. Mereka yang kecewa terhadap sebuah produk atau perusahaan akan melemparkannya ke forum-forum seperti ini. Kekecewaan mereka yang tak tertampung di surat pembaca berbagai media cetak akhirnya mengalir ke Internet. Inilah dunia prosumen dimana kedudukan konsumen sudah setara dengan produsen.

Percuma bila PR membangun citra perusahaan secara serius melalui media, jika abai terhadap apa yang terjadi di dunia maya, karena di situlah sesungguhnya suara konsumen dan publik. Bisa saja citra di media bagus (ditulis bagus terus menerus), tapi kenyataanya banyak konsumen yang kecewa dan kemudian menuliskannya di Internet (dan punya peluang untuk menyebar ke pengguna lainnya).

Aktivitas PR pada masa lalu (offline) memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap pers/jurnalis. Berbagai informasi mengenai kebijakan, produk, jasa disampaikan kepada publik/konsumen melalui jurnalis. Publik yang tersebar luas tak bisa diraih secara langsung oleh perusahaan. Jurnalis menjadi jembatan antara perusahaan dengan konsumen. Hubungan antara perusahaan dengan media cetak (koran, majalah) dan elektronik (radio, TV) menjadi aktivitas yang utama (media relations with media mainstream). Perusahaan dan konsumen hanya dijembatani media massa. Komunikasi melalui media massa, tak ada kontak secara langsung dengan konsumen, begitu pula dengan konsumen yang hanya dapat mengomunikasikan pesan (keluhan, saran) melalui media massa (surat pembaca misalnya), Itu membuat kedudukan konsumen sebagaimana layaknya konsumen saja. Mereka hanya pembeli produk, tak lebih dari itu.

Aktivitas PR di masa kini (online) sangat berbeda. PR tetap memanfaatkan keberadaan media massa untuk penyebaran informasi mengenai perusahaan. Tidak seperti di masa lalu dimana media massa menjadi instrumen utama, atau menjadi satu-satunya cara untuk meng-enlarge keberadaan perusahaan kepada publik yang begitu tersebar luas, kini ada instrumen/tools lainnya, yakni internet (media sosial, dll). Jadi PR tidak lagi memfokuskan diri pada penyebaran informasi melalui jurnalis, tetapi berbagai fasilitas, seperti email, milis, khususnya media sosial dan blog. Pada era inilah konsumen kita sebut sebagai customer social, konsumen sebagai pengguna social media & social networking.

Konsumen bukan lagi sekedar konsumen. Bukan lagi sekedar pembeli atau pengguna produk, lalu berhenti sampai di situ. Aktivitas konsumen akan berlanjut di dunia maya. Kepuasan dan kekecewaan akan diposting melalui berbagai media sosial. Bila puas, konsumen akan memberikan testimoni melalui twitter, facebook, instagram, Line, Path, Instaplace, Foursquare, dsb. Konsumen sebagai pihak yang memperkuat keberadaaan produk/brand, menilai positif, mendorong konsumen lain yang membaca testimoni untuk menggunakan produk yang sama, mempengaruhi pilihan dan keputusan konsumen lainnya, itulah yang kita sebut Prosumen. Konsumen sekaligus menjadi influencer dan endorser dari produk/perusahaan tertentu.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Public Relations, Teknologi Komunikasi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s