Feminisme Fatima Mernissi (bagian I)

Rhoda Reddocks :
Feminisme adalah sebuah kesadaran dari perempuan dan laki-laki akan adanya penindasan dan eksploitasi terhadap perempuan di dalam masyarakat, di tempat kerja maupun dalam keluarga dan melakukan tindakan sadar untuk mengubah situasi tersebut

Profil Fatima Mernissi
Fatima Mernissi adalah seorang penulis, sosiolog, dan feminis  kelahiran Maroko tahun 1940. Ia kuliah tentang ilmu politik di Universitas Mohammed V Rabat, Marokko, dan melanjutkan ke jenjang berikutnya Universitas Sorbonne, Perancis dan Universitas  Brandeis,  Amerika Serikat , hingga mendapatkan  gelar doktor pada tahun 1973. Disertasinya dalam bahasa Perancis, kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berbahasa Inggris Beyond the Veil: Male-Female Dynamics In Modern Muslim Society,  dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dalam judul Seks dan Kekuasaan tahun 1975. Selain buku tersebut, karya mernisi yang telah diterjemahkan antara lain Perempuan dalam Islam, Pemberontakan Perempuan: Peranan Intelektual Kaum Perempuan dalam Sejarah Muslim, Teras Terlarang, Ratu-ratu Islam yang Terlupakan, Demokrasi dan Islam: Antologi Ketakutan , Setara Dihadapan Allah.


Di Indonesia, ia dikenal oleh pengamat masalah perempuan dan jender melalui berbagai seminar dan diskursus yang diselenggarakan beberapa tahun terakhir ini.  Melalui buku-buku tersebut, Mernissi menggugat penafsiran ayat-ayat Qur’an mengenai hijab, hak waris dan sebagainya. Mernissi juga mengkritisi hadits-hadits yang disebutnya benuansa “misoginis” (kebencian terhadap perempuan).

Sebagai seorang aktivis feminis yang kontroversial, Mernissi dipuji setinggi langit dengan penuh nada kekaguman oleh sesama aktivis feminis, mereka memuji tulisannya,  dan menjadi ‘idola’ baru kaum feminis. Bukunya jadi acuan, tidak saja di kalangan feminis sendiri, tapi juga di kalangan muslim pemerhati masalah-masalah  jender secara umum. Melalui buku-bukunya yang semula diterbitkan dalam bahasa Perancis, kemudian bahasa Inggris, buku-bukunya  tersebar ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dan ia menjadi terkenal di banyak negara dimana feminisme berkembang.
Dari berbagai kritik terhadap Mernissi, salah satunya adalah ia sama sekali tidak menuliskan bukunya dalam bahasa Arab. Padahal apa yang menjadi pokok bahasannya adalah tentang permasalahan-permasalahan tentang perempuan di dalam Islam, yang bersumber dari inti ajaran Islam, yaitu Al Quran dan As Sunnah yang aslinya berbahasa Arab. Pengeritiknya menganggap Mernissi khawatir apabila karyanya ditulis berbahasa Arab, semua argumentasi Mernissi yang ngawur dengan mudah akan dipreteli oleh ahli-ahli tafsir dan hadits.

Mernissi menulis buku-bukunya dengan bahasa yang cukup sederhana, bergaya novelis, bahkan terkadang puitis, dan lebih banyak bercerita tentang dirinya. Salah satu yang membuat ia terluka adalah saat ia gurunya membacakan hadits “ Nabi mengatakan bahwa anjing, keledai dan perempuan akan membatalkan shalat seseorang bila ia melintas di depan mereka, menyela dirinya di antara orang yang shalat dan kiblat…” Perasaannya sangat terguncang mendengar hadits semacam itu. “Bagaimana mungkin Nabi dapat mengatakan hal yang sangat melukai diri saya”, tuturnya. Itulah mengapa Mernissi mulai menggali dan mengkritisi hadits-hadits yang menunjukan nuansa kebencian terhadap perempuan.

Dan hadits tersebut memang diragukan karena ada hadits yang menjelaskan bahwa saat Nabi Saw shalat,  kaki beliau tidak sengaja menyentuh ‘Aisyah yang tertidur di dekatnya dan Nabi Saw tetap meneruskan shalatnya. Imam As Syafi’i menyatakan perempuan tidak membatalkan shalat, hanya dapat mengurangi kekhusyu’an, sedangkan  Imam Ahmad menyatakan bahwa shalat memang batal dengan melintasnya anjing hitam, tetapi tidak karena perempuan, karena bertentangan dengan hadith `Aisyah tersebut.

Bagi sebagian orang Mernissi adalah seorang feminis, perempuan hebat dengan pemikiran yang brilian. Namun bagi sebagian lainnya Mernissi dianggap sebagai perempuan yang lancang mempertanyakan apa yang kaum muslim telah percayai selama ini. Para femisis bersikukuh memeluk agama Islam sementara pada waktu yang sama mereka mengejek dan mencaci maki agama yang Islam dan mengagung-agungkan agama lain yang nyata-nyata memusuhi Islam.

Pengantar : Epistemologi Feminisme sebagai Kritik terhadap Positivisme

Feminisme lahir ketika umat manusia tengah mengalami frustrasi berat terhadap janji ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial. Kita telah menyaksikan ilmu-ilmu sosial mengalami krisis. Krisis ilmu-ilmu sosial terjadi akibat kegagalan ilmu-ilmu sosial dalam mencapai visinya yakni terciptanya suatu tatanan masyarakat adil, makmur. bahagia, dan sejahtera. Seharusnyan Ilmu sosial dikembangkan dalam rangka membantu umat manusia untuk membangun relasi sosial yang lebih adil, suatu relasi sosial tanpa eksploitasi, suatu masyarakat tanpa dominasi dan hegemoni, yaitu masyarakat tanpa kekerasan dan tanpa diskriminasi.

Namun, kita menyaksikan proses dehumanisasi, konflik sosial, dominasi dan kekerasan berbasis gender, dan berbagai bentuk diskriminasi rasial, keyakinan agama, marginalisasi terhadap kaum miskin dan kaum pinggiran, penggusuran kaum miskin, serta pelbagai bentuk ketidakadilan sosial lainnya. Ilmu-ilmu sosial seperti tidak peduli dan menjadi tidak relevan terhadap pelbagai proses dehumanisasi yang justru semakin meningkat.

Kalau demikian, tidak terlalu salah jika orang mulai pesimis menganggap bahwa ilmu sosial kita telah gagal mencapai visinya. Rasa frustrasi dan kekecewaan terhadap ilmu-ilmu sosial, terutama epistemologi dari positivisme. Dekade frustrasi dan kekecewan ini telah membangkitkan semangat para pemikir ilmu sosial untuk mencari epistemologi dan paradigma alternatif. Menguatnya rasa frustrasi akan kegagalan epistemologi dan paradigma ilmu-ilmu sosial dominan selama ini  melahirkan alternatif paradigma, di antaranya juga melahirkan epistemologi feminisme yang tengah mencari peluang untuk menjadi pengganti cara berpikir berdasarkan teori modernisme, positivisme, dan pelbagai teori sosial dominan yang ada. Teori ilmu-ilmu sosial ternyata selain tidak relevan bagi pengalaman penindasan kaum perempuan, juga justru menjadi pelanggeng terhadap berlanjutnya ketertindasan dan dehumanisasi kaum perempuan. Oleh karena itu, teori dan paradigma ilmu-ilmu sosial yang ada bukan saja tidak memberikan harapan akan terjadinya sistem sosial yang manusiawi bagi kaum perempuan, namun justru teori dan paradigma ilmu-ilmu sosial yang ada adalah bagian dan sumber masalah penindasan terhadap kaum perempuan. 

Para positivis menyatakan bahwa ilmu sosial harus bersifat objektif, padahal epistemologi feminisme justru lahir dari pengalaman subjektif kaum perempuan atas diskriminasi dan sejarah panjang penindasan mereka yang hanya bisa dirasakan dan dipahami oleh kaum perempuan sendiri. Tanpa subjektivisme ilmu sosial akan gagal menegakkan komitmen dan cita-cita keadilan sosial. Ilmu-ilmu sosial positivisme juga mulai menerapkan kriteria “netralitas” sebagai ukuran untuk kriteria iimu sosial. Padahal epistemologi feminisme justru mengembangkan pengetahuan mereka berdasarkan “pemihakan” dan “pembelaan” atas perempuan yang mengalami penindasan dari sistem diskriminasi terhadap kaum perempuan. Kaum feminis dalam mengembangkan epistemologi mereka justru berangkat dan pendirian personal is political sehingga epistimologi yang dikembangkan selain subjective juga “berpihak” terhadap kaum tertindas.

Dalam fenomena dunia yang penuh dengan ketidakadilan sosial dan gender, justru sifat netralitas ilmu sosial membuat ilmu sosial menjadi tidak relevan, dan bahkan ilmu sosial menjadi bagian dari masalah. Kesulitan lain bagi ilmu-ilmu sosial untuk menerima epistemologi feminisme adalah persyaratan akan “universalitas” dan epistemologi teori-teori ilmu sosial modern yang diwariskan oleh pendirian positivisme saat ini. Padahal, epistemologi feminisme justru berangkat dari pengalaman kaum perempuan sendiri, di mana setiap perempuan atau setiap kelompok perempuan menghadapi susana penindasan dan strategi bebas dan penindasan yang berbeda sesuai dengan budaya penindasan masing-masing komunitas.Oleh karena itu, “universalitas” mustahil diterapkan dalam ilmu sosial yang menggunakan epistemologi feminisme.

Kaum feminis dalam mengembangkan epistemologi feminisme, dan dalam mengembangkan teori sosial yang mereka bangun, justru berangkat dari nilai-nilai yang kuat akan keadilan, kesetaraan, dan kemanusian. Justru berdasarkan nilai-nilai akan keadilan itulah epistemologi feminisme dikembangkan. Tanpa nilai apa-apa, ilmu sosial menjadi tanpa tujuan. Dengan demikian, tugas ilmu sosial, bagi kaum feminis, tidaklah sekadar berteori untuk memahami realitas sosial ataupun relasi sosial dan relasi gender di masyarakat. Tugas ilmu sosial dalam perspektif feminisme adalah mengubah dunia menjadi tempat yang lebih adil bagi penghuninya, baik adil bagi kaum lelaki maupun kaum perempuan. Termasuk dalam bidang agama.

Tentang M.E. Fuady

ME. Fuady adalah dosen Fikom Unisba. Penulis memiliki minat pada banyak hal seperti makanan, tempat kuliner, komik, film, musik, dorama, tokusatsu, ilmu komunikasi, public relations, teknologi komunikasi, agama, mistik, supranatural, dan semuanya berbaur dalam blog IMULTIDIMENSI.
Pos ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s